Newsroom Blog

Gubernur Masa Kini

Hari ini wartawan mulai bertanya kepada saya, gubernur seperti apa yang cocok untuk Jakarta kini dan masa depan? Ini seperti pertanda datangnya suatu musim wawancara. Mungkin karena pemilihan gubernur sedang menjelang.

Bagaimanapun, jawaban harus dimulai dari sesuatu yang umum, mendasar, tapi tetap penting untuk keadaan Republik Indonesia sekarang: seorang pemimpin itu pertama-tama harus mencintai masyarakat yang dipimpinnya.

Saya katakan jawaban umum ini penting sekarang, karena bukankah kita merasakan betapa banyak dari para pemimpin kita kini lebih mencintai dirinya sendiri daripada yang dipimpinnya?

Kita tidak bisa marah kepada Bung Karno dengan segala kecintaannya pada diri sendiri, karena kita merasakan bahwa beliau juga sangat mencintai rakyat dengan sungguh-sungguh.

Kita sayang kepada Bang Ali, meskipun kita tahu dia galak dan sering marah, karena kita tahu beliau terus-menerus memikirkan cara membuat Jakarta lebih baik untuk semua orang.

Mereka adalah pribadi-pribadi yang hangat dan penuh perhatian pada orang yang mereka pimpin.

Jawaban khusus untuk keadaan Jakarta sekarang adalah bahwa syarat mendasar dan umum seorang pemimpin di atas itu sangat diperlukan untuk membuat terobosan besar yang sebenarnya sudah lewat waktu.

Masalah Jakarta menumpuk dan makin mendalam karena pemerintahan-pemerintahan sebelumnya tidak berhasil memberikan solusi mendasar, dan beberapa bahkan memperburuk dengan keputusan yang salah, atau membiarkannya menumpuk.

Kini ada kenyataan masyarakat baru kita sekarang bukan lagi seperti yang dulu. Mereka lebih mudah dan cepat belajar, menjadi lebih fasih mengujarkan aspirasinya, dan lebih mampu mengembangkan banyak prakarsa mandiri.

Ini sekaligus menuntut pelayanan yang lebih canggih dan merupakan energi terbesar dan terbaik untuk mengubah Jakarta. Pemimpin yang diperlukan adalah yang mampu mendayagunakan energi tersebut. Ia perlu menciptakan cara-cara pemerintahan (governance) yang baru, yang dapat mengoordinasikan dan menyalurkan energi masyarakat tersebut.

Syarat konkret: Gubernur mendatang harus mampu merombak birokrasi dan menciptakan cara kerja baru yang menggaulkan dan menyinergikan birokrasi dengan masyarakat, terutama kelas menengah yang sedang tumbuh, untuk menyelesaikan semua masalah secara bertahap tapi persisten.

Sinerg itu diperlukan untuk memperbaiki Jakarta pada setidaknya tiga tataran masalah. Pertama, masalah sarana dan prasarana dasar seperti air minum dan trotoar yang baik.

Kedua, masalah-masalah mengejar ketertinggalan prasarana seperti angkutan umum dan pengendalian banjir.

Ketiga, masalah tantangan masa depan melakukan reorientasi sarana, prasarana, dan tata ruang menuju abad kelestarian/ekologi. Ketiganya seharusnya diselesaikan secara sinergis.

Marco Kusumawijaya adalah arsitek dan urbanis, peneliti dan penulis kota. Dia juga direktur RujakCenter for Urban Studies dan editor http://klikjkt.or.id.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.