Newsroom Blog

Mudik ke Haribaan Mata Air

Mudik bukan hanya kembali ke tanah asal dan kampung kelahiran, seringkali juga kembali pada ketiadaan: berjumpa dengan kematian.

Badan Nasional Penanganan Bencana [BNPB] belum lama ini merilis data yang mengejutkan: angka kematian selama mudik pada 2012 ternyata jauh lebih tinggi dari kematian karena bencana.

Menurut BNPB, sepanjang 2012 tercatat 641 orang meninggal dan 226 orang tidak ditemukan dalam berbagai kejadian bencana alam. Berarti keseluruhan jiwa yang hilang karena bencana alam sepanjang 2012 mencapai 867 orang.

Sementara hanya dalam 20 hari, selama arus mudik dan sebaliknya pada 2012, 908 orang meninggal. Itu belum termasuk 1505 orang mengalami luka berat dan 5139 orang mengalami luka ringan.

Menariknya, statistik kecelakaan dan kematian selama mudik hampir dipastikan tidak akan membuat gentar para pemudik. Apa pun risikonya, dari ancaman kecelakaan sampai risiko terjebak kemacetan parah sekali pun, mudik tetap saja jadi prioritas penting.

Seperti ada panggilan tak tertahankan, seruan yang tak mungkin ditampik, dari tanah kelahiran. Betapa menyesakkannya bagi orang-orang seperti itu yang harus berlebaran di perantauan.

Menonton tv yang memberitakan arus mudik bisa memicu kerinduan yang tak masuk akal. Dalam situasi demikian, bahkan mungkin suara kereta dari kejauhan pun bisa memancing rasa sedih.

Mustofa W. Hasyim, sastrawan kelahiran Jogjakarta, pernah menulis cerpen berjudul "Mudik". Cerpen itu bercerita tentang kehidupan menjelang Lebaran di sebuah kompleks perumahan kumuh di pinggir sebuah rel kereta di Jakarta.

Dengan baik sekali, pengarang berhasil menggambarkan bagaimana penghuni rumah-rumah di sepanjang rel merasa gelisah tiap sebuah kereta melintas ke arah timur.

Seakan ada yang bergerak-gerak dalam dada, dan seperti terdengar teriakan yang memberi peringatan bahwa mereka memiliki tanah asal, punya masa lampau, kerabat yang sedang menunggu. Setiap kereta api melintas, mereka seperti didorong-dorong demikian kuatnya untuk meninggalkan Jakarta menuju ke tempat asal yang lebih damai dan tenteram.

Mungkin inilah yang dimaksud sebagai "kerinduan primordial": naluri untuk kembali ke haribaan asal-usul.

Sampai di sini, saya teringat perilaku ikan salmon.

Ikan salmon dewasa yang bersiap memasuki fase reproduksi selalu mencari jalan pulang untuk kembali ke sungai di pedalaman tempat mereka ditetaskan. Di sungai yang sama pula mereka akan bereproduksi, bertelur, dan membangun generasi salmon berikutnya.

Ikan-ikan salmon kadang menempuh perjalanan yang sangat panjang. Dari laut yang asin, mereka berarak menuju sungai yang dulu pernah mereka lewati. Mereka harus melawan arus sungai, melewati bebatuan, bahkan terkadang harus melompati air-air terjun.

Dan dalam perjalanan pulang itulah, banyak dari mereka yang harus menemui ajalnya. Ada yang mati karena melompat dan terdampar di tanah sampai kehabisan nafas. Ada yang disergap bintang pemburu seperti beruang.

Tidakkah ciri-ciri itu untuk sebagian mirip dengan tradisi mudik di Indonesia?

Sebagaimana ikan salmon, para pemudik itu juga banyak yang menempuh perjalanan yang sulit. Bukan hanya mesti mengatasi macet yang seringkali mengerikan, tapi juga ancaman kecelakaan yang selalu mengintai.

Dan, sebagaimana ikan salmon yang banyak menemui ajalnya di perjalanan, begitu juga para pemudik. Angka kecelakaan dan kematian yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun, seperti yang sudah disebut di awal tulisan ini, juga menunjukkan sebentuk paralelisme antara tradisi mudik dengan perjalanan pulang ikan-ikan salmon.

Memang para pemudik tak hendak bereproduksi di tanah asalnya. Bukan itu motif utama para pemudik, kendati memang masih banyak perantau yang memilih menikah [untuk mulai bereproduksi tentunya] di tanah kelahirannya.

Hikmat kebijaksanaan para pemudik adalah pulang ke haribaan asal usul, tanah kelahiran, puak yang melahirkan dan membesarkannya, juga kenangan masa kecil yang tak ternilai harganya. Dan ini momen yang spesifik, merujuk pada waktu yang khusus, bukan sembarang waktu.

Pulang kampung karena mau mencoblos atau untuk liburan, tampaknya lebih menekankan kampung halaman sebagai keterangan tempat yang sifatnya lebih fungsional, profan, dan karenanya dapat menjadi sesuatu yang relatif. Bukankah tak ada keharusan kita harus liburan di kampung halaman saat musim libur?

Mudik adalah sebuah "momentum publik" atau bahkan "waktu publik".

“Waktu publik” adalah sekuen di mana setiap orang merayakan momen tertentu secara bersama-sama dan serentak. "Waktu publik" mensyaratkan keberadaan “makna”, sesuatu yang “imaterial”, hal ihwal yang melampaui “rutinitas”. “Waktu publik” tidak bisa dibuat atau dihadirkan secara semena-mena [seperti pulang karena Pilkada atau karena kerabat menikah].

Sekumpulan orang bisa saja liburan bersama-sama ke Bali atau ribuan orang bisa saja kembali ke kampung halaman pada masa cuti bersama. Tapi, tanpa keberadaan makna yang melampaui rutinitas dan keseharian, peristiwa itu tak akan pernah menjadi “waktu publik” dan hanya menjadi “waktu pribadi” yang digelar bersama-sama.

Mudik adalah "waktu publik" karena memang memiliki makna simbolik yang lebih dari sekadar fungsional dan profan. Ada tendensi-tendensi imaterial dalam tradisi mudik ini.

Bagi orang Jawa, misalnya, prosesi mudik lebaran adalah manifestasi dari keinginan diri untuk merenungkan dan menelusuri "sangkan paraning dumadi": mengingat-ingat asal muasal diri yang dibarengi dengan kesadaran akan nasib yang akan tiba di kemudian hari. Pendeknya, kontemplasi tentang dari mana dan hendak ke mana.

Itulah sebabnya, prosesi mudik pasti ditingkahi kegiatan yang meleburkan para pemudik dengan sebuah himpunan bernama puak, semacam aktivitas mengumpulkan "balung pisah": bertemu kerabat, sungkem, dan ramai-ramai ziarah ke kubur leluhur.

Di situ, kampung halaman bukan hanya sekadar rumusan geografis. Mudik menempatkan kampung halaman sebagai perpaduan antara ruang [geografi] dan waktu, antara kekinian dan kelampauan, antara yang praktis dan yang simbolis.

Dan untuk itulah para pemudik melawan arus air, lagi-lagi seperti ikan salmon.

Dengan menggunakan pergerakan air dari mata air di pegunungan menuju laut melalui sungai sebagai metafora, udik adalah hulu dan rantau adalah muara. Maka perjalanan mudik, atau meng-udik, adalah gerak dari muara untuk pulang ke pangkuan hulu.

Dan itu adalah perjalanan melawan arus air, kurang lebih persis seperti apa yang dilakukan ikan salmon. Hanya dengan bergerak melawan arus air, entah dengan berenang di sungai seperti salmon, atau berjalan menyusuri sungai, seseorang akhirnya akan bisa berjumpa dengan mata air.
 
Masalahnya, masih mungkinkah kita menemukan “keaslian” di hulu? Jangan-jangan mata air yang ingin kita reguk kesegarannya itu malah sudah tercemar? Atau, lebih menyedihkan lagi, malah sudah dikapling perusahaan-perusahaan air mineral.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.