Newsroom Blog

Masalah Baru dari Pelebaran Ciliwung

Apakah Anda tahu di mana tempat paling mudah melihat Sungai Ciliwung di dalam kota Jakarta? Menurut hemat saya, tempat itu berada di dekat Patung Pak Tani, di Kwitang, di sebelah Toko Buku Gunung Agung.

Seperti halnya Teluk Jakarta (dengan panjang pantai 30 kilometer), Ciliwung jarang sekali terlihat dalam kegiatan sehari-hari warga Jakarta karena umumnya terhalang bangunan. Sebagian warga Jakarta tidak lagi menyadari di mana keberadaannya.

Karena itu mungkin akan indah sekali apabila lebar Sungai Ciliwung ini dapat dikembalikan seperti semula, supaya bisa terlihat oleh warga Jakarta dalam keseharian mereka.

Bersama pantai teluk Jakarta, Ciliwung adalah salah satu sebab asal-usul Jakarta. Sebab, semua kota yang dimulai oleh masyarakat (bukan oleh raja) umumnya didirikan di dekat muara — tempat sungai bertemu laut.

Belum lama ini kita membaca dan mendengar adanya rencana pemerintah Jakarta membebaskan tepian kiri dan kanan Sungai Ciliwung untuk membantu mengurangi banjir. Tepian yang bebas ini akan memperbesar daya tampung Sungai Ciliwung, serta melancarkan aliran airnya.

Tujuan ini mungkin baik. Tetapi ada beberapa pertanyaan. Pertama: akan dipindahkan ke mana puluhan ribu warga yang menempati kedua tepi Ciliwung?

Warga tepian CIliwung. Foto: Tempo

Jawaban yang kita peroleh sementara ini adalah, mereka akan dipindahkan ke rumah susun yang akan dibangun di beberapa tempat. Mampukah pemerintah mengurus pemindahan ini dengan baik? Sejauh ingatan, belum ada prestasi pemerintah dalam hal demikian.

Apakah benar mereka harus dipindahkan? Tidak adakah solusi lain, misalnya membuat rumah susun bertiang/panggung di bagian bawah, atau rekayasa untuk memperbesar luas penampang sungai Ciliwung?

Pertanyaan lain: bukankah mengosongkan tepian Sungai Ciliwung hanya akan memindahkan mereka yang dulu terkena banjir — dan bukan mengurangi banjir itu sendiri?

Membersihkan lahan di kiri kanan sungai itu akan membuat air mengalir tanpa halangan, dengan kemungkinan akan menerjang kawasan-kawasan baru di sekitar lintasannya.

Cara lestari mengurangi banjir adalah mengurangi debit air permukaan yang mengalir ke sungai, yaitu dengan menyimpannya sebanyak mungkin di kawasan hulu. Penyerapan air ke dalam tanah juga harus diusahakan sehingga air yang mengalir melalui sungai tidak menerus bertambah banyak dan cepat sampai ke kota.

Ini menuntut penghutanan kembali kawasan hulu.

Seberapa pun sungai diperlebar, jika debit air dibiarkan terus bertambah, tetap saja air akan meluap melewati batas.


Lihat perjalanan sungai Ciliwung dari hulu ke hilir: Mengalir bersama Ciliwung.

Marco Kusumawijaya adalah arsitek dan urbanis, peneliti dan penulis kota. Dia juga direktur RujakCenter for Urban Studies dan editor http://klikjkt.or.id.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.