Newsroom Blog

Merawat Sungai dengan Ayunan

Instalasi berbahan bambu itu tampak begitu kontras dengan sungai kecil di bawahnya. Cat kuning mentereng menyelimuti seluruh instalasi, menyisihkan warna keruh sungai. Benda-benda yang berada padanya — ayunan kecil, kotak-kotak sampah, pot-pot tanaman, kursi, dan balon warna-warni — seolah menertawakan sampah-sampah yang menumpuk di sepanjang sungai.

Lalu di sekitarnya, puluhan anak ramai berkerumun.

“Nama kamu siapa,” tanya Talisa, seorang mahasiswa, kepada seorang anak yang menghampirinya. Muka letihnya seketika hilang berganti senyum riang.

“Aryo Bimo.”

“Aryo kalau buang sampah di mana?”

“Di tempat sampah!”

Mudah saja bagi Aryo untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi ia tidak sekadar menjawab, sebagaimana pelajaran di kelas. Ia memegang sekantong sampah di tangannya. Sampah itu adalah tiket menuju instalasi.



Sesampainya di depan instalasi, Aryo mempunyai pilihan: membuang sampah ke kotak sampah yang tersedia atau membuang sampah ke sungai. Tanpa pikir panjang, ia memilih yang pertama dan bergegas menikmati ayunan. Satu-dua kali mengayun, ia pun tertawa lepas. Mungkin pertama kali dalam hidupnya, membuang sampah bisa begitu menyenangkan.

Instalasi itu berada di Cikini Keramat, RW 01, RT 05, Jakarta Pusat. Sebanyak 13 peserta, yang terdiri atas mahasiswa arsitektur dari Universitas Indonesia, Chiba University, dan Kyoto University, bekerja sama membangun instalasi ini. Mereka melakukannya dalam rangka bengkel kerja “Intervensi Desain untuk Kali Kecil di Kampung Cikini”, yang berlangsung 8-16 September 2012. 

Bengkel kerja ini merupakan wujud kerja sama antara Research Institute for Humanity and Nature (RIHN), sebuah lembaga riset yang berpusat di Jepang, dan Departemen Arsitektur Universitas Indonesia. Terinspirasi dari gagasan toilet “helikopter” (toilet di atas sungai), bengkel kerja ini bermaksud mengembangkan gagasan membuat ruang fungsional alternatif di atas sungai.

Melihat kurangnya ruang bermain untuk anak-anak di kampung Cikini Keramat, para peserta kemudian mencoba menggagas ruang bermain di atas sungai. Namun, tujuan akhir dari instalasi ini bukan semata-mata sebagai tempat bermain. Lebih jauh, instalasi ini mencoba memberikan perspektif baru terhadap keberadaan sungai.

“Kami ingin mengubah pandangan masyarakat akan sungai, yang selama ini cenderung kumuh dan menjadi tempat sampah, dengan cara memberikan fungsi lain atas sungai,” ujar Yuki Hoshikata, salah seorang peserta asal Jepang.

Pak Alekh Daemalongi, ketua RW 01, menangkap jelas pesan dari instalasi ini. “Selama ini, kerja bakti rutin diadakan setiap bulan; pagi hari dibersihkan, sore hari sudah banyak sampah,” keluhnya. “Poin penting dari instalasi ini adalah pelajaran untuk tidak membuang sampah ke kali.”

Sekilas tampak sederhana, proses pembuatan instalasi ini bisa dibilang cukup berliku. Desain awal yang sudah disetujui oleh warga, mendadak ditolak di tengah jalan karena masalah lokasi. Setelah lokasi intervensi dipindahkan ke RT 05, rancangan pun harus segera diubah dengan menyesuaikan waktu dan kondisi lokasi baru. Saat itu, hanya tersisa empat hari.

Para peserta pun bekerja cepat untuk mendirikan instalasi, dengan bantuan tenaga warga sekitar. Bahkan, ada juga warga yang membawakan makanan untuk mereka, dengan cuma-cuma. Setelah perjuangan keras berhari-hari, instalasi ini akhirnya berhasil diselesaikan tepat waktu, hari Sabtu (15/09/12).

Selain memberikan manfaat bagi warga setempat, bengkel kerja ini juga meninggalkan pengalaman unik bagi para peserta. Zaimuddin Khairi, salah seorang peserta dari Universitas Indonesia, merasa senang mengikuti bengkel kerja ini karena mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan mahasiswa Jepang. “Mereka sangat disiplin terhadap waktu dan menjunjung tinggi keamanan dalam desain,” ujarnya.


Begitu pula Yuki, yang mengungkapkan kegembiraannya karena dapat mengikuti bengkel kerja ini. Baginya, orang-orang Indonesia sangat menyenangkan. “Lihatlah, kalian selalu tersenyum.”

Ah, Yuki, bisa saja memuji. :)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.