Newsroom Blog

Memilih Nasib Jakarta

Lima tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah dan memperbaiki suatu kota. Pemimpin berperan sangat penting menentukan arah, apalagi untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, poros berputarnya Indonesia.

Masing-masing calon Gubernur DKI Jakarta punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Fauzi Bowo sebagai incumbent pastinya sudah berpengalaman. Foke adalah wakil gubernur pada masa Sutiyoso dan menjadi Gubernur 5 tahun terakhir. Namun banyak pula yang berpendapat bahwa pada lima tahun kepemimpinannya yang pertama tak banyak perubahan yang terjadi di Jakarta.

Hendarji Supandji punya kelebihan sebagai calon independen yang tidak dilatarbelakangi kepentingan partai. Sayang, dia berkampanye dengan cara menyudutkan calon lainnya. Joko Widodo dipuji karena keberhasilannya dalam mengatur kota Solo, tapi juga dikritik karena meninggalkan Solo sebelum masa kerjanya berakhir.

Hidayat Nur Wahid adalah negarawan yang menjadi ketua MPR periode 2004-2009. Slogan kampanyenya "Beresin Jakarta" ditempelkan secara masif di fasilitas-fasilitas umum. Faisal Basri dikenal bersih, anti korupsi serta punya program kerja yang jelas. Dia juga calon independen yang tidak berutang pada partai politik. Alex Noerdin punya program memperbaiki Jakarta dalam tiga tahun. Tapi, dia juga meninggalkan Sumatera Selatan sebelum masa jabatannya berakhir.

Keenamnya sudah menjelaskan apa yang akan mereka lakukan jika terpilih menjadi Gubernur. Tentu saja semuanya mengemukakan program yang baik. Masalahnya, mana yang paling bisa dipercaya dan akan memenuhi janji-janji kampanye tersebut?

Menjelang pemilihan, kuat dugaan akan ada calon yang menyuap para pemilih. Ambil uangnya atau tidak, terserah Anda, tapi jangan pilih orang itu. Belum terpilih saja sudah licik dan korup, bagaimana dia bisa diharapkan untuk memimpin kota ini lima tahun ke depan?

Anda ingin memilih tapi belum menerima undangan atau kartu pemilih? Jangan khawatir, menurut Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 tahun 2010 pasal 17A, Anda tetap bisa menggunakan hak pilih.

"Pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT tapi tercantum dalam data pemilih dapat memberikan suara di tempat pemungutan suara," demikian bunyinya. Artinya, Anda cukup datang untuk konfirmasi ke TPS di tempat tinggal Anda dengan menunjukkan kartu tanda penduduk. Jika nama Anda ada dalam daftar pemilih, Anda bisa memilih.

Kenapa penting untuk menggunakan hak pilih? Karena suara Anda menentukan nasib Jakarta.

Warga Jakarta tak hanya memilih untuk menentukan nasibnya sendiri, tapi juga nasib jutaan orang lain yang mencari penghidupan di ibu kota. Sebagai ibu kota, Jakarta bukan hanya milik orang-orang ber-KTP Jakarta. Jakarta juga milik pendatang dari daerah-daerah lain di Indonesia, atau para penglaju yang setiap hari datang dan pergi.

Selamat memilih. Nasib Jakarta untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk, ada di tangan Anda.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.