Newsroom Blog

Jakarta Dalam Buku



Pada kota Jakarta yang tak pernah tuntas dituliskan, buku-buku berikut berutang cerita. Para penulisnya merekam Jakarta dengan cara dan sudut pandangnya masing-masing. Ada yang mencoba mengalami, ada yang mencoba memahami. Ada yang mencoba serius, ada juga yang mencoba jenaka. Rugi bagi kita, khususnya warga Jakarta, apabila tidak menagih isinya.

1. 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta (2008) – Benny & Mice
Untuk penikmat guyon, buku “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta” tak boleh dilewatkan. Muhammad Misrad (Mice) dan Benny Rachmadi tahu betul bagaimana menghibur dengan kritis dan cerdas.

Lewat buku ini, keduanya menghadirkan potret tokoh-tokoh penting di Jakarta lewat kartun. Namun, tokoh-tokoh tersebut bukanlah para artis beken ataupun politikus penting, melainkan orang-orang yang kita temui sehari-hari di Jakarta — dari mas-mas Mangga Dua, hingga penukar uang receh di Kota Tua.

Tanpa mereka, Jakarta akan kehilangan identitas. Dengan gambar dan teks yang teramat jenaka, buku ini dijamin membuat Anda senyum-senyum sendiri.

(Baca juga: “Lagak Jakarta: 1 Dekade 1997-2007” (2007) oleh Benny & Mice dan “Nguping Jakarta” (2011) oleh Kuping Kanan dan Kuping Kiri)

2. Kata Fakta Jakarta (2011) – Rujak Center for Urban Studies
Tidak semua buku mengharuskan kita untuk membaca seluruh isinya. Buku “Kata Fakta Jakarta” masuk ke dalam kategori itu. Isinya terdiri dari kumpulan informasi, infografis, dan opini tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jakarta selama dasawarsa terakhir, yang kemudian membentuk wajah ruang kota Jakarta sekarang ini. Tulisan-tulisan di dalamnya mencakup isu-isu penting seperti banjir, macet, polusi, kekerasan, juga pelanggaran tata kota.

Buku ini semacam kamus bagi mereka yang ingin memahami Jakarta lebih serius, mendalam, dan langsung menuju sasaran — tanpa perlu berkutat dengan tulisan-tulisan panjang yang sulit dicerna.

(Baca juga: “Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta” (2011) oleh Rachmat Ruchiat )

3. Jakarta: Sejarah 400 Tahun (2011) – Susan Blackburn
Jika mengenal masa lalu adalah pintu untuk memahami masa sekarang, maka buku ini adalah salah satu kunci untuk memahami Jakarta. Buku terjemahan dari “Jakarta: A History” (1987) ini berfokus pada peran para penguasa kota di Jakarta, selama empat abad, dalam membangun Jakarta. Karena blak-blakan membicarakan para penguasa, buku ini sempat dicekal ketika pertama kali terbit di zaman Orde Baru.

(Baca juga: “Hikayat Jakarta” (1988) oleh Williard A. Hanna)

4. Tjerita dari Jakarta (1957) – Pramoedya Ananta Toer
Untuk yang lebih menyukai buku fiksi, buku ini dapat Anda nikmati bersama secangkir kopi hangat. Sebanyak 13 cerpen yang berada di dalam buku ini ditulis antara tahun 1948 dan 1956, menggambarkan kehidupan pahit kota Jakarta di masa setelah revolusi kemerdekaan. Ada cerita soal perantau yang lalu menjadi tukang angkut, juga soal pejuang yang jadi pengangguran. Penuturan dan penokohan Pramoedya yang tajam membuat pembacanya terhanyut dalam derita Jakarta masa lalu. Jakarta rupanya sudah keras semenjak dulu, Bung.

(Baca juga: “Jakarta Banget: Antologi Cerita Kehidupan di Jakarta” (2012) oleh Rotary Jakarta Batavia)

5. Jakarta Inside Out (2002) – Daniel Ziv
Ditulis oleh lelaki berdarah asing, bukan berarti membuat Jakarta menjadi asing. Tidak seperti umumnya buku-buku turisme yang hanya menunjukkan kekayaan budaya tradisional Indonesia, buku berbahasa Inggris ini justru menceritakan Jakarta dengan apa adanya. “Adalah sebuah keajaiban bahwa kota ini masih berdetak. Nyatanya, ia terus berdetak,add citat ” tutur Ziv.

Ziv mengumpulkan kata-kata sehari-hari di Jakarta yang harus diketahui para penikmat Jakarta, antara lain: Gambir, Macet, Gorengan, Kemang, Metro Mini, Ojek, Monas, Waria, Bule, Durian, Jamu, dan banyak lagi, kemudian menyusunnya secara alfabetis. Ia lalu menjelaskan setiap kata dengan padat dan blak-blakan, diiringi selembar foto yang banal.

(Baca juga: “Jakarta Punya Cara” (2011) oleh Zeffry Alkatiri)




6. Metropolis Tunggang Langgang – Marco Kusumawijaya
Marco Kusumawijaya, seorang urbanis, merampaikan tiga puluh tulisan yang ia tulis selama 2000-2004 di berbagai media cetak, ke dalam sebuah buku berjudul Metropolis Tunggang Langgang.

Ia menuturkan pandangannya tentang seluk-beluk Jakarta dalam kacamata planologi, arsitektur, sejarah, ekonomi, juga politik. Setiap artikelnya menguraikan dan mengkritisi berbagai masalah pelik kota Jakarta, tanpa lupa sesekali memberikan jalan keluar. 

(baca juga: Jakarta: Estetika Banal (2011) oleh Erik Prasetya )

Anda punya rekomendasi buku lain tentang Jakarta?
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.