Newsroom Blog

Beberapa Kemajuan Kereta Listrik yang Patut Dipuji

Foto: Gelar Pradipta
Bagi sebuah kota besar alias megapolitan dengan penghuni jutaan jiwa, memiliki sarana transportasi umum yang baik tentu sebuah keharusan. Tak terkecuali Jakarta.

Secara umum sarana transportasi di ibukota negara ini memang belum bisa dibilang baik. Tetapi di sektor kereta listrik, terdapat beberapa kemajuan yang patut dipuji. Antara lain:

Commuter Line
Saat pertama sistem ini diperkenalkan, banyak pengguna kereta listrik yang mengeluh. Bisa dimaklumi, kehadiran Commuter Line secara otomatis mengurangi dan menghapus jenis kereta Ekspres/Pakuan yang hanya berhenti di stasiun tertentu — sehingga waktu tempuh lebih cepat. Sementara Commuter Line berhenti di tiap stasiun.

Lalu di mana letak kemajuannya? Ada di “rasa keadilan” yang diterapkan pengelola kereta. Dengan Commuter Line (serta penghapusan Ekspres) tidak ada lagi kereta yang harus mengalah berhenti sebentar demi menunggu Ekspres lewat.

Lagipula, dengan sistem ini pengguna KRL tidak perlu mengingat banyak jadwal dan jenis kereta. Cukup ketahui, stasiun tujuan Anda masuk koridor mana: Jakarta Kota, Tanah Abang, Depok, Bogor, Bekasi atau Serpong?

Bahwa ternyata Commuter Line juga beropersi tidak sesuai janji (misalnya AC sering mati) itu kemajuan tersendiri. Inilah kereta yang sekaligus berfungsi juga sebagai sauna.

Jadwal teratur
Karena operasi kereta listrik kini makin sederhana (semua harus berhenti tiap stasiun) maka gangguan pun sedikit berkurang. Ini terlihat dari jadwal kereta yang mulai teratur. Keterlambatan masih terjadi, tapi tak lebih dari 10 menit.

Sebaiknya, hafalkan jadwal kereta yang biasa kamu naiki. Cocokkan jadwal itu dengan waktu berangkat dan pulang kamu agar tidak perlu membuang-buang waktu menunggu di stasiun.

Tentu saja, jadwal yang sudah dibuat (dan dihafalkan) tidak ada gunanya ketika kereta mengalami masalah teknis seperti gangguan sinyal dan wesel. Kereta bisa terlambat 15-60 menit (apalagi beberapa gerbong kereta umurnya cukup tua).

Ini juga kemajuan tersendiri: menunggu kereta yang terhambat masalah teknis membuat Anda, para penumpang, punya lebih banyak waktu untuk merenungi hidup.

Stasiun mulai steril
Yang boleh berada di peron stasiun memang seharusnya hanya penumpang. Untuk itu, beberapa stasiun saya lihat mulai mensterilkan peron dari orang-orang yang bukan penumpang. Pedagang asongan, pengemis, pengamen, tidak bisa masuk peron (yang memang khusus area penumpang untuk menunggu kereta, bukan tempat makan mi instan sambil ngobrol dengan penjual).

Tapi ya, di beberapa stasiun kecil, mereka yang tidak memiliki karcis masih bisa masuk ke peron dan melanjutkan bisnisnya. Lucunya lagi, pemilik warung yang tadinya ada di dalam peron, tidak kehabisan ide untuk tetap bisa berjualan. Mereka memindahkan warung ke bagian luar peron, membolongi pagar seukuran tangan manusia, serta menyediakan kursi agar konsumen bisa duduk di peron.

Kedua belah pihak layak dipuji; stasiun karena mulai mensterilkan peron, dan pedagang karena menerapkan pepatah “di mana ada kemauan, di situ ada jalan”.

Gerbong wanita
Ketika gerbong khusus wanita diluncurkan, kontroversi pun terjadi (hingga kini). Banyak yang bilang, pembedaan pelayanan berdasarkan jenis kelamin sudah tidak zaman. Tapi banyak pula yang bersyukur karena dengan gerbong ini, para wanita tak perlu lagi berdesakan dengan pria.

Mari kita lihat sisi positifnya. Keberadaan gerbong wanita — di awal dan ujung rangkaian kereta — dapat mengurangi kekerasan dan pelecehan seksual yang sering menimpa penumpang wanita.

Tapi saya dengar, persaingan tempat duduk di gerbong wanita lebih kejam dari gerbong campur. Orang tua, ibu-ibu yang membawa anak, dan bahkan wanita hamil sering tidak diberikan tempat duduk. Benarkah? Saya tidak bisa memeriksa langsung karena terlarang masuk ke sana.

Ketegasan petugas

Saya harus mengucapkan terima kasih dan memberi penghargaan khusus bagi para petugas. Meski terkadang informasi yang mereka berikan justru menyesatkan, akhir-akhir ini mereka cukup tegas dalam menjalankan tugas.

Beberapa kali saya melihat penumpang yang dipaksa membayar denda atau bahkan “dipersilakan turun” oleh petugas karena tidak memiliki tiket. Ini kemajuan yang layak dipuji, kan?

Saya berharap, ketegasan serupa juga ditunjukkan petugas terhadap para penumpang yang masih saja tega menggunakan kursi lipat — atau malah lesehan di lantai — di tengah padatnya kereta. Mereka sungguh tidak punya hati.

Bagaimana menurut kamu? Kemajuan apa lagi dari sistem kereta listrik yang layak dipuji?

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.