Newsroom Blog

Jakarta Hati: Enam Cerita Satu Arti

“Ini jantung ibu kota, di mana hatinya?” - Jakarta Hati
Ketika lingkaran karut-marut kota Jakarta membawa warganya berputar-putar dalam absurditas kehidupan, film “Jakarta Hati” mencoba menarik segaris arti lewat kejadian-kejadian kecil, yang mungkin terjadi di Jakarta sebelah mana pun.

Dalam bunga rampai enam film pendek berlatarkan kota Jakarta ini, Salman Aristo, sutradara yang juga pernah membuat film antologi “Jakarta Maghrib”, mengemas beragam konflik sehari-hari. Dari politik, cinta, keluarga, ekonomi, dan sosial. Uniknya, cerita-cerita tersebut dituntaskan tanpa betul-betul tuntas.

Foto: TempoBeberapa kali akhir cerita dibiarkan menggantung, seperti pada cerita “Masih Ada”, yang mengisahkan seorang anggota DPR yang terketuk hatinya setelah melihat berbagai realitas sosial di jalan. Pada saat yang sama, ia hendak mengambil hasil bagi-bagi korupsi. Di akhir cerita, kita tidak tahu apakah pergelutannya berakhir sebagai sikap atau rasa sesaat.

Cerita “Dalam Gelap”, yang bisa dibilang sebagai salah satu film terkuat dari kelima film lainnya, juga berakhir serupa. Berlatarkan ruang tidur tanpa aliran listrik, sepasang suami-istri yang biasa sibuk sendiri-sendiri akhirnya terjebak dalam obrolan sensitif tentang perselingkuhan. Di akhir cerita, kita tidak pernah tahu seperti apa hubungan yang kering itu selesai.

Barangkali pilihan menggantung cerita disebabkan film pendek yang terbatasi oleh waktu. Karena, ketika pada cerita-cerita lain Salman Aristo mencoba menuntaskan cerita, resolusi seakan terjadi begitu cepat dan agak tidak realistis.

Secepat satu dialog yang akan menyelesaikan masalah hubungan seorang janda keturunan Pakistan dengan pemuda Hoakiao umur 20-an, yang berakhir dengan ajakan menikah dari si pemuda. Kita tidak tahu persis bagaimana mereka menyelesaikan masalah-masalah yang siap terjadi berikutnya, padahal masalah-masalah tersebut yang diangkat sebagai fokus dialog antara keduanya.

Atau secepat satu malam pada kisah “Orang Lain” — cerita tentang seorang lelaki dan wanita yang masing-masing pacarnya selingkuh, lalu mereka menjadi pihak yang... bisa diduga kelanjutannya. Lagi-lagi, tanpa kita tahu, bagaimana setumpuk masalah itu selesai. Malah bertambah.

Dialog dan jalan cerita menjadi kekuatan utama dari film ini. Salman Aristo memang berangkat sebagai penulis naskah “Laskar Pelangi” dan “Ayat-ayat Cinta”. Sementara itu, deretan artis tenar pengisi film — Slamet Rahardjo, Andhika Pratama, Roy Marten, Dwi Sasono, Shahnaz Haque, Surya Saputra, Asmirandah, Didi Petet — juga menjadi daya tarik sekalipun bukan utama. Terkadang, nama-nama tenar justru membuat fokus penonton buyar.

Meskipun menyandang kata “Jakarta” pada judulnya, film ini menghadirkan sudut-sudut Jakarta yang biasa, yang sangat mungkin ditemukan di kota lain. Mungkin kota memang sekadar latar. Entah itu kantor polisi atau kamar tidur. “Jakarta Hati” justru berutang pada cerita; cerita yang menyisakan hati dan arti, yang menjadikan segala kisah tidak sia-sia belaka.
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.