Newsroom Blog

Pemilihan Gubernur Jakarta 2012: Berharap Akan Kampanye Sehat

Tanggal 20 September 2012 adalah hari yang paling menentukan bagi warga Jakarta saat ini. Satu hari memilih, lima tahun menggantungkan nasib.

Tak salah jika kita kemudian menduga bahwa pemilihan gubernur Jakarta 2012 putaran kedua akan berlangsung panas. Para kandidat sudah tampak melakukan pemanasan di sudut-sudut kota. Mereka menghadiri acara senam pagi hingga halal bihalal, datang ke kampung-kampung untuk menyumbang, juga menumpang tampang di iklan-iklan televisi (bukan kampanye, katanya).

Dalam beberapa hari ke depan, panggung terakhir bagi para kandidat pun digelar. Masa kampanye putaran kedua, yang akan berlangsung pada tanggal 14-16 September, adalah kesempatan terakhir untuk dapat merebut hati para pemilih. Di momen itu, para kandidat akan memadati ruang-ruang publik di Jakarta dengan kata-kata manis, mempromosikan diri dengan seribu janji.

Namun, jauh lebih penting dari sekadar menunjukkan kehebatan kandidat, kampanye sebetulnya adalah ruang bagi masyarakat untuk mengenal program-program yang akan dilakukan para kandidat, seandainya ia terpilih sebagai gubernur.

Sejauh ini, media lebih sering memberitakan sosok, ketimbang program. Rekam jejak, pengalaman, hingga keseharian kandidat sering dibahas. Kampanye negatif, baik yang mengangkat isu SARA maupun yang saling tuding, laris diberitakan.

Sebabnya ada dua. Pertama, mungkin pendekatan seperti itulah yang laku dijual di masyarakat Jakarta, layaknya infotainment yang selalu berfokus pada kehidupan sang artis. Mengulas program-program kandidat sampai tuntas hanya akan menghasilkan makanan yang sulit dicerna.

Kedua, mungkin para kandidat tidak memiliki program-program yang matang, sehingga tidak ada yang dapat diberitakan ataupun diperdebatkan. Ada yang bilang, “Sebenarnya program-program kedua kandidat itu sama saja. Bedanya, ada yang cuma menyebutkan, ada yang benar-benar melakukan.”

Tentu saja itu hanya kelakar. Setiap kandidat tentu memiliki perbedaan program. Semoga.

Banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan para kandidat untuk menghasilkan program-program yang tepat dan mendalam, antara lain dengan bekerja sama dengan berbagai lembaga riset, lembaga pendidikan, atau lembaga swadaya masyarakat yang berkutat di dalam bidangnya, sesuai dengan program yang diusung.

Sayangnya, kita jarang sekali melihat dialog untuk mengkaji perbedaan program kedua kandidat. Yang ada hanya monolog. Perdebatan rencana program yang diusung kedua kandidat praktis hanya akan terjadi pada debat-debat langsung yang ditayangkan di televisi, syukur-syukur kalau tidak normatif.

Padahal, program yang tepat adalah senjata yang kuat. Tanpa itu, pemimpin adalah ksatria tanpa senjata, yang tidak siap pergi berperang. Ia bisa saja memimpin, tapi tak akan mampu berbuat banyak. Memilih kandidat berdasarkan programnya jauh lebih baik daripada sekadar sosok.

Sementara itu, bagi para kandidat, program yang tepat juga bukan berarti cukup. Penyampaian yang kreatif menjadi kunci penting untuk menarik hati warga Jakarta (yang 38 persennya memilih abstain pada pemilihan putaran pertama).

Penyampaian kreatif itu, antara lain, berupa video parodi “What Makes You Beautiful” (One Direction)  dan “Okelah Kalo Begitu” (Warteg Boys). Ada juga yang bentuknya permainan komputer.

Walaupun tidak mengandung konten program-program dari kandidat, inovasi tersebut memberikan harapan akan kampanye yang lebih menarik.

Namun, kita tentu butuh kampanye yang tidak sekadar segar. Apakah kita sedemikian apatis, sehingga lebih menyenangkan bagi kita untuk disuapi kampanye-kampanye yang tak berisi? Apakah kampanye kreatif saja sudah cukup untuk menarik hati kita, tanpa perlu program-program yang matang?

Tentu tidak. Kita tentu ingin kampanye yang sehat. Bukan sekadar panas dan segar, tapi juga bergizi.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.