Newsroom Blog

Change.org, Sarana Perubahan Lewat Ujung Jemari

Siapa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata “perubahan”? Sebaris tentara bersenjata? Seribu mahasiswa bersuara lantang?

Di era digital ini, tokoh perubahan itu bisa jadi bukan lagi mereka, melainkan kamu sendiri. Tidak perlu macam-macam. Cukup berbekal jemari dan koneksi, lalu beberapa klik pada mouse sambil minum kopi, maka kamu bisa berpartisipasi melakukan perubahan, tanpa perlu susah-payah turun ke jalan.

Aktivisme lewat internet (click activism) semacam inilah yang kemudian dikembangkan Change.org, sebuah perusahaan sosial tersertifikasi yang menggunakan kekuatan bisnis untuk misi sosial — demikian yang tertulis dalam situs resminya — untuk mengubah dunia.

Portal Change.org adalah sebuah platform petisi online, yang bertujuan memberdayakan siapa saja yang ingin menciptakan segala perubahan yang ingin mereka lihat. Dari anak-anak belasan tahun hingga ibu rumah tangga; dari masalah jalan rusak di depan rumah hingga masalah penggusuran pedagang.

Para pencetus petisi dapat menulis pernyataan mereka dan, bersama-sama dengan direktur kampanye Change.org, menghimpun “tanda tangan” pendukung petisi di jejaring sosial. Pada setiap dukungan yang terkumpul, akan masuk satu surat elektronik yang ditujukan kepada pihak yang menjadi sasaran tuntutan petisi. Bisa dibayangkan, jika ada ribuan orang yang menandatangani petisi tersebut, maka akan ada bom surat elektronik yang masuk ke kotak surat pihak yang dituju.

Tentu muncul keraguan atas aktivisme-dari-ujung-jemari semacam ini. Yanuar Nugroho, seorang dosen dan peneliti di University of Manchester, contohnya, pernah menuliskan pentingnya keterlibatan pada dunia nyata, ketimbang aktivisme di depan layar belaka.

“...ada jarak yang jauh antara menekan tombol ‘like’ atau ‘attending’ pada halaman Facebook atau invitasi perkumpulan maupun pertemuan publik, dan menghabiskan waktu serta usaha untuk betul-betul ikut serta dalam perkumpulan atau pertemuan publik — baik itu pada siang yang terik, ataupun saat hujan deras,” demikian Yanuar.

Namun demikian, Change.org, yang hadir di Indonesia sudah sembilan bulan, telah beberapa kali menunjukkan bahwa kekuatan klik itu sendiri tidak bisa disepelekan.

Beberapa contoh sukses: Ketika Maftuh Basyuni, Ketua Satgas TKI, mengatakan bahwa kekerasan yang dialami pekerja migran bersumber dari sikap mereka sendiri, dia dituntut meminta maaf. Ada 5200 tuntutan mengalir lewat Change.org kepada Satgas TKI dan Presiden SBY. Maftuh Basyuni akhirnya meminta maaf kepada para pekerja migran.

Jalan Raya Muncul, Serpong, menjadi saksi kemenangan lainnya. Jalan yang sempat rusak parah akibat sering dipadati kendaraan-kendaraan berat ini akhirnya diperbaiki oleh Pemerintah Daerah Tangerang Selatan — dalam tempo tiga bulan setelah petisi online dimulai oleh seorang warga.

Petisi lainnya yang mendapatkan dukungan besar adalah petisi yang meminta pemberhentian dukungan kepada sirkus lumba-lumba. Petisi ini mendapatkan lebih dari 90.000 pendukung. Retail-retail besar seperti Carrefour, Hero, Giant, dan Lottemart pun berhenti menyediakan lahan tempat parkir untuk sirkus ini. Garuda Indonesia juga berjanji untuk tidak mengangkut lumba-lumba sirkus ini di pesawatnya.

Keberhasilan Change.org di Indonesia tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung. Salah satunya adalah kekuatan Indonesia sebagai tiga besar dunia pengguna media sosial terbanyak.

“Ketika mulai di Indonesia, kami memiliki sekitar 8000 anggota. Sekarang, lebih dari enam bulan kemudian telah melewati 140.000 orang. Ini menunjukkan bahwa orang telah menunggu untuk memungkinkan impian menjadi kenyataan dengan memulai, bergabung, dan memenangi kampanye sosial,” ujar Usman Hamid, Direktur Kampanye Change.org Indonesia.

Tetapi ada juga petisi yang tidak berhasil. Misalnya petisi yang dibuat dibuat oleh Siti Roebaida, istri Wakil Wali Kota Magelang Joko Prasetyo, yang menuntut hak bertemu anak-anaknya sendiri. Siti sebelumnya dipukuli oleh Joko di depan putri sulung mereka, dan dipaksa berpisah dengan anak-anak. Sampai saat ini, Siti belum berhasil mendapatkan haknya.

Nasib sama terjadi juga pada petisi “Batalkan Pembangunan 6 Jalan Tol Dalam kota Jakarta” yang mendapatkan 3.867 pendukung — kurang 1.133 dari target. Sekalipun telah mendapat tekanan dari petisi dan juga berbagai pihak, Jokowi sampai sekarang masih menyatakan setuju bersyarat atas pembangunan enam ruas jalan tol.

Berkaitan dengan ini, Yanuar mengingatkan bahwa aktivisme media sosial tidak bisa berdiri sendiri dalam konteks perubahan sosial, dan perubahan sosial tidak bisa dicapai hanya dengan petisi.

“Hakikat warga adalah ‘terlibat aktif’ dan 'berpartisipasi'. Ide Change.org penting untuk menumbuhkan kepedulian dan partisipasi minimum warga, tapi itu saja jelas tidak cukup,” jelas Yanuar.

Lantas, sejauh manakah Change.org di Indonesia mampu mewujudkan perubahan yang ingin kita lihat? Sekuat apa ujung jemari kita mampu meneriakkan dan menyalurkan aspirasi demi perbaikan? Waktu yang akan menjawab.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.