Newsroom Blog

Kenangan Mei 1998

Massa merusak mobil saat kerusuhan 14 Mei 1998 di Jl. Hasyim Ashari Jakarta. TEMPO/Bodhi ChandraMassa merusak mobil saat kerusuhan 14 Mei 1998 di Jl. Hasyim Ashari Jakarta. TEMPO/Bodhi Chandra

Inilah cerita tentang gerakan yang menumbangkan Orde Baru: Reformasi 1998. Gerakan yang berawal dari rakyat yang didorong mahasiswa dan aktivis. Beberapa mahasiswa gugur, sisanya terus berjuang tanpa nama.

Beberapa aktivis reformasi yang masih tersorot media justru menunjukkan kinerja yang bertolak belakang dengan apa yang mereka perjuangkan. Baca tentang aktivis 1998 dulu dan kini serta lihat galeri fotonya.

Ratusan komentar datang dari pembaca Yahoo!. Mereka menceritakan kenangan mereka pada Mei 1998. Komentar paling populer datang dari pembaca dengan nama samaran Leo Girl. Mei 1998 merupakan kejadian tersulit dalam hidupnya. “Karena krisis tahun 1998 kami terpaksa pindah ke Sulawesi, memulai kehidupan dari nol lagi,” kata dia. Dia berharap kejadian itu tak akan pernah terulang lagi di Indonesia.

Kekacauan saat itu juga dikenang Hardino, yang waktu itu bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Dia menyaksikan api membara di sepanjang Jl Daan Mogot. "Banyak saudaraku Tionghoa dirampas mobilnya dan diminta begitu saja. Saya sedih tapi tidak bisa berbuat apa-apa," kata Hardino. Menurutnya, perampas itu nampaknya bukan orang di sekitar kampung yang dilaluinya.

Andreas Imon meminta pemerintah dan TNI bertanggung jawab atas terjadinya pemerkosaan dan penjarahan terhadap warga keturunan Cina. Dia menilai selama ini pemerintah mengingkari kenyataaan yang telah terjadi. Komentar Andreas diamini 35 pembaca lain.

Seorang lagi pembaca bernama Chandra menilai, reformasi telah dimanfaatkan untuk melakukan penindasan terhadap warga keturunan Cina. Kerugian materi tak sebanding dengan hancurnya masa depan korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Sebagian pembaca tak yakin keadilan dapat ditegakkan. Mereka pesimis terhadap kinerja pemerintah mengungkap kejahatan itu. “Dusta ini mungkin hanya bisa diperdebatkan dalam pengadilan Tuhan,” kata Andreas dan beberapa pembaca lain.

Mantan mahasiswa masa itu, Setiabudi mengaku sakit hati mengenang masa reformasi. “Sia-sia perjuangan saya dan kawan-kawan, toh hasilnya hanya pepesan kosong. Arah pemerintah sekarang makin tak jelas,” kata dia. Keprihatinannya terutama ditujukan pada DPR yang hanya memperjuangkan diri sendiri.

Sementara itu, pembaca Yahoo! bernama Michael menyatakan salut terhadap aktivis yang sampai sekarang terus berjuang di jalan lurus dan tak ikut-ikutan korupsi. Sedangkan pembaca lain bernama Ilham mengatakan, banyak mantan aktivis yang hanya mencari perhatian untuk keuntungannya sendiri.

“Saat sudah menjadi pejabat berbicara masih berjuang atas nama rakyat dengan ‘topeng’ masa lalu. Padahal di belakangnya kita tidak tahu ada maksud apa,” kata Ilham yang disetujui lima pembaca lain.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.