Newsroom Blog

Pantomim dan Ruang Publik

Oleh Tarlen Handayani dan Adim

Anda ingat Den Bagus? Atau mungkin Charlie Chaplin? Mereka berdua adalah karakter dunia seni pertunjukan pantomim. Meski Den Bagus dan Charlie Chaplin lahir di negara berbeda, mereka sama-sama mengandalkan kemampuan olah tubuh dan mimik pesan dalam menyampaikan pesan. Seperti bermain teater tapi tanpa dialog.

Mari berkenalan dengan Wanggi Hoediyatno Boediardjo, salah seorang aktor pantomim di Bandung. Wanggi Hoed, demikian ia biasa dipanggil, sudah bergelut dengan pantomim selama tujuh tahun. Ia mempelajari pantomim secara otodidak. Selain membuka-buka internet dan menonton You Tube, dia juga membaca referensi dari buku. Salah satunya dari buku “The Art of Pantomime” karya Charles Aubert yang ditulis pada tahun 1970.

Wanggi, pria kelahiran Palimanan, Cirebon tanggal 24 Mei 1988 ini cenderung memilih ruang-ruang publik sebagai panggung pertunjukannya. Alasannya? “Biar pantomim itu terasa di masyarakat,” ujarnya.

Alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia ini percaya pantomim bisa memberikan hiburan sekaligus pencerahan. Medianya bisa berupa panggung sekaligus ruang-ruang publik seperti taman kota, trotoar, hingga pusat-pusat perbelanjaan. “Selain melihat, penonton juga bisa berinteraksi langsung. Hal ini penting agar mereka merasa dekat,” kata Wanggi.

Wanggi sadar, penonton pantomim di ruang publik berbeda dengan penonton di gedung pertunjukan, yang memang datang karena tertarik. Maka itu, tema-tema yang diangkat Wanggi tidak lepas dari isu sosial budaya yang ada di masyarakat.

Misalnya saja pembangunan Bandung yang tidak mengindahkan keberadaan bangunan-bangunan tua. Dengan mengusung repertoar bertajuk “Berjalan Menepi yang Tak Berarti”, Wanggi bermain pantomim di depan Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung. Dia seolah-olah berjalan melawan arus. Karena tidak kuat, akhirnya dia menepi dan terus menepi. Arus deras itu diibaratkan globalisasi.

Wanggi membayangkan segala yang ada di sekelilingnya, mulai dari jalanan, mobil-mobil, bangunan, dan orang-orang tidak ubahnya sebuah bentuk nyata industrialisasi dan budaya konsumerisme. “Saya coba melawan dengan segenap daya. Bukan dengan menabrak tapi memahami,” kata dia.

Kegelisahan soal dunia kesehatan juga mendorongnya untuk tampil di muka umum.

Mengambil momen Hari Gizi Sedunia 25 Januari, Wanggi mengusung repertoar “MIMeditation”. Kali ini lokasinya tepat di depan Gedung Sate yang merupakan kantor Gubernur Jawa Barat.

Mengenakan iket berwarna putih, Wanggi menjadi sosok yang gemar sekali mencicipi cokelat. Selepas mencicipi cokelat, tubuh dan wajahnya terlihat tenang. Sesekali dia tersenyum sembari tertidur.

Mungkin begitu cara Wanggi melupakan masalah yang ada di depan mata. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka kematian ibu dan anak di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Diperkirakan tak kurang dari 9.500 ibu meninggal saat melahirkan serta 157.000 bayi dan 200.000 anak balita meninggal setiap tahun.

“Ini tidak lepas dari peran sosialisasi pemerintah yang kurang terhadap masyarakat soal gizi seimbang,” kata Wanggi.

Di balik dapur
Sekilas menjadi pantomimer, sebutan buat pemain pantomim, memang terlihat mudah. Tapi pantomim bukan sekadar memainkan mimik dan gerak tubuh. Kesadaran akan tubuh dan penguasaan konsep menjadi modal penting dalam sebuah pertunjukan.

Wanggi Hoed mengatakan, seni pertunjukan bisu ini bisa digunakan untuk mencari nafkah sehari-hari. “Kalau dibandingkan pertunjukan teater, biaya produksi pantomim jauh lebih murah,” ujar Wanggi.

Dengan Rp3 juta, kata Wanggi, sebuah pertunjukan pantomim sudah bisa digelar. Biasanya, ongkos produksi itu digunakan untuk menggarap publikasi, latihan, transportasi, dan konsumsi. “Kalau biaya kosmetik untuk tata rias tidak terlalu mahal karena sekali beli bisa dipakai beberapa kali.”

Soal panggung, pantomim sangat fleksibel. Bisa di dalam ruangan khusus atau di luar ruangan. Muka juga tidak harus selalu putih. Tidak ada pakem yang mengikat.

Meski demikian, kata Wanggi, konsepnya harus digarap secara matang. Karena sejatinya, pantomimer adalah seseorang yang berkata-kata lewat tubuh dan wajah. Setiap gerakan menjadi sangat berarti.

“Untuk memberikan konteks, biasanya saya memakai teks sebagai sinopsisnya,” imbuh pria yang mengidolakan pantomimer dalam negeri Sena A. Utoyo ini.

Menyoal pekerjaan, Wanggi mengaku dirinya tidak terlalu ngotot. Dia percaya, apabila pantomim digeluti secara serius dan penuh komitmen, pekerjaan bakal datang dengan sendirinya.

Dia memberi contoh pengalamannya. Wanggi mendapatkan 15 tawaran untuk tampil di malam pergantian tahun 2013. Tapi semuanya dia tolak. “Saya tidak mau pekerjaan ini dianggap sebagai hal yang mudah dilakukan. Orang berdandan putih dan berjalan-jalan, berhenti kalau ada yang mau foto. Bukan seperti itu,” ujarnya.

Akhirnya Wanggi memutuskan tampil secara cuma-cuma di Jalan Braga, Bandung. “Di sana saya bisa menyampaikan idealisme saya. Karena kita bisa hidup dari karya.”

Honor untuk setiap pertunjukan di Bandung, kata Wanggi berbeda-beda. Minimal Rp200 ribu hingga Rp500 ribu untuk penampilan selama 2-3 jam. Yang membedakan honor itu adalah jam terbang pantomimer.

“Ada juga taman hiburan yang membuat kontrak selama satu bulan. Setiap hari harus tampil ikut karnaval antara dua sampai kali. Bayarannya berkisar dari Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Lagi-lagi jam terbang yang membedakannya,” ujar dia.

Perkumpulan pantomimer
Selain menggelar pertunjukan, Wanggi juga aktif di Indonesia Mime Artist Association, perkumpulan pantomimer yang dia dirikan untuk memperluas jaringan dan saling belajar. Meski baru beranggotakan 10 orang, dia optimistis organiasi itu bakal terus berkembang.

Untuk memperkuat jaringan pantomimer se-Indonesia, Wanggi tengah mempersiapkan Jambore Pantomime Indonesia di Bandung. Rencananya, para pelaku pantomime itu akan dikumpulkan dan berkemah selama beberapa hari di taman-taman kota.

Dia juga akan mengundang pantomimer dari luar negeri untuk berbagi pengalaman. Mulai dari soal tata rias, penggarapan pertunjukan, hingga menampilkan repertoar masing-masing. “Saat ini sudah ada 15 pantomimer dari beberapa wilayah di Indonesia yang antusias mau bergabung.”

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.