Newsroom Blog

Calon Gubenur Jakarta 2012: Tak Sayang atau Tak Kenal?

Entah ungkapan mana lebih pas bagi warga Jakarta mengenai calon gubernur mereka: “Tak kenal maka tak sayang” atau justru “Ogah kenal karena tak sayang”. Yang jelas, para calon gubernur Jakarta perlu putar otak tujuh keliling lagi.

Pasalnya, survei baru-baru ini yang dilakukan Pusat Kajian Politik FISIP Universitas Indonesia (Puskapol UI)  menunjukkan, 64 persen responden belum mengetahui nama-nama pasangan calon gubernur DKI Jakarta 2012. Lebih parah lagi, 65 persen responden bahkan tidak mengetahui jumlah pasangan yang akan bertanding.

Memang, dengan banyaknya pilihan kandidat yang dalam pemilihan gubernur kali ini, warga Jakarta seperti mendapat tambahan pekerjaan rumah. The paradox of choice, cetus psikolog Barry Schwartz. Semakin banyak pilihan, semakin sulit kita memilih.

Beragam media lantas dijajal tim sukses para kandidat untuk bisa menjangkau warga Jakarta, dari cara konvensional hingga yang terkini.

Poster-poster Hidayat-Didik dan Alex-Nono sudah melekat di tiang listrik hingga tembok bangunan. Sesekali mobil Foke-Nara yang diselimuti cat oranye melintas di jalanan Jakarta. Jokowi-Ahok, yang setia dengan kemeja kotak-kotaknya, juga sudah menyebarkan koran mereka Jakarta Baru.

Acara-acara besar mendadak ramai mewarnai kota. Beberapa di antaranya dengan motivasi menyambut ulang tahun Jakarta. Para calon gubernur tak pernah absen melaporkan kegiatan-kegiatan terkini yang melalui akun Twitter dan situs resmi mereka.

Di salah satu acara, Fauzi Bowo malah sempat menunjukkan bakatnya sebagai penyair jenaka dengan berpantun canda,  "Eh ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin, eh pilih bang kumis aja, yang lain jangan dipikirin."

Bagi kawula muda pecinta musik, tersedia lagu-lagu persembahan dari para kandidat. Ada lagu pendukung Faisal-Biem yang bernuansa akustik dengan iringan gitar ala Iwan Fals,  ada pula lagu hip-hop yang menyuarakan dukungan untuk Foke-Nara berjudul “Foke Lah Kalo Begitu”. Tak ketinggalan, lagu pendukung Jokowi-Ahok yang mengusung musik dangdut.

Mengoleksi testimoni juga jadi salah satu cara merebut hati pemilih. Faisal-Biem misalnya, mengumpulkan puluhan testimoni, antara lain dari Tompi, Glenn Fredly, Effendi Ghazali, Marco Kusumawijaya, dan Pandji Pragiwaksono.  

Jokowi-Ahok, di situs resminya, menampilkan dukungan dari Eep Saefulloh Fatah, Prabowo Subianto, hingga Bimbim Slank.

Dengan beragamnya produk kampanye yang sudah ada, cukup mengherankan banyak warga Jakarta yang masih belum khatam dengan nama-nama kandidat. Para calon gubernur tampaknya perlu menyiapkan berbagai produk kampanye menarik lainnya.

Mungkin mereka perlu menyumbangkan suara di “Dahsyat” atau tampil sejenak di salah satu sinetron kesayangan ibu-ibu. Atau ada usulan lain yang lebih masuk akal?

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.