Newsroom Blog

Dari Berlin: Komunitas dan Ruang Bersama

Di Berlin pekan lalu, pada konferensi tentang seni dan kelestarian (sustainability) Radius of Art, salah satu yang muncul sebagai harapan yang kuat adalah komunitas.

Konferensi ini berlangsung pada 8-9 Februari 2012 dan menghadirkan 19 pembicara. Antara lain mantan walikota Bogota yang sempat jadi calon presiden Kolumbia, Antanas Mochus, dan seniman senior Italia Michelangelo Pistoletto. Saya sendiri bertugas sebagai salah satu dari empat perangkum di babak terakhir.

Harapan akan komunitas tampak muncul sebagai sesuatu yang wajar, karena untuk berubah ke arah abad ekologi diperlukan perubahan nilai-nilai secara luas dan mendalam serta mengakar. Komunitas rupanya dirasakan sebagai tempat yang strategis untuk itu.

Tambahan pula, komunitas memungkinkan penggalian nilai-nilai lama yang terlupakan atau tertekan, yang sebenarnya mendukung kelestarian. Ketika masyarakat harus berubah menyongsong abad ekologis, ada semacam keharusan untuk menyemai dan menuai nilai dan kebiasaan lama menjadi "baru" di dalam komunitas, dan menawarkannya kepada masyarakat dunia.

Ternyata di seluruh dunia, termasuk di Berlin dan Bogota, ada semacam gerakan menghidupkan kembali ruang-ruang komunitas. Di Neu Koln, Berlin, ada beberapa proyek menghidupkan ruang bersama yang mati. Ini dengan sendirinya merajut kembali komunitas yang memakainya dan menjadi saling kenal kembali.

Seorang peserta dari Palestina, arsitek-urbanis Alessandro Petti, membedakan ruang bersama/komunitas (common space) dari ruang publik (public space). Ia mengatakan, salah satu masalah besar orang Palestina di Yerusalem adalah hilangnya ruang-bersama, karena telah diambil alih oleh negara Israel yang mengubahnya menjadi ruang publik.

Menurut saya, pembedaan konseptual antara ruang bersama dan ruang publik bagus dan penting sekali. Kita melihat di mana-mana ruang publik menurun kualitasnya karena ketidakmampuan negara mengurusnya dan/atau komunitas tidak merasa memilikinya, tidak mengurusnya, dan bahkan tercerai-berai, tidak guyub.

Bukankah kita merasakan hal ini juga di Jakarta dan banyak kota lain di Indonesia? Sebaliknya, kita merasakan ruang kota yang berhasil adalah yang dihidupi oleh komunitas. Yang terakhir inilah yang diupayakan oleh beberapa kota yang kini dianggap "baik". Antara lain Balikpapan dan Surakarta.

Selain komunitas dan ruangnya yang hidup kembali karena diambil alih oleh masyarakat dari negara, ada komunitas yang memang sudah hidup dan mudah berkembang karena justru "jauh" dari negara. Di pedalaman daerah aliran sungai Amazon, Brazil, komunitas memperkuat dirinya, dan menghidupi kembali nilai-nilainya dengan kegiatan seni. Ini kira-kira sama dengan yang dilakukan oleh Tanto Mendut dengan Komunitas Lima Gunung.

Saya kira masa depan negara yang lestari sangat tergantung pada kemampuan negara-bangsa untuk merangkul kembali konsep komunitas dan ruang bersama. Beberapa kenyataan belakangan ini menunjukkan keterbatasan yang serius dari negara yang sudah terlalu banyak mengambil alih tugas-tugas komunitas.

Bukan saja konsep negara-bangsa harus menempatkan kembali komunitas pada ruang yang layak, tetapi juga memiliki kebijakan untuk menggalakkan dan mengambil inspirasi darinya. Tapi, mungkin kita perlu melihat lebih dalam kemungkinan pertentangan antara komunitas dan konsep negara-bangsa.

Marco Kusumawijaya adalah arsitek dan urbanis, peneliti dan penulis kota. Dia juga direktur RujakCenter for Urban Studies dan editor http://klikjkt.or.id.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.