Newsroom Blog

Mobil Listrik Dahlan Iskan untuk Siapa?

Menteri BUMN Dahlan Iskan kembali bikin berita. Dia menyusuri jalanan Jakarta dengan menunggang sebuah mobil listrik, tak lupa sambil mengenakan caping. Dengan sumringah, Dahlan mengatakan mobil listrik merah mengilap yang dinaikinya itu mampu digeber hingga 200 km per jam.

Untuk memproduksi mobil listrik sekelas Ferrari itu, Dahlan menghabiskan dana Rp3 miliar. Semangatnya untuk melahirkan mobil produksi dalam negeri yang ramah lingkungan memang patut diacungi jempol. Namun manfaatnya, tentu masih perlu dikaji ulang.

Kendaraan dua penumpang ini rencananya akan dijual massal seharga Rp1,5 miliar. Dari harganya saja, jelas terlihat mobil Tuxuci (nama mobil listrik itu) bakal jadi kendaraan milik konglomerat atau pengacara tenar. Tuxuci akan eksklusif lantaran masuk kategori barang mewah alias luxury goods.

Barang mewah, sesuai kodratnya, bukan merupakan barang esensial atau utama. Sebab keberadaannya bisa digantikan (substitusi) dengan barang lain. Fungsi tas tangan merek Hermes, tentu bisa diganti dengan tas keluaran Tajur, Jawa Barat. Namun penggunaan barang mewah hanya terasa lebih menyenangkan dibandingkan barang sejenis dengan kelas di bawahnya. Itulah esensi barang mewah, termasuk Tucuxi kebanggaan Dahlan Iskan.

Karena itu, barang mewah dikonsumsi oleh kelompok dengan harta berlimpah dan pendapatan sangat besar. Tidak mungkin pegawai biasa akan mampu membeli kendaraan yang dipamerkan oleh Dahlan tersebut, meski dibantu subsidi dan kredit.

Tentu saja Dahlan — menteri dengan kekayaan Rp48 miliar seperti yang dilaporkannya ke KPK — bisa menjangkau Tuxuci. Tapi masyarakat lain yang secara ekonomi tidak sesukses mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) itu, rasanya masih jauh panggang dari api.

Sebagai informasi, tingginya harga mobil listrik adalah salah satu pertimbangan Toyota Motor Corp untuk terpaksa merobek cetak biru pengembangan mobil listrik murni (electric car). Takeshi Uchiyamada, Vice Chairman Toyota, pada September lalu mengatakan, produsen otomotif asal Jepang itu mengubur mimpi mereka akan mobil listrik, untuk kemudian berkonsentrasi ke jenis hibrida.

Padahal, Toyota sudah meluncurkan mobil listrik eQ sejak 2010. Tapi setelah dua tahun, hanya 100 unit yang terjual di pasar Jepang dan Amerika Serikat. Banyak kesulitan yang harus dihadapi setelah produknya masuk pasar, yang utama adalah tiada respons memadai dari konsumen.

Kesulitan yang dialami, dari temuan Toyota, terutama mobil listrik belum mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Dari soal jarak tempuh, biaya, atau seberapa jauh jarak yang dijalani untuk kemudian baterainya diisi ulang. Ini semua masalah yang tidak bisa diterima oleh pasar.

Sementara Tucuxi milik Dahlan, menurut pengakuannya, bisa melaju hingga jarak 400 kilometer atau selama empat jam. Dengan kecepatan 100 km per jam ini, tentu sulit dicapai di jalan dalam kota, kecuali lepas tengah malam. Di samping itu, pengisian baterai membutuhkan waktu 5-6 jam (di tengah kondisi listrik PLN masih morat-marit).

Mungkin Dahlan Iskan ingin seperti Barack Obama, yang menargetkan pada 2015, setidaknya ada satu juta mobil listrik (tentu dibantu subsidi) beredar di jalan-jalan Amerika. Tetapi apa kata para analis di negara tersebut? Mayoritas pesimistis.

Meski demikian, kita tentu saja tetap memberikan apresiasi kendaraan hasil desain Danet Suryama, orang Indonesia yang pernah bekerja di Chrysler Amerika Serikat. Begitu juga dengan rumah modifikasi Kupu-Kupu Malam Yogyakarta. Selamat atas karya dan kehebatan mereka.

Seandainya kelebihan yang mereka miliki ini diarahkan oleh negara, termasuk oleh Dahlan Iskan, guna mengembangkan produk yang lebih “masuk di akal”, sungguh akan jauh lebih bermanfaat.

Bermanfaat secara ekonomi mapun sosial, bukan sekadar manfaat pencitraan.

Herry Gunawan, pendiri Plasadana.com

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.