Newsroom Blog

Kisah Kecil di Kereta

Mungkin benar kata seorang yang tak dicatat namanya di bab dua buku The Geography of The Bliss karya Eric Weiner: bahagia adalah saat anda tidak ingin berada di tempat lain, melakukan hal lain, atau menjadi orang lain. Dan kebahagiaan itu, saya percaya, bisa bermula dari hal-hal sederhana, seperti merelakan tempat duduk di kereta komuter.

Tenang, ini bukanlah cerita heroik tentang seorang lelaki gagah yang memberikan tempat duduk untuk ibu hamil atau kakek duapertiga abad, dengan pesan moral “berikan tempat duduk anda untuk orang yang membutuhkan”. Ini adalah cerita tentang seorang anak kecil.

Sore menjelang malam, saya bermaksud untuk pergi ke Tebet menggunakan kereta ekonomi. Sebagai warga roker—rombongan kereta—yang kenal medan, saya tahu pasti bahwa saya tidak akan mendapatkan tempat duduk sekalipun saya naik dari Stasiun Kota. Di jam-jam itu, jurusan Jakarta-Bogor memang berganti haluan menjadi jurusan Jakarta-Horor.

Saya segera masuk ke dalam kereta. Setelah mondar-mandir dan menengok kanan-kiri, saya putuskan untuk berdiri di tengah gerbong, di depan kursi kedua dari pintu—jika memang memang masih layak disebut pintu—dengan pertimbangan bahwa lampu di situ menyala. Maklum, di dalam kereta ekonomi, yang telah menjadi salah satu ruang baca favorit saya semasa kuliah, lampu-lampu yang mati dan hidup tersusun acak, bahkan di dalam satu gerbong yang sama.

Tak lama, kereta mulai berjalan; saya mengeluarkan buku bacaan saya. Kebetulan, menu saya minggu itu sudah saya sebutkan di awal, sebuah buku yang berisikan rekaman perjalanan seorang jurnalis di sepuluh negara berbeda untuk mencari makna kebahagiaan.

Konon, kata orang bijak, pembaca buku yang baik harus sesekali mengalihkan pandangan dari buku agar mata tak cepat rusak. Saya memegang teguh prinsip ini setiap kali membaca di kereta, namun dengan tujuan agar stasiun yang dituju tidak terlewatkan. Maka, sembari kereta melaju, saya sesekali memperhatikan sekitar.

Tepat di depan saya ada seorang anak kecil duduk yang menarik perhatian saya; umurnya sekitar sepuluh tahun. Selama perjalanan, ia tampak gelisah.

Berkali-kali ia menoleh ke arah pintu, menatap ke seorang bapak bertopi. Mereka jelas saling kenal, karena berkali-kali juga bapak itu membalasnya dengan tatapan tegas, seolah menyuruh anak itu untuk tetap duduk tenang. Anak itu patuh.

Namun, kekuatan tatapan tersebut tak bertahan lama.

Saat kereta memasuki Stasiun Gambir, tiba-tiba saja anak tersebut berdiri dan menghampiri sang bapak. Tentu saja, sepersekian detik kemudian, seorang warga kereta segera mengisi tempat duduk yang lowong ditinggal itu. Tetapi ia sama sekali tidak peduli, tak sedikit pun ia menengok kembali ke mantan tempat duduknya.

Ia kemudian memegang lengan bapak itu—seorang yang saya yakini kemudian adalah ayahnya—dan menyandarkan kepalanya. Seketika mereka hanyut dalam dunia mereka sendiri, dalam canda tawa yang redam tertiup angin malam. Anak itu menunjuk ke arah bangunan-bangunan di luar dengan mata membesar penuh rasa ingin tahu; sang bapak menceritakan sesuatu yang tak bisa saya dengar. Ya, saya tak pernah tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi saya samar-samar dapat merasakan. Mereka begitu menikmati saat itu.

Ah, rupanya sesak kereta masih menyisakan senyuman, pikir saya.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.