Newsroom Blog

Kisah Asmara di Tengah Bandung Lautan Api

Tarlen Handayani dan Adim

Didi kerap bercerita soal pengalamannya kepada anak-anak muda seperti yang dilakukannya di Museum Mandala Wang …

Setiap tanggal 24 Maret datang, ingatan Didi David Affandy selalu terlempar ke masa dia kecil. Lelaki berusia 76 tahun itu ingat betul saat dia masih berusia 9 tahun, dia harus ikut merasakan pahitnya meninggalkan Bandung bersama ribuan pengungsi lainnya.

Pada tanggal 24 Maret 67 tahun yang lalu, Bandung nyaris jadi abu.

Waktu itu, Didi sedang bermain kelereng bersama teman-temannya, sembari ngabuburit menunggu waktu berbuka. Tetapi sekejap waktu berbuka tiba, permainan harus disudahi. Sang ayah, Didi Sukardi, menyuruh seluruh keluarga bersiap mengungsi — sesuai permintaan Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia Kol. Abdul Haris Nasution.

“Kelereng saya masih tertinggal satu kala itu,” ujar Didi mengenang.

Ayahnya membawa mereka sekeluarga pergi ke arah selatan Bandung. Dengan matanya sendiri ia melihat ayahnya sempat membakar dahulu rumah mereka, sebagaimana puluhan tetangga mereka. Sebuah perintah yang meluncur dari mulut ke mulut, atas permintaan petinggi militer agar aset-aset warga tidak bisa digunakan penjajah.

Didi kecil pun lantas berjalan sembari menangis. Bersama ayah, ibu dan kakak perempuannya ia meninggalkan harta keluarga yang paling berharga. Sesekali mereka melirik ke belakang, menangisi Bandung yang kian benderang dilahap api.

“Tapi bukan hanya itu yang sering membuat saya sedih, ada cerita cinta yang hingga kini masih membekas di ingatan,” kata Didi.

Cerita cinta yang dimaksud adalah asmara antara seorang gadis bernama Uun Ratnaningsih (kakak Didi) dan Khoe Tjandra, bosnya di rumah makan  “Pantja Warna” di alun-alun Bandung.

Mereka sudah saling menaruh hati jauh sebelum peristiwa Bandung Lautan Api. Namun sayang, kala itu Khoe yang keturunan Tiong Hoa belum punya nyali untuk menyatakan cinta kepada Uun yang warga pribumi. Tanda cinta mereka kala itu terwujud dalam selembar kain. Jarik yang diberikan Uun untuk sang pria tercinta yang kemudia dipajang Khoe di restoran miliknya. Sebuah tanda mereka saling setia.

Singkat cerita, kembali ke hari di mana Bandung jadi lautan api, Uun manut keluarga pergi meninggalkan kota. Tapi tidak dengan Khoe. Pemuda itu memilih berada di dalam kota, bersama tentara Inggris dan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Sejak hari bersejarah itu, cinta mereka terbelah. Uun berada di selatan Bandung, sedang Khoe memilih mengungsi ke utara. Rel kereta yang tepat membelah kota, ikut-ikutan membelah cinta mereka.

Terpisahnya cinta mereka diperparah dengan adanya konflik antara warga pribumi dan Tiong Hoa, dua tahun setelah kejadian Bandung Lautan Api. Masalah ini juga diceritakan dalam buku “Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan”, yang ditulis Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, dan Ummy Latifah.

Dalam buku itu, konflik terpicu saat para pengungsi yang membakar rumahnya saat Bandung Lautan Api, kembali ke tempat tinggal mereka. Mereka kaget karena rumah mereka sudah ditempati orang lain.

“Ada anggapan, orang Tionghoa merebut atau mengambil tempat tinggal mereka, kala itu,” kata Sekretaris Eksekutif  Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Frances B. Affandy, yang juga istri Didi.

Walau amuk konflik mendera kota, tidak serupa dengan cinta Khoe terhadap Uun. Dua tahun, pemuda Tionghoa itu tetap berharap cinta si gadis pribumi. Dua tahun ia menjelajahi setiap pengungsian di Bandung selatan, namun Uun tak pernah ditemukan.

Sampai pada suatu hari datang keajaiban. Sekitar dua tahun lebih setelah mengungsi, Khoe mendapat kabar soal keberadaan Uun dan keluarga. Maka dengan cepat ia perintahkan anak buahnya untuk menemui keluarganya. Pucuk dicinta ulam tiba, sang utusan tak salah jalan.

“Mang Pii [sang utusan] datang sembari membawa timbel, tapi begitu dibuka di dalam timbel yang cukup besar gulungannya itu ada kain pemberian Uun buat Tjandra. Itu sangat mengharukan,” kata Didi.

Kain itu adalah kode bagi Uun kalau Khoe mencarinya. Setelah itu, Uun dan Didi diboyong Khoe kembali ke kota dan diajak tinggal dirumahnya. “Bukan hanya itu, ternyata Khoe menjagakan puing-puing rumah kami selama kami mengungsi, ia sungguh-sungguh  bersetia, melintasi konflik antara pribumi dan Tionghoa kala itu,” tambah Didi.

Enam bulan setelah itu, seluruh keluarga Didi kembali ke Bandung. Uun dan Tjandra kemudian menikah. Pada tahun 1985, Uun meninggal dunia akibat kanker. Dua minggu kemudian, Khoe menyusul cinta sejatinya ke alam baka.

“Cerita cinta Uun dan Khoe adalah bukti bahwa tidak semua orang Tionghoa kala itu berkonflik dengan warga pribumi setelah kejadian,” kata Frances. Masih ada cerita cinta setia, yang melintasi semua batasan etnis, dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.