Newsroom Blog

Lanjutan Kisah Gedung yang Sedang Dihancurkan

Ternyata gedung itu belum punya IMB!

Demikian keterangan perwakilan Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan (DP2B) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal itu dikatakannya pada pertemuan warga Menteng pada hari Kamis, tanggal 24 Mei 2012 di Hotel Cipta, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Pertemuan ini adalah inisiatif warga yang keberatan dengan penghancuran gedung bersejarah di JL Cilacap No 4 Menteng. Bangunan cagar budaya golongan “A” itu sedang dalam proses dihancurkan oleh pemiliknya.



Pada pertemuan itu, hadir Adolf Heuken yang memberikan banyak keterangan (Adolf adalah penulis berbagai buku tentang sejarah Jakarta, termasuk buku “Menteng, Kota Taman Pertama di Indonesia”).

Adolf sendiri adalah warga Menteng sejak awal tahun 1970-an. Rumahnya di Menteng tergolong kategori “B”. Jadi dia sangat paham tentang peraturan yang berlaku dan sejarah penataan Menteng.

Menurut Adolf, Gedung Telefoongebouw atau eks P&K itu bergolongan “A”. Artinya baik bagian luar maupun dalam tidak boleh diubah. Adolf membuktikan ini melalui lampiran peta penggolongan pelestarian bangunan di Menteng pada bukunya tersebut di atas.

Menurut Adolf, dua tahun lalu dia juga masih melihat peta yang sama di kantor DP2B yang masih menggolongkan gedung tersebut “A”. Adolf sangat kaget ketika diberitahu bahwa oleh DP2B gedung itu kini digolongkan “B”.

Kapan berubahnya? Bagaimana prosesnya? Hingga sekarang belum terhimpun informasi yang jelas.

Tetapi, masih menurut Adolf Heuken, bahkan suatu bangunan yang tergolong “B” tidak boleh dihancurkan sedikit pun, karena hanya boleh diubah bagian dalamnya, sedangkan bagian luarnya harus dipertahankan sebagaimana aslinya.

Adolf juga mengkritik rencana bangunan baru yang akan dibangun, yakni suatu hotel setinggi delapan lantai. Bagaimana mungkin pemerintah mengizinkan suatu bangunan komersial di tengah-tengah kawasan permukiman (menurut tata ruang yang diketahuinya masih berlaku), di jantung kawasan bersejarah Menteng?

Patut sekali dicurigai ada manipulasi perizinan, perubahan peruntukan dan penggolongan bangunan secara diam-diam.

Adolf Heuken adalah juga anggota Tim Penasihat Arsitektur Kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dia adalah satu-satunya anggota tim bukan-arsitek pada lembaga yang terkesan merupakan sisa peninggalan teknokrasi Orde Baru itu. Teknokrasi dalam arti: seolah-olah masalah sejarah bangunan hanyalah urusan para “ahli” arsitektur. 

Pertemuan warga itu dihadiri belasan warga, antara lain M.A. Rohadi Subardjo, putra almarhum Achmad Soebardjo, menteri luar negeri pertama Republik Indonesia, yang dengan sukarela dan biayanya sendiri telah melestarikan kediaman beliau di Jalan Cik Di Tiro, Menteng, Jakarta.

Warga Menteng yang hadir pada pertemuan itu akhirnya memutuskan akan mengirim surat kepada Gubernur Jakarta untuk meminta penjelasan resmi.

Marco Kusumawijaya adalah arsitek dan urbanis, peneliti dan penulis kota. Dia juga direktur RujakCenter for Urban Studies dan editor http://klikjkt.or.id.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.