Gita Wirjawan: "I'm Here to Make It"

Salah satu kandidat capres dalam Konvensi Partai Demokrat, Gita Wirjawan, datang ke kantor Yahoo Indonesia, Jumat (17/1) lalu. Kami mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada Gita Wirjawan lewat akun Twitter Yahoo Indonesia dan Answers.

Pertanyaan-pertanyaan Anda kami saring untuk diajukan ke Gita Wirjawan. Beberapa ada yang bertema sama sehingga tak kami tampilkan nama penanyanya. Berikut wawancara lengkapnya.


 
Gita Wirjawan: Background saya profesional, akuntan publik, bankir, pengusaha. Saya juga mengurusi beberapa hal di luar profesi seperti PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia).

Sebagai Menteri Perdagangan, empat tahun di pemerintah, saya lihat apa yang berjalan baik dan apa yang harus diperbaiki ke depan. Saya mengerti yang harus disikapi, usia saya muda. Kesiapan saya sebagai pemimpin berdasarkan prestasi saya bisa di PBSI, Kementerian Perdagangan. Rekam jejak di masing-masing itu bisa dinilai.
 
T: Kualitas kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan Indonesia?
GW: Pertama, kepemimpinan dari rakyat dan untuk rakyat, pemimpin harus mau dan bisa dengar suara rakyat. Kedua, pemimpin harus bisa urun rembuk. Bukan hanya turun tangan, tapi juga mencari jawaban dan solusi untuk kepentingan rakyat. Ketiga, pemimpin bisa memastikan demokrasi bukan hanya terkait suara mayoritas tapi juga bisa memberikan perlindungan terhadap siapapun yang terpinggirkan, nobody is left behind.
 
T: Apakah urun rembuk itu sekarang tak banyak dilakukan?
GW: Urun rembuk sudah dilakukan, ada musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) di level daerah dan nasional. Perencanaan anggaran dana di pusat dan daerah sesuai masukan dari musrenbang. Ke depan, ini harus bisa lebih dikuatkan.

T: Selama empat tahun terakhir ini Anda ada di pemerintahan, apakah kita punya SDM yang baik di pemerintahan?
GW: Kalau dalam konteks BKPM, saya pernah jadi kepala. Saya menaikkan kualitas SDM dalam beberapa dimensi, salah satunya adalah profisiensi bahasa. Tadinya nol, sekarang 89% karyawan TOEFL-nya di atas 600.

Penanaman modal meningkat 25-30% setiap tahun, bukan hanya penanaman modal asing saja, tapi juga penanaman modal dalam negeri. Ini nyata dan berkorelasi dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat luas, dalam ataupun luar negeri, kepada kepemimpinan yang ada di situ, kepada governance yang ada di situ, dan kepada seluruh SDM yang ada di situ. Saya rasa itu cerminan yang nyata.

Di Kemendag, kami mengeluarkan beberapa peraturan menteri yang sangat prorakyat. Minimarket, nggak boleh lebih dari 150, lebih dari itu harus bermitra dengan pengusaha daerah.

Franchise rumah makan, nggak boleh lebih dari 250, lebih dari itu harus bermitra dengan pengusaha daerah. Permendag 70, 80% produk yang dijual di retail modern harus produk dalam negeri. Permendag 32, harga timah yang diekspor harus mengacu ke harga yang ada di bursa berjangka di Indonesia, bukan di London Metal Exchange, bukan di manapun di luar Indonesia. Larangan terhadap eksportasi bahan baku rotan supaya di Cirebon dan sentra produksi lain bisa memberdayakan lapangan kerja yang lebih banyak, sudah ratusan ribu lapangan kerja tercipta.

Ini adalah rekam jejak. Sebagai presiden dia harus memastikan, bukan hanya di BKPM dan Kementerian Perdagangan saja, tapi di sisa kabinet itu. Saya percaya ke depan kabinet itu harus profesional. Harus diisikan oleh teknokrat, jangan bernuansa politik.

T: Berarti kabinet yang Bapak bentuk akan lepas dari keterkaitan partai-partai politik?
GW: Betul. Semaksimal mungkin. Jangan sampai orang yang harus mengurusi hulu atau teknis itu di saat yang sama harus mikirin umbul-umbul dan katering acara partai. Itu harus jelas.

T: Melihat realitas politik, berarti hal itu harus didukung dengan mayoritas partai pendukung?
GW: Tentu. Siapapun yang menang konvensi, Insya Allah saya akan menang, harus diekori dengan kejayaan Partai Demokrat. Kalau tidak akan mempengaruhi pembentukan pemerintahan ke depan. Di saat saya menjadi pemimpin, tidak akan terjadi nuansa politik seperti yang kita lihat selama ini.

Kalau sudah tiba saatnya untuk rakyat melihat, ini pemimpin yang benar, dia harus dikelilingi oleh teknokrat, profesional yang bisa membawa hasil yang lebih baik untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat luas, alhamdulillah.

T: Siapa role model kepemimpinan Anda? Anda ingin menjadi tipe pemimpin seperti apa? Siapa Anda sebagai pemimpin?
GW: Saya duduk di sini dengan rasa hormat terhadap semua pemimpin pendahulu kita. Semenjak mendiang Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur, Bu Mega, dan yang sekarang. Tapi kalau saya harus mengidolakan sosok, ya Mahatma Gandhi muncul di pikiran, karena dia pro-nonviolence dan pro-people.

Nah ini kalau kita melihat prestasi ekonomi kita sudah lumayan oke secara umum. Tapi masih ada barometer2 yang harus diperbaiki. Yang paling harus diperbaiki adalah pemerataan.



GW: Sekarang dengan kenyataan politik yang ada, bukan pertimbangan lagi, kita sudah bisa tumbuh 5,8%. Apalagi kalau kenyataan politik ini bisa diperbaiki, dengan pembentukan kabinet yang teknokratis. Diisikan profesional, bukan orang partai.

Saya yakin, kalau dia lebih fokus, kalau dia lebih mengerti substansinya, pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi daripada 5,8%. Dan itu, dengan pertubuhan ekonomi 5,8% per tahun saja selama 20 tahun ke depan, ekonomi kita mutlak akan menjadi yang ke-7 terbesar di dunia. Sekarang pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah paling cepat nomor dua di kalangan G20 setelah Cina. India, Turki, Korea Selatan, semuanya di bawah kita. Amerika Serikat di bawah kita.

T: Bapak membanggakan jumlah likes di fan page Facebook tembus 1 juta dan follower Twitter bertambah. Bagaimana bapak menerjemahkan itu menjadi sebuah dukungan politik yang nyata? Apakah itu adalah sebuah dukungan politik yang nyata?
GW: Pikiran saya, di Indonesia, masih banyak yang golput. Yang golput 37%, katanya 35-40%, ini menurut saya adalah partai yang paling besar. Dan tingkat golput ini berkorelasi dengan suplai pemimpin. Saya percaya kalau yang maju ini anak muda, tegas, mengerti, bermoral, dan berintegritas, saya yakin sekali tingkat golput ini akan menurun.

Sekarang jembatan komunikasinya mana? Social media. Banyak yang partisipasi di social media ini yang apatis, bahkan sinis terhadap politik. Dia melihat pejabat negara, 'ah korup, nggak kompeten, nggak ngerti.' Ini yang harus dipatahkan.

Saya siap dan sudah melakukan komunikasi ke mereka lewat jembatan komunikasi ini, yaitu social media, untuk menyampaikan ini lho visi, misi gue seperti ini. Dan kalau ini 'nyambung', alhamdulillah, dan kelihatannya dalam dua bulan terakhir sudah mulai banyak yang mengerti kata-kata saya. Tapi apakah ini menjanjikan kesuksesan, kita masih harus bekerja keras 2-3 bulan ke depan.

T: Bagaimana dengan mereka yang berkomentar negatif di media sosial? Apakah Anda ingin memenangkan hati mereka?
GW: Saya nggak akan mencoba merebut hati siapapun kalau mereka nggak ikhlas dan kalau mereka nggak nyambung dengan prinsip visi misi kita. Tapi saya juga menghormati suara mereka karena ini demokrasi. Kita sudah eksis sebagai demokrasi selama 15-16 tahun terakhir.

Banyak pelajaran-pelajaran yang sangat bermutu walaupun penuh dengan kepedihan. Tapi ke depannya, kita harus memastikan prinsip-prinsip kita ini harus jelas kalau itu nyambung dengan semangat dari rakyat, nyambung dengan semangat mendengar suara rakyat, nyambung dengan semangat urun rembuk, nyambung dengan semangat kita tidak boleh meninggalkan siapapun yang minoritas, yang tertinggalkan, yang terpinggirkan, itu pasti kita akan cari jawaban atau solusi untuk suara-suara yang mungkin kurang positif.



GW: Ada dua aktivitas yang saya lakukan. Sebagai menteri perdagangan saya beraktivitas untuk menstabilisasi harga kedelai, daging sapi, memantau apa yang harus diperbaiki ke depan untuk memperbaiki perdagangan dalam negeri. Saya juga beraktivitas supaya Indonesia ini nyambung dengan dunia internasional. Apakah dalam konteks APEC, WTO, ASEAN, East Asia Summit, apapunlah supaya ekonomi kita terus bertambah besar dan secara sustainable dan bisa membuahkan pemerataan. Ini yang saya suarakan.

Yang kedua, tugasnya adalah bagaimana saya bisa dikenal lebih baik oleh rakyat. Untuk kepentingan konvensi, untuk kepentingan menjadi presiden terpilih di Indonesia. Tapi saya juga beraktivitas di PBSI, Barindo, Sabtu dan Minggu, saya duduk dengan atlet dan pelatih dan pengurus, supaya bagaimana prestasi kita bisa lebih baik di 2013 dan 2014. Saya rasa hal-hal ini bisa bersinergi dan komplementer terhadap satu sama lain.

Nah untuk kepentingan saya ikut di Konvensi, saya akan keluarkan penuh dengan keikhlasan. Secukupnya. Untuk bisa memenangkan konvensi.

T: Jadi berapa?
GW: Secukupnya.

T: Kita ingin tahu, biaya politik seorang capres itu sebenarnya berapa sih?
GW: Insya Allah sesuai dalam batas kemampuan dan kecukupan untuk memenangkan konvensi. Pokoknya dalam batas kemampuan dan dengan tujuan untuk memenangkan konvensi.

T: Dananya ada dari Demokrat atau dari Anda sendiri?
GW: Dari saya sendiri.

T: Apakah bapak bisa menjamin kita menjadi negara yang swasembada pangan, terutama beras.
GW: Sangat bisa. Beras, kita sudah surplus tahun lalu, kedelai, sapi, bawang putih impor. Tomat, cabe keriting, kadang-kadang masih impor. Tapi nggak ada alasan kita nggak bisa swasembada, bahkan menjadi eksportir. Nah kalau menurut saya agak salah parkir kalau kita berambisi untuk swasembada.

Yang tepat, adalah bagaimana kita menjadi eksportir yang efisien, karena dampak dari kita menjadi eksportir yang efisien adalah swasembada.

Sekarang begini, kalau kedelai, kita ke Jember, produktivitas 3 ton per hektar, produksi kedelai kita 700-800 ribu ton, lahan yang dikelola 700 ribu hektar. Artinya rata-rata produktivitas kedelai kita 1,1 ton per hektar, jauh di bawah apapun yang kita lihat di Jember. Saya nggak ngurusin pertanian, saya cuma ngurusin media aja kalau mereka nyalahin saya harga kedelai naik. Tapi ini hulunya harus disikapi. Jadi kita harus menjamin bahwa lahan yang ada, kalau ditanam, hasil taninya harus yang paling bagus, paling produktif, dan paling banyak. Dan mencukupi, bukan untuk kepentingan dalam negeri, tapi kalau bisa diekspor.

Tugasnya adalah bagaimana supaya produktivitas kedelai nasional itu bisa naik ke 3 ton per hektar. Amerika bisa 4,5 ton per hektar. Sapi juga sama. Kita butuh tahun ini 3-4 juta ekor sapi, di dalam negeri kita cuma bisa menyembelih 2 juta ekor sapi. Kenapa? Karena kesediaannya terbatas. Sisanya dari mana? Harus diimpor.

Kenapa harus diimpor? Karena kita harus menjaga stabilitas harga. Kalau nggak diimpor, harga daging sapi besok bisa Rp300 ribu per kilo. Ini jadi harus nyambung hulu dan hilirnya. Yang ngurusin hulu, jangan orang partai.

T: Di mana pemberantasan korupsi dalam skala prioritas Anda sebagai capres?
GW: Tinggi. Kalau saya melihat, endgamenya kita adalah pemerataan. Caranya ke sana, banyak. Harus dilakukan eradikasi korupsi. Eradikasi korupsi bukan tujuan, tapi cara mencapai tujuan. SDM itu adalah cara mencapai tujuan.

Kisah nyata dalam pemberantasan korupsi itu adalah KPK. Lembaga hukum lainnya ada aktivitas. Tapi yang nyata menangkap, membui, yang jadi tersangka, jelas, sudah berapa puluh, berapa ratus. Tapi rasio penyidik dibanding PNS masih 1:45 ribu. Di sana ada 100 penyidik, PNS 4,5 juta. Hong Kong yang melakukan eradikasi korupsi selama 30 tahun, rasio penyidiknya terhadap PNS 1:200. Sekarang dihitung saja, apa kita mau menunggu 30 tahun? Kalau kita mau menunggu 30 tahun, ya matematika saja, kita harus menaikkan rasio penyidik terhadap PNS-nya. Lebih bagus daripada 1:45 ribu, minimum harus 1:200 seperti Hong Kong. Kalau mau lebih cepat, harus kita naikin lagi, kalau pendapatan negara meningkat, kalau pemimpinnya berkomitmen mengatasi korupsi. Tinggal digelontorkan dana supaya jumlah penyidiknya meningkat. Nggak mungkin kita menurunkan secara drastis jumlah PNS.

T: Terkait eradikasi korupsi, Pak Gita kan masuk konvensi Partai Demokrat. Di Partai Demokrat ada tokoh-tokoh yang sebelumnya muncul di iklan antikorupsi, kemudian tertangkap melakukan korupsi. Kenapa Anda memilih Partai Demokrat?
GW: Ini modalitas yang paling demokratis. 11 Pilihan utama disajikan ke 250 juta rakyat, semuanya bermutu. Demokratis sekali. Anda mau pilih nasi goreng, gado-gado, sop buntut, apapun lah, demokratis kan. Yang lainnya tidak begitu. Petinggi partai hanya nyodorin, nih gue yang bakal nyapres. Tidak demokratis.

Yang kedua, ini satu-satunya yang available untuk anak-anak muda seperti saya. Dan saya menghormati penyikapan seperti ini. Dan ini saya rasa kalau dilakukan dengan benar, bisa membuahkan calon pemimpin yang benar-benar diinginkan oleh rakyat. Ya nanti ujung-ujungnya apa, golput tadi. Kalau golput masih 37%, artinya mereka nggak happy dengan pilihan yang disodorin. Makanya saya menganjurkan untuk kita semua nyoblos. Nggak perlu nyoblos saya, nyoblos siapapun. Jangan sampai nggak nyoblos karena it will be quite costly, akan mempengaruhi nasib kita ke depan.

T: Kalau misalnya dari konvensi, di sana ada Pramono Edhie Wibowo yang adalah adik ipar Presiden SBY. Kalau Anda dipasangkan sebagai cawapres, apakah Anda tetap bersedia menerima mandat itu?
GW: Saya di konvensi ini, untuk memenangkan konvensi ini, untuk menjadi capres. Tidak ada pikiran lain.

T: Kalau Anda menjadi cawapres?
GW: Saya tidak ada pikiran menjadi cawapres. I'm here to win the convention and to be the president of our country.

T: Kalau misalnya itu tidak kejadian, apakah Bapak memikirkan untuk maju lagi di 2019?
GW: No. Not in my thought at all.

T: Berarti ini make or break?
GW: Enggak make or break. Make. I'm here to make it. Dan pekerjaan says adalah menjual tesis, naratif. Ada penjual, ada pembeli.

T: Realita politik Indonesia selalu melekat dari akar. Orang harus punya semacam popularitas atau ormas tertentu atau partai tertentu, yang tiap 5 tahun sekali pilihannya itu-itu saja. Kalau Anda membandingkan dengan Jokowi, yang punya popularitas sangat tinggi, bukan di Jakarta saja, tapi di Indonesia. Bagaimana Anda melihat fenomena grassroot tersebut dan bagaimana cara Anda merengkuh hati orang-orang di akar?
GW: Pertama, kita harus menghormati demokrasi. Demokrasi sudah berjalan hampir 16 tahun. Insya Allah semakin membaik, semakin membuahkan kesejahteraan yang merata. Kedua, saya sangat menghormati Jokowi karena atribut beliau yang sangat dihormati dan dihargai oleh rakyat. Ketiga, saya juga berpendapat, 2014 ini kunci untuk memilih seorang pemimpin yang semata tidak hanya disukai, tapi mengerti. Mengerti maunya ke mana dan tombol-tombol apa saja yang harus dipencet dan bagaimana mengoperasikan sistem navigasinya, agar kapal ini, pesawat ini, bisa berlayar ke tempat yang benar.

Untuk bisa berlayar, kaptennya harus dikelilingi oleh orang-orang yang mengerti tombol mana yang harus dipencet. Ini saya rasa perlu orang yang mengerti proses. Somebody who builts and make the system better. Supaya apapun yang kita bicarakan sebelumnya bisa mengarah ke arah yang benar. Nah itu saya rasa kunci.

Dalam politik, masih ada beberapa bulan lagi ke depan, saya akan melakukan apapun yang harus saya lakukan supaya rakyat bisa mendengar dan mengerti apa yang harus saya lakukan, apa yang harus kita lakukan.

T: Seberapa berpengaruh penampilan Anda dalam proses pemilihan capres? Karena atribut semacam itu pernah jadi jualan pada 2009 dan berhasil.
GW: Kepemimpinan tidak ada hubungannya dengan fisik. Saya nggak percaya. Saya percaya kepemimpinan itu tidak ada hubungannya dengan fisik. Rakyat harus dan akan memilih siapapun yang bisa membawa kapal ini ke tujuan yang diinginkan.

T: Apa yang bapak lakukan di internet?
GW: Saya kebanyakan melihat berita.

Saya sudah nggak baca koran lagi. Jarang lah baca koran. Saya paling baca koran hanya kalau disodorin di pesawat. Selainnya, saya melihat online.

T: Yang Anda baca adalah bahasa Inggris atau?
GW: Oh yang bahasa Indonesia banyak yang saya baca. Portal-portal Indonesia, dan portal-portal bahasa Inggris.

T: Diet media Anda apa sih sebenarnya?
GW: Sports. Saya kalau membaca news itu kebanyakan baca sports. Jujur saja. Saya memang dulu maunya jadi olahragawan, tapi nggak kesampaian. Terus berita tentang musik atau budaya. Setelah itu berita ekonomi.

T: Apa Bapak pakai gadget buatan dalam negeri? Bapak tahu caranya membuat iPhone lebih murah daripada Cina?
GW: Tahu dong. Di Cina, bunga bank lebih murah, jalanan lebih banyak, lebih bagus, nggak bolong-bolong seperti di sini. Pelabuhan, udara dan laut, lebih banyak, lebih besar, lebih bagus, lebih murah lagi. Teknolognya lebih banyak. Kita banyak teknolognya yang mampu bikin handphone. Kalau teknolog-teknolog ini lulusan sekolah-sekolah terbaik di Indonesia nggak didukung dengan infrastruktur yang memadai, nggak didukung dengan biaya pendanaan yang murah, nggak didukung dengan insentif fiskal.

Di Cina kalau kita membangun pabrik di beberapa lokasi itu dapat tax holiday, nggak bayar pajak selama 20 tahun. Nah ini yang saya prakarsai selama saya di BKPM. Sekarang sudah ada tax holiday, keluar kan PMK-nya tahun 2012, itu prakarsa saya itu. Ini untuk bisa menopang industrialisasi, supaya kita bisa bikin kayak begini.

T: Bagaimana dengan tenaga kerja di sini? Lebih murah atau lebih mahal dari pandangan Bapak?
GW: Di sini masih relatif lebih murah dong daripada di Cina atau Vietnam.

T: Bisa lebih mahal lagi atau?
GW: Ini ujung-ujungnya kan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan rakyat harus meningkat terus, tapi peningkatannya harus di kecepatan yang sesuai dengan penyesuaian biaya hidup. Kalau inflasi cuma 6,7,8%, tahun 2013 8,2%, tahun 2012 4,sekian persen, kalau tiba-tiba kita mau menaikkan cost of living per 40-50% ya saya rasa itu kurang bijaksana.

Semangatnya kita mau buruh kita sejahtera. Tapi temponya harus disesuaikan dengan keinginan kita untuk mencapai endgame.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel