Newsroom Blog

Menyeberang Jalanan, Menantang Jakarta

Saat saya masih kecil, orangtua saya melarang saya menyeberang jalan raya sendirian. Alhasil, ketika pertama kali nekat menyeberang jalan raya sendiri, saya — masih begitu lucu dan polos — merasa seperti jagoan yang berada di medan perang, hendak menundukkan musuh-musuh, yang tak lain tak bukan adalah kendaraan-kendaraan bermotor.

Sebenarnya pengalaman itu biasa saja dan dapat saya lalui dengan mudah, tetapi imajinasi anak kecil yang senang melebih-lebihkan membuat saya bangga akan pengalaman itu.

Saya memulai dengan tengokan kiri-kanan, memastikan keberadaan lawan. Menyadari jangkauan kaki yang tak seberapa, saya melangkah cepat dan gesit, sembari sesekali melihat ke bawah agar tidak tersandung. Tak lama, saya pun sampai di tujuan dengan merasa gagah.

Itulah kisah yang sudah berumur belasan tahun, yang terjadi saat jumlah kendaraan bermotor di Jakarta masih sekitar dua-tiga juta.

Sekarang ini, apa yang harus dihadapi pejalan kaki yang hendak menyeberang jalanan Jakarta adalah arena pertarungan yang tiga kali lipat lebih keras. Jumlah kendaraan bermotor saat ini menyentuh angka 10 juta dan terus bertambah ribuan per hari, seakan tidak mau kalah dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

Fasilitas penyeberangan jalan di Jakarta yang nyaman bukanlah prioritas kota. Pembangunan jalan layang yang memakan ratusan miliar rupiah tampaknya lebih mendapatkan tempat di hati pemerintah, ketimbang jembatan penyeberangan yang tidak sampai Rp 1 miliar. Berita mengenai fasilitas penyeberangan jalan hampir tak terdengar, sementara berita pembangunan jalan layang tidak pernah berhenti tayang.

Sementara tidak ada penambahan fasilitas yang berarti, tak jarang ada pengurangan yang memberatkan kaki.

Dua tahun lalu, saya terkejut melihat zebra cross di dekat Museum Fatahillah, hanya tinggal setengah jalan. Beberapa hari kemudian, zebra cross itu sepenuhnya hilang dan sampai sekarang tidak pernah ada lagi. Padahal, lebar jalan di sana mencapai 25 meter.

April 2012 lalu, saya kembali terkejut ketika melihat jembatan penyeberangan di Jalan Medan Merdeka Timur, depan Markas Kostrad-Garnisun, tidak lagi berpagar. Rupanya, jembatan tersebut baru saja dibongkar karena rusak parah setelah ditabrak truk.

Jembatan itu tidak akan kembali dibangun. (http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=50376)

Bagi para penyeberang, perilaku pengendara kendaraan bermotor adalah musuh dari kubu lain, jikalau bukan sekutu dari kubu pemerintah.

Lambaian tangan tidak pernah lagi cukup untuk membuat pengendara berhenti. Bukannya melambat, banyak dari mereka yang justru mempercepat laju ketika melihat ada yang ingin menyeberang. Mereka seakan tidak mau kehilangan sekian detik pun di jalan, entah sedang mengejar omzet atau sedang dikejar setan.

Bagi saya, zebra cross tidak pernah betul-betul membantu menyeberang jalan. Saya menyeberang di zebra cross sekadar sebagai perlindungan hukum. Setidaknya apabila ditabrak, saya (jika masih bernapas) bisa melabrak.

Duel antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor bukanlah kisah Daud melawan Goliath. Jika berlangsung di dalam ring tinju, maka pejalan kaki sudah berkali-kali ditonjok hingga babak belur hanya dalam satu-dua ronde.

Jumat pekan lalu, seorang bocah 10 tahun tewas tertabrak Bus Transjakarta koridor VI (Dukuh Atas-Ragunan). Saat itu, ia bersama ibunya yang, entah bagaimana ceritanya, sudah berada di seberang jalan lebih dahulu. Berdasarkan peraturan yang berlaku, mereka jelas salah karena tidak menyeberang pada tempatnya. (Lagipula, tempat kejadiannya berjarak sekitar 50 meter dari zebra cross.)

Namun, kita hanya bisa sepenuhnya menyalahkan mereka apabila kota ini memang dirancang dengan baik dan lebih manusiawi. Di tempat itu pernah terjadi kecelakaan serupa. Di sepanjang busway koridor VI, malah sudah berkali-kali.

Yang dibutuhkan adalah perancangan kontekstual yang mempertimbangkan berbagai aspek di setiap lokasi sesuai dengan keunikannya masing-masing, bukan sekedar modul-modul praktis yang tinggal ditaruh di sana-sini. Apalagi, aktivitas menyeberang selalu berkaitan dengan banyak faktor lain: fasilitas penyeberangan, fasilitas pedestrian, kondisi jalan raya, tempat asal dan tujuan menyeberang, serta pola perilaku pengguna jalan setempat.

Selama fasilitas penyeberangan tidak cukup nyaman bagi pejalan kaki; selama fasilitas penyeberangan tidak memadai dan tidak cukup nyaman untuk pejalan kaki; selama pengendara kendaraan bermotor tidak bersahabat dengan pejalan kaki; selama itu pula kita tidak berhak sepenuhnya menyalahkan pejalan kaki yang menyeberang sembarangan.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.