Newsroom Blog

Lokakarya Smart City (2): Mobilitas

Empat lajur jalan tol dalam kota Jakarta disatukan dan diubah fungsinya menjadi taman super panjang — membentang dari Patung Dirgantara di Pancoran hingga ke utara, ke persimpangan tol bandara. Mobil yang berseliweran di jalan tol pun hilang, digantikan manusia yang berkegiatan sosial di taman. Mereka berolahraga, bermain, bercocok tanam, dan lain-lain. Bagaimana mungkin?


Seperti itulah gagasan “Magic Belt” karya Ria Pratama Istiana. Ia mengusulkan lajur di jalan tol dipangkas hingga tinggal satu lajur bagi bus khusus untuk masing-masing arah. Bus khusus ini akan mampu mengangkut penumpang yang sebelumnya pergi naik mobil. Dengan begini, lajur yang tadinya digunakan mobil bisa dibongkar dan dijadikan taman, seperti yang terjadi di beberapa kota di dunia.

Gagasan Ria Pratama itu adalah satu dari empat ide yang terkait mobilitas yang dihasilkan dalam lokakarya Smart City = Smart Citizens + Smart Process untuk bahan pameran bulan Mei-Juli 2013 di Aedes Architectural Forum, Berlin. Lokakarya ini diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studes bekerjasama dengan Goethe Institut dan Aedes Architectural Forum.

Gagasan lain, “Carnival Mobility” datang dari Andreas Wibisono. Ia ingin mengubah "waktu kosong" di perjalanan ulang-alik angkutan umum, terutama kereta api, menjadi lebih bermakna. Caranya, dengan berbagai kegiatan interaktif sehingga meningkatkan sosialitas di antara sesama warga pengulang-alik.
Ilustrasi perubahan dalam diri penumpang setelah perjalanan yang bermakna.
Misalnya: ada gerbong dengan pegangan tangan yang memiliki tombol. Bila dipencet, tombol itu akan menghasilkan nada angklung tertentu. Gerbong lain berisi permainan di layar yang dipasang di dinding di atas jendela, juga dikendalikan dengan tombol di pegangan tangan. Gerbong lain lagi akan memliki gantungan yang berpemberat sehingga bisa untuk olahraga ringan.
Warga akan produktif jika hanya menghabiskan 90 menit di jalan.

Mufti Riyan menawarkan “Smart Park & Ride”. Para pengulang-alik bisa memarkirkan mobil mereka di ujung-ujung jalur busway di tepi Jakarta. Mereka bisa parkir di bangunan komersial yang sudah ada. Yang penting bisa jalan kaki nyaman dari tempat parkir ke halte busway. Jumlah mobil yang masuk kota pun bisa berkurang dengan begini.

Dzikri Prakasa Putra mengusulkan gelang "Smart Bracelet" yang berfungsi sebagai tiket sekaligus memberi info kepada sistem untuk menghitung berapa jumlah orang yang telah memasuki bus, dan kemudian memberitahu halte-halte di sepanjang rutenya. Dipadukan dengan “Smart Park & Ride”, gagasan ini akan meningkatkan efisiensi busway.

Gagasan lain, dari Soritua Sidjabat, menawarkan tiang penghalang di trotoar yang akan menyemprotkan cat warna-warni kepada sepeda motor yang melintas.

Maklum, banyak pejalan kaki yang kesal terhadap pengendara sepeda motor yang naik ke trotoar. Teguran tidak mempan, malah dapat memicu konflik. Maka, bagaimana bila sepeda motor otomatis disemprot cat bila tetap ngotot naik trotoar?


Belum ditentukan cat seperti apa yang akan disemprotkan. Haruskah cat yang sulit dibersihkan, supaya para pemotor nakal pelanggar hak pejalan kaki benar-benar kapok? Bagaimana menurut Anda?

Baca juga ide-ide keren lain di sini: Empat prakarsa berbasis IT untuk Jakarta lebih baik.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.