Newsroom Blog

Geliat Pemilihan Gubernur Jakarta di Daerah Lain

Geliat Pilkada DKI Jakarta di Daerah Lain

Pergi jauh ke Waingapu, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, membuat saya berpikir dapat menghindar dari gemerlap Pilkada DKI Jakarta. Yang terjadi di tempat berjarak 1500 kilometer dari Jakarta itu justru sebaliknya.

Kisah pemilihan gubernur Jakarta putaran kedua rupanya telah menjadi semacam drama yang banyak ditonton dan dibicarakan, bukan hanya oleh warga Jakarta, tetapi juga oleh warga berbagai daerah di Indonesia. Di Waingapu, hampir setiap orang yang saya temui, 22 September lalu, membicarakan kisah kemenangan (menurut versi hitung cepat) Jokowi-Ahok melawan Foke-Nara.

Mereka bukan hanya mengetahui hasil akhir, tetapi juga mengikuti keseluruhan prosesnya. Termasuk debat publik yang disuguhkan di layar televisi. Pastor Jack Umbu Warata, misalnya, begitu piawai menirukan “Haiya, Ahok!”, sapaan Nara kepada Ahok di dalam salah satu kesempatan debat publik.

Joko Widodo bisa dikatakan sebagai tokoh utamanya. Jokowi, dengan karakter yang sederhana dan “merakyat”, menempatkan dirinya sebagai sosok antitesis dari sang petahana, Fauzi Bowo.

Rupanya, citra itu mampu mencuri hati masyarakat di berbagai daerah.

“Kemarin saya pergi ke Kupang dan Kodi, semua orang mendukung Jokowi,” ujar Rano Nedy, Rektor sebuah asrama katolik di Sumba Timur. “Kalau Pilkada DKI Jakarta ini yang pilih seluruh rakyat Indonesia, kami akan memilih Jokowi.”

Padahal, tidak banyak warga di daerah luar Jawa yang mengenalnya sebelum ini. Rambu Dai Mammi, seorang warga Waingapu, mengakui, “Saya baru tahu Jokowi sejak berita Mobil Esemka.” Tetapi sejak menjadi cagub DKI Jakarta, popularitas Jokowi menanjak drastis.

Berdasarkan penuturannya, banyak juga yang menjadikan Pilkada DKI Jakarta sebagai bahan taruhan. Walaupun mereka tidak datang ke Jakarta, manis hambar gula-gula ibukota tetap dapat dirasakan.

Ekspos media terhadap Pilkada DKI Jakarta yang sangat besar, ketimbang misalnya pilkada Kalimantan Barat yang berlangsung di hari yang sama, bisa jadi salah satu penyebab efek Jokowi menyebar hingga ke berbagai daerah.

Tetapi, bukan berarti Pilkada DKI Jakarta sekadar menjadi hiburan belaka bagi masyarakat luar Jakarta. Setidaknya, menurut Rano Nedy, ada beberapa pelajaran bagi daerah-daerah lain.

Pilkada kali ini adalah pengalaman pertama bahwa orang luar Jakarta bisa mendapatkan kesempatan menjadi kandidat Gubernur DKI Jakarta, bahkan mendapatkan kepercayaan dari mayoritas warga Jakarta, versi hitung cepat.

Dan yang terpenting baginya, Warga DKI Jakarta telah selangkah lebih maju menjadi pemilih yang dewasa dan rasional. Hal ini masih sangat kontras dengan pilkada di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia, yang masih sangat sensitif dengan perbedaan suku, agama, dan ras.

“Di kampung-kampung Sumba, tingkat kekerabatan keluarga dan status (bangsawan atau rakyat biasa) sangat mempengaruhi pemilihan. Selisih suara antar kandidat di dalam satu kampung bisa hanya satu persen,” tutur Adolof Umbu Teul, juga seorang warga Waingapu.

Bagaimana dengan geliat Pilkada DKI Jakarta di daerah asal Anda? Ceritakan melalui kolom komentar di bawah ini.

Robin Hartanto adalah warga Jakarta yang, sama seperti warga biasa lainnya, menghabiskan separuh hidupnya di jalan sambil berkicau di Twitter. Baginya, hidup adalah seri kejadian yang, tanpa diduga, saling bertautan. Berkat cita-citanya sebagai arsitek, misalnya, ia sekarang bekerja sebagai penulis serabutan.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.