Newsroom Blog

Hasil Survei Pendidikan Kesehatan dan Hak Reproduksi Seksualitas Remaja

Kaukus Seperlima (Seputar Kesehatan & Hak Reproduksi & Seksualitas Remaja) melakukan survei baseline yang melibatkan pelajar SMA dan para guru di wilayah DKI Jakarta. Beberapa fakta menarik tentang pelajar SMA di Jakarta terungkap dalam riset ini:

1. Masalah utama kesehatan reproduksi anak muda di Jakarta
Masalah yang menonjol di kalangan remaja di DKI Jakarta terkait dengan konteks kesehatan reproduksi dan seksual antara lain adalah perilaku seks bebas, kehamilan tidak diinginkan, aborsi tidak aman, infeksi menular seksual dan HIV dan AIDS, serta penggunaan obat-obatan terlarang.

2. Perlakuan tak menyenangkan
Sebagian besar responden pelajar SMA menyatakan pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan selama hidupnya, dalam hal ini pelecehan seksual. Sebanyak 22% anak muda yang terlibat dalam riset ini mengaku pernah disentuh di bagian-bagian tubuh tertentu tanpa dikehendaki, 5% mengaku pernah dipaksa untuk berhubungan seksual oleh teman atau pacar.

3. Pergerakan informasi yang cepat
Berada di Ibu Kota, remaja Jakarta terpapar oleh informasi yang bergerak lebih cepat dan lebih bebas. Pergerakan informasi yang lebih pesat ini selain membawa dampak positif juga memiliki dampak negatif seperti akses terhadap pornografi. Gaya hidup di kota besar seperti konsumerisme dan hedonisme di kalangan remaja juga dapat mempengaruhi perilaku seks yang berisiko di kalangan remaja. Hal ini ditunjukkan oleh meluasnya praktik seks pranikah
serta tingginya penggunaan obat-obatan terlarang oleh remaja.

4. Persepsi mengenai penyakit menular seksual (PMS)
Penelitian tentang pengetahuan penyakit menular seksual (PMS) yang dilakukan di DKI Jakarta oleh Lembaga Demografi-UI pada 2005 menunjukkan, pengetahuan remaja mengenai berbagai jenis penyakit menular (PMS) masih sangat rendah, kecuali pengetahuan mereka mengenai penyakit HIV dan AIDS dan raja singa. Sebanyak 95% remaja sudah mengetahui mengenai penyakit menular seksual HIV dan AIDS, dan 37% dari remaja juga sudah mengenal penyakit raja singa.

Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, remaja perempuan dan laki-laki usia 15-24 tahun yang mengetahui tentang masa subur, baru mencapai 65%.

Remaja perempuan dan laki-laki yang tahu ada risiko kehamilan ketika melakukan hubungan seksual masing-masing hanya 63%. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan yang mendesak akan pendidikan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual bagi remaja.

Di sebuah SMA negeri di Jakarta, mayoritas responden menjawab kesehatan reproduksi adalah kesehatan yang menyangkut organ/alat reproduksi (65%), merawat/menjaga alat/organ/sisstem reproduksi (10%),dan tidak tahu (12,5%).

Sementara untuk pendapat mengenai kesehatan seksual, mayoritas responden menjawab kesehatan yang berkaitan dengan alat/organ seksual (37,5%), menjaga/merawat alat/organ seksual (15%), dan tidak tahu (22,5%).

Jawaban mayoritas responden pada kedua pertanyaan adalah kesehatan alat/organ/sistem reproduksi dan seksual namun tidak menjawab esensi utama dari pertanyaan yang diajukan. Hal tersebut menunjukan bahwa pengetahuan siswa pada kedua konsep kesehatan reproduksi dan seksual belumlah cukup komprehensif.

Di satu SMK di Jakarta, mayoritas responden juga menjawab kesehatan reproduksi adalah kesehatan yang terkait dengan organ/alat reproduksi. 20,5% menjawab tidak adanya penyakit/berfungsinya organ/alat sistem reproduksi, dan sebesar 10,3% menjawab merawat/menjaga alat/organ/sistem reproduksi.

Untuk kesehatan seksual, sebanyak 23,1% responden berpendapat kesehatan seksual adalah kesehatan untuk menjaga organ/alat seksual/kelamin/seksual; 20,5% menjawab tidak adanya penyakit/berfungsinya organ/alat seksual; dan sebesar 15,4% responden menjawab kesehatan yang berhubungan dengan hubungan seksual. Responden anak muda menjawab pertanyaan yang diajukan dengan variasi yang beragam walaupun belum seluruhnya dapat dikatakan memahami dengan tepat konsep kesehatan reproduksi dan seksual.


Artikel ini disusun oleh Pamflet, sebagai bagian dari gugus kerja Seperlima (Seputar Kesehatan & Hak Kesehatan Seksual & Reproduksi), yang terbentuk untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas di setiap sekolah di Indonesia dengan melibatkan partisipasi aktif anak muda di dalamnya. Lembaga lain yang terlibat terdiri dari Hivos, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia, RAHIMA, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dan PAMFLET. Sejak tahun 2012, Seperlima menggelar berbagai pertemuan, workshop, dan dialog seputar wacana mengenai fakta dan mitos seputar kesehatan reproduksi yang mengemuka di antara anak muda.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.