Newsroom Blog

Empat Bulan Kemudian

Lokasi tabrakan mobil Xenia B2479XI, yang menewaskan 9 pejalan kaki. TEMPO/Aditia Noviansyah

Tanggal 22 Januari 2012, sembilan pejalan kaki meninggal karena ditabrak mobil di Gambir. Selama satu bulan sesudahnya masyarakat cukup heboh membahas hal ini. Antara lain, mereka menuntut perbaikan sistem trotoar.

Ada banyak masalah ditampilkan: serbuan sepeda motor dan mobil ke atas trotoar, kualitas trotoar yang buruk, lebar yang kurang, perlindungan yang kurang, dan lain-lain. Yang penting juga muncul berbagai gerakan masyarakat yang melakukan aksi maupun kampanye media sosial seperti melalui akun Twitter @jalankaki.

Tuntutan masyarakat pada dasarnya menginginkan suatu program terpadu yang terdiri dari setidaknya tiga hal pokok:

1. Jalur trotoar yang secara fisik aman, nyaman, lebar mencukupi dan menyambung di seluruh kota.
2. Sistem angkutan umum yang baik, karena sangat terkait dengan sistem trotoar
3. Suatu peringatan (barangkali berupa tugu kecil di lokasi kejadian) yang bukan sekadar bermakna simbolis, tetapi menjadi alat pengingat yang penting, karena membangun kedua sistem di atas akan memakan waku panjang dan memerlukan dorongan kuat terus-menerus.

Dalam bulan pertama itu pemerintah juga tidak tinggal diam. Gubernur Fauzi Bowo berkali-kali menyatakan akan melakukan suatu program perbaikan. Beberapa waktu yang lalu juga ada sesuatu yang disebut Festival Pejalan Kaki (?).

Tetapi, sekarang ini, empat bulan kemudian, apa perubahan yang sudah kita dapatkan atau lihat nyata di Jakarta?

Saya pribadi tidak melihat atau mengetahui ada sesuatu yang berarti dalam empat bulan ini. Apakah ada para pembaca yang melihat atau mengetahui sesuatu yang sedang atau sudah dikerjakan oleh pemerintah terkait tuntutan-tuntutan di atas? Kalau ada, baik juga kita saling berbagi.

Kalau belum ada, perlu kita memikirkan strategi menekankan terus-menerus tuntutan akan perbaikan itu, karena sangat mendasar bagi kehidupan kota yang baik. Kita juga kini menghadapi fakta bahwa jabatan gubernur yang sekarang akan segera berakhir. Ada gagasan bagaimana meneruskan ini kepada para calon gubernur yang sedang hangat berkampanye?

Yang sangat perlu ditekankan adalah bahwa sistem angkutan umum itu sangat perlu terpadu dengan sistem jalur trotoar (dan juga ruang terbuka lainnya, termasuk taman-taman kota). Perbaikan sepotong-sepotong trotoar tidak akan berguna banyak bila tidak diikuti dengan perbaikan sistem angkutan umum, terutama bus, dalam rangka memperbaiki kehidupan kota secara keseluruhan.

Marco Kusumawijaya adalah arsitek dan urbanis, peneliti dan penulis kota. Dia juga direktur RujakCenter for Urban Studies dan editor http://klikjkt.or.id

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.