Ekspedisi Mengabadikan Burung-burung Surga

Newsroom Blog


Selama 8 tahun sejak 2004, fotografer dan peneliti Tim Laman bersama dengan ornitolog Edward Scholes mengelilingi Papua, Papua Nugini, sebagian Australia barat, Halmahera, dan Kepulauan Aru, untuk mencari 39 spesies 'birds of paradise' atau burung-burung cendrawasih.

Tujuan mereka, melakukan pendokumentasian modern atas burung-burung cendrawasih di habitatnya. Mereka mengambil foto akan gaya-gaya unik yang dilakukan burung jantan untuk menarik perhatian para betinanya.

Laman dan Scholes juga merekam gaya-gaya burung jantan ini 'menari' dan menampilkan bulu-bulu mereka yang indah dalam rangka memikat si betina, selain juga merekam suara-suara yang dibuat oleh burung-burung ini.

Jika dicatat dalam angka, ekspedisi yang dilalui Laman dan Scholes membutuhkan 200 penerbangan komersil, 58 perjalanan dengan perahu, dua kali hanyut di lautan, 33 kali naik helikopter, 18 ekspedisi, untuk mengunjungi 51 situs lapangan.

Saking terpencilnya tempat yang didatangi Tim Laman dan Edward Scholes, mereka harus melakukan perjalanan selama 5 hari untuk mencapai rumah sakit dan melakukan bedah Scholes menderita usus buntu.

Total mereka menghabiskan 2006 jam mendokumentasikan 39 spesies burung cendrawasih, 544 hari berada di lapangan, dan melakukan 146 pemanjatan pohon. Hasilnya adalah 39.568 foto dari spesies-spesies unik ini.

Saat mempresentasikan temuannya di auditorium at America, Pacific Place, Jakarta Selatan, Kamis (22/8) lalu, Laman memutar beberapa video singkat yang menampilkan ritual kawin burung-burung cendrawasih ini. Apa yang ia lakukan, menurutnya, bukanlah sesuatu yang istimewa. Selama beratus-ratus tahun, peneliti lain sudah mendokumentasikan burung-burung cendrawasih ini. Salah satu yang paling terkenal adalah Alfred Russel Wallace yang datang ke Wokam, Kepulauan Aru pada 1857 untuk mendokumentasikan burung cendrawasih di sana.

"Jika Anda pergi ke museum di Bogor, New York, atau London, spesies-spesies burung cendrawasih ini bisa Anda temukan, dalam bentuk kulit atau awetan. Saya hanya yang memfoto semua spesies burung ini dalam keadaan hidup, melakukan versi modern dari pendokumentasian keanekaragamanhayati," kata Laman.

Laman menyebut bahwa 'birds of paradise' atau burung cendrawasih bisa menjadi spesies utama yang kharismatik untuk menjadi simbol perlindungan suatu wilayah, dalam hal ini untuk melindungi hutan Papua, seperti halnya orangutan menjadi simbolik terhadap perlindungan hutan Kalimantan.

"Dari 39 spesies burung cendrawasih, 27-nya ditemukan di Indonesia. Ini seharusnya bisa menjadi alasan kuat agar orang sadar akan sumber daya yang luar biasa berharga di hutan Indonesia dan kemudian melindungi habitat burung-burung cendrawasih ini."

Perburuan burung cendrawasih memang menjadi masalah, kata Laman, dan harus dihentikan. Namun, perdagangan yang terjadi sekarang hanya menyasar burung-burung cendrawasih berbulu bagus, alias jantannya, sehingga tak terlalu mengganggu keseimbangan populasi mereka. Alasannya, setelah kawin, si betinalah yang membangun sarang dan membesarkan bayi burung itu sendirian, tanpa campur tangan si jantan. Yang menjadi ancaman adalah tekanan dari penebangan hutan dan pertambangan di sekitar habitat burung-burung cendrawasih.

Jika burung-burung ini dan habitatnya terlindungi, maka kehidupan lain di hutan tersebut (serangga dan tanaman yang kaya jenisnya) juga akan ikut terlindungi.

Sampai sekarang, hanya ada 3 spesies burung cendrawasih yang masuk daftar merah 'endangered' dan ketiganya ada di Papua Nugini. Di Indonesia, ada 3 spesies burung cendrawasih yang masuk daftar 'nearly threatened' atau nyaris terancam.

Tarian si jantan
Tim Laman bersama dengan Edward Scholes asalnya mendokumentasikan ritual kawin burung-burung cendrawasih ini untuk proyek majalah National Geographic. Pada Juli 2007, liputan mereka bertajuk "Feathers of Seduction" pun diterbitkan.

Saat itu, mereka sudah memotret dan merekam 20 spesies, dalam jangka waktu tiga tahun mereka menghabiskan 5 bulan di Papua Nugini dan 5 bulan juga di Papua. Kenapa butuh tiga tahun? Karena tak sepanjang tahun mereka bisa melihat burung-burung itu, ada periode khusus di mana burung-burung itu bisa mereka lihat, selain juga mereka memiliki proyek-proyek penelitian lain.

Mereka kemudian berpikir, kenapa tidak mencari pendanaan dan mendokumentasi semua 39 spesies cendrawasih yang ada? Akhirnya selama lima tahun berikutnya, Laman dan Scholes terus-terusan mendokumentasi 19 spesies yang belum mereka temukan.

Yang unik dari karakteristik burung cendrawasih tentu adalah bulu-bulunya. Hanya burung jantanlah yang memiliki bulu-bulu dengan kecantikan luar biasa itu. Fungsinya, hanya demi memikat si betina.

Si betina biasanya tak berbulu istimewa, hanya coklat biasa. Mereka akan menetaskan satu butir telur, membesarkan anaknya sendiri, termasuk membangun sarang tanpa bantuan si jantan.

Dalam presentasinya, Laman menunjukkan video berbagai ritual kawin burung cendrawasih yang unik. Spesies Wilson's Bird-of-Paradise di Waigeo dan Batata, Papua Barat, misalnya. Burung ini memiliki tengkorak berwarna biru, bulu kuning dan merah di punggungnya, serta buntut terdiri dari dua bulu yang bentuknya melingkar.

Ia memikat si betinanya dengan cara bersih-bersih, memindahkan setiap daun yang ada di wilayah kekuasaannya. Siapa yang bisa paling bersih menjaga rumahnya, itulah yang akan dipilih si betina.



































 

Ada juga Western Parotia yang menampilkan tarian dengan rok bulu-bulunya yang hitam, seperti tutu hitam seorang ballerina, untuk memikat si betina. Bahkan ada 'kursi penonton' agar si betina bisa melihat aksi tarian si jantan ini.


Kebiasaan unik lain dilakukan oleh Twelve-wired Bird-of-Paradise yang ditemukan di Nimbokrang, Indonesia. Di bagian belakang burung ini, ada 12 antena yang mencuat yang awalnya tak diketahui apa fungsinya. Baru setelah terjadi ritual kawin, Laman melihat sendiri apa fungsi 12 antena itu, untuk menggoda si betina dengan cara 'menyikat' tubuh si burung betina.


Magnificent Riflebird dari Tanjung Vogelkop, Papua Barat, akan terlihat seperti burung hitam biasa, meski memiliki sekilas warna biru di lehernya. Namun kehebatannya memikat baru terlihat saat si betina muncul. Dia akan membentangkan kedua sayapnya selebar mungkin sambil melakukan tarian dan mendekati si betina.

 



Burung-burung cendrawasih ini, menurut Laman, cukup kharismatis untuk jadi objek wisata tersendiri. Lewat proyek ini, ia berharap semakin banyak orang yang tertarik mengetahui bahkan melihat mereka secara langsung sehingga ada dorongan untuk melindungi habitat berbagai spesies cendrawasih.

Ia tak khawatir turis dan pariwisata akan menimbulkan tekanan baru buat habitat cendrawasih. Alasannya, aktivitas mengamati burung adalah turisme skala kecil. Hanya sedikit orang yang bersedia mengeluarkan uang banyak untuk pergi ke desa-desa terpencil dan membayar pemandu lokal untuk melihat burung-burung cantik ini. "Aktivitas ini sudah terjadi dan bisa menjadi sumber pemasukan alternatif buat penduduk desa daripada mereka berburu atau menjual hutan mereka ke pertambangan atau perusahaan kayu," kata Laman.