Newsroom Blog

Mempertahankan Tempat Duduk di KRL

Di artikel sebelumnya, saya membahas ragam taktik mendapatkan tempat duduk di KRL. Namun, jangan senang dulu apabila Anda berhasil mendapatkannya, karena perjuangan untuk duduk di KRL tidak berhenti sampai di sana.

Hal yang kemudian harus Anda lakukan agar dapat duduk nyaman sampai tujuan adalah mempertahankan tempat duduk — dan ini tidak kalah sulit dari mendapatkan tempat duduk, apalagi bagi orang yang berhati baik atau tidak bisa berlaku cuek.

Ketika ada seorang ibu berdiri menggendong anak atau ada seorang kakek yang berdesakan dengan penumpang lain, masak sih Anda tidak terpanggil untuk memberikan tempat duduk?

Atau bila Anda seorang lelaki dan melihat seorang wanita cantik kewalahan menahan goyangan kereta, masak Anda tidak ingin berjiwa ksatria dan menggantikannya untuk berdiri? Wah, yang ini bisa jadi malah lebih ikhlas.

Mempertahankan tempat duduk pada akhirnya bukanlah perihal kecerdasan atau ketangkasan, melainkan perang psikologis melawan hati nurani, dan taruhannya adalah harkat martabat sebagai seorang manusia. Belum lagi jika Anda masih cukup muda dan orang-orang di sekitar Anda kemudian mengeluarkan tatapan penuh arti setengah menyindir.

Sementara banyak warga komuter yang memang dengan ikhlas memberikan tempat duduk, banyak juga yang memilih untuk tak acuh (dan menurut saya tidak salah juga). Di KRL, hukum rimba “siapa cepat dia dapat” dijunjung tinggi, dan setiap orang tidak lebih berhak dari yang lain.

Masalahnya pun tidak sesederhana apa yang terlihat di permukaan. Kenyataannya, banyak juga orang yang dengan cerdik memanfaatkan hati nurani warga komuter demi mendapatkan tempat duduk. Teman saya bercerita, ia pernah melihat seorang ibu yang membawa seorang anak yang sebenarnya cukup dewasa untuk berdiri. Tetapi, ia dengan sengaja menggendong anaknya di KRL demi mendapatkan tempat duduk.

Komentar para pembaca Yahoo! di artikel sebelumnya bersuara serupa. Anita menyerukan teknik memakai baju untuk ibu hamil sembari memegang perut.

Budianto Budi dan Wims menceritakan pengalaman mereka menyaksikan ibu-ibu yang dengan sengaja menyenggol dengkul orang yang sedang duduk. Ada juga modus lain dengan memegang kantong belanjaan yang seolah terlihat berat sembari memasang muka letih, padahal sebenarnya barang-barangnya bisa diletakkan di lantai atau rak di atas tempat duduk.

Pengalaman berbeda justru dialami teman-teman saya ketika berada di Jepang dan Australia. Mereka bercerita, banyak orang tua di sana yang justru tersinggung ketika diberikan tempat duduk.

Teman saya menyaksikan sendiri. Ada seorang kakek yang marah-marah dan langsung berpindah gerbong ketika ada yang ingin memberikan tempat duduk. Bagi mereka, hal tersebut adalah ageism — tindakan diskriminasi atau menstereotipkan individu atau kelompok berdasarkan umur.

Nah, rupanya warga komuter Jabodetabek memang bukan orang sembarangan. Apakah mereka memang tidak rela menyerahkan tempat duduk atau sedang berperang menghadapi orang-orang yang dengan sengaja memancing iba, ada saja cara mereka untuk menghindarinya.

Salah satu trik yang paling gamblang adalah dengan pura-pura tidak melihat. Sangat cocok untuk yang bermuka tebal dan berjiwa cuek. Inti dari trik ini adalah menghindari tatapan orang-orang di sekitar Anda dan berusaha tidak memikirkan apa yang orang pikirkan atas Anda.

Trik lain adalah dengan membaca. Apabila membaca buku, Anda perlu menunjukkan mimik serius dan fokus, sehingga orang di sekitar Anda tidak berani menggubris. Tetapi, jika membaca koran, cukup meninggikan tangan Anda hingga koran tersebut menutupi wajah.

Adapun trik terakhir, paling nyaman dan paling sering dilakukan, adalah dengan tidur atau berpura-pura tidur, yang sangat mantap apabila dikombinasikan dengan mendengarkan lagu hits terkini melalui earphone.

Selamat berkereta ria!

Robin Hartanto adalah warga Jakarta yang menghabiskan separuh hidupnya di jalan. Separuhnya lagi dia habiskan untuk bekerja sebagai arsitek junior di Avianti Armand Studio.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.