Newsroom Blog

Media yang Tak Seimbang Pada Pemilu Malaysia

Media seharusnya menjadi pemantau dan pengawas, apalagi dalam proses pemilihan umum. Namun, membaca artikel koran soal kampanye pemilihan umum Malaysia di berbagai media cetak dan elektronik, terlihat jelas bias yang muncul dari nada pemberitan media setempat. Sering sekali tak terlihat bedanya antara advertorial politik dan sebuah berita.

Misalnya, sebuah berita tentang kampanye Perdana Menteri Najib Razak di daerah pedesaan yang mencantumkan lengkap apa yang dia katakan dan uang yang dia bagikan, termasuk tuduhan-tuduhannya pada partai opisisi tanpa ada kutipan penyeimbang.

Model berita semacam ini terus sampai halaman 17 di samping satu halaman iklan koalisi berkuasa Barisan Nasional di setiap lembarnya. Sekalinya ada tokoh partai oposisi yang dikutip, hanya satu orang untuk satu berita dan tidak menjawab tuduhan-tuduhan dari berita-berita sebelumnya.

Sebuah penelitian 'Watching the Watchdog' tentang peliputan media Malaysia untuk pemilu 2013 dari peneliti University of Nottingham Malaysia dan Centre for Independent Journalism menemukan bahwa pemilih di Malaysia tak mendapat informasi yang adil dan objektif tentang lanskap politik menjelang pemilu.

"Selamat datang di Malaysia," kata Executive Officer Centre for Independent Journalism Masjaliza Hamzah, Jumat (3/5) di Petaling Jaya, Malaysia.

Tak ada yang berubah dari gaya pemberitaan media Malaysia menjelang pemilu. Malah Masjaliza melihat ada intensitas yang lebih tinggi dalam serangan-serangan politik yang dilancarkan.

Beberapa temuan kunci pada hasil penelitian yang mereka presentasikan termasuk adanya porsi pemberitaan lebih banyak untuk koalisi yang masih berkuasa di Malaysia, Barisan Nasional. Sering perbedaan itu sangat besar jaraknya. Bukan hanya porsinya yang lebih besar, tapi pemberitaan mereka diberikan dalam nada yang positif.

Sumber berita online hanyalah satu-satunya pihak yang tak menuruti norma itu, karena mereka memberi kuantitas dan kualitas pemberitaan berimbang pada Barisan Nasional dan oposisi Pakatan Rakyat.

Perdana Menteri Najib Razak adalah figur yang paling banyak diberitakan. Dia, bersama mantan PM Mahathir Mohammad dan politisi lain Muhyidin Yassin menjadi trio yang bertanggungjawab atas dua pertiga serangan politik yang muncul di media.

Menurut Masjaliza, malah dalam iklan-iklan serangan politik, strategi yang sama terus saja diterapkan. Sejak 1999, iklan politik sudah mengingatkan akan ancaman bahwa penduduk etnis Tionghoa bakal kehilangan identitas dan budayanya jika memilih pada koalisi oposisi.

Sekarang pun, iklan-iklan dari Barisan Nasional menyoroti keberadaan PAS yang notabene partai Islam dalam koalisi oposisi Pakatan Rakyat. Iklan-iklan Barisan Nasional menyebut bahwa PAS akan menerapkan hukum Islam di Malaysia dan menghilangkan minuman keras serta babi.

"Orang-orang sadar bahwa kualitas peliputan soal media sangat buruk. Mereka bahkan berhenti membaca berita-berita dari media yang berafiliasi atau malah dimiliki oleh koalisi yang berkuasa," tambah Mas.

Pemilih muda pun kemudian beralih ke media online. Namun sebenarnya mereka sudah tahu siapa yang mau dipilih. Bagaimana media melaporkannya, tak akan mempengaruhi keputusan mereka. Maka mereka menggunakan media untuk mencari tahu di mana tempat terjadinya kampanye-kampanye, apa yang terjadi di kota-kota atau daerah-daerah lain yang belum diberitakan, agar bisa dibagi ke sesama teman mereka.

Bukan berarti pula media online bebas dari gangguan. Cara baru yang dicatat oleh kelompok masyarakat PEMANTAU adalah munculnya serangan-serangan online yang membuat beberapa situs, termasuk situs berita MalaysiaKini, tak bisa dibuka karena seolah-olah dikunjungi terlalu banyak orang.

Zaharom Nain, profesor dan direktur di riset fakultas seni dan ilmu sosial University of Nottingham kampus Malaysia, menambahkan, selain taktik-taktik yang menyulut ketakutan, ada cara baru yang muncul di media untuk menyerang lawan politik. "Tahun ini, seks adalah hal besar. Ada banyak sekali video seks yang muncul. Setiap minggu ada saja video yang muncul dari pemimpin oposisi," kata Zaharom.

Situasi ini tentu saja tak ideal. Tapi, menurut Masjaliza, perubahan lanskap media di Malaysia tentu tergantung pada hasil pemilihan Minggu (5/5) nanti. Pemilu di mana calon pemilihnya tak mendapat akses informasi dan berita yang berimbang akan siapa yang mereka pilih.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.