Newsroom Blog

Penjara Itu Bernama Rumah

Kira-kira sebulan lalu, tiga anak kecil di Jakarta Utara terperangkap dalam sebuah rumah yang terbakar.

Warga berusaha menolong mereka, berharap bisa membebaskan ketiga anak kecil itu melalui jendela besar yang ada di rumah itu. Seorang warga kemudian menaiki tangga bambu. Dia bisa menyentuh tangan anak-anak itu. Tapi tidak ada yang bisa diperbuat lebih jauh.

Batas antara kehidupan dan kematian saat itu dipisahkan oleh elemen arsitektur lainnya yang dimaksudkan untuk keamanan rumah: teralis besi.

Tidak ada gunanya menyesal kemudian, apalagi mencari kambing hitam. Namun, kejadian ini mengingatkan kita untuk memikirkan kembali cara menghuni.

Semakin ke sini, kita semakin dihantui rasa takut, seolah selalu ada orang yang ingin menyerang kita. Tommy F. Awuy, dosen Filsafat di Universitas Indonesia, menggunakan istilah low-trust society (masyarakat yang tak mudah percaya dengan orang lain) untuk menggambarkan fenomena ini.

Bila Anda akan bertamu ke sebuah rumah di kawasan elit, sejak di gerbang masuk Anda akan ditanya-tanya oleh petugas pengamanan. Satpam itu kemudian meminta KTP Anda sebagai jaminan, lalu memberikan sebuah kartu yang harus Anda kembalikan lagi ketika pulang.  Setibanya di depan rumah, Anda berhadapan dengan pagar beton setinggi 2-3 meter. Pintu gerbangnya terbuat dari susunan papan kayu dengan celah sekecil mungkin, sehingga untuk bisa mengintip pekarangan rumahnya pun perlu usaha lebih. Tentu saja Anda tidak ingin terlihat bodoh dengan mengetuk pagar tersebut atau memanggil nama tuan rumah. Tidak akan terdengar.

Maka Anda memencet bel. Tak lama setelahnya, pengeras suara yang ditanam di tembok kemudian mengeluarkan suara. Anda berharap itu suara pemilik rumah, tetapi bukan. Itu suara pembantu atau satpam (lagi). Setelah Anda menceritakan identitas dan maksud tujuan, ia menyampaikannya ke majikannya. Lima menit berlalu, pagar pun terbuka. Anda dituntun masuk ke ruang tamu. Selagi Anda duduk, pembantu menyuguhkan air mineral. Anda mulai memperhatikan suasana ruang tersebut untuk mengusir rasa bosan. Barulah beberapa saat kemudian, Anda kemudian bertemu dengan tuan rumah yang dituju.

Adegan ini sangat lumrah. Dengan prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati, banyak orang akhirnya memilih untuk membuat batas tegas antara rumah dan lingkungannya, serta antara lingkungan rumah dengan lingkungan dalam konteks luas.

Batas tersebut tidak lagi sekedar untuk membedakan, melainkan untuk memisahkan. Dengan penyaring yang berlapis, rumah dan lingkungan rumah diharapkan mampu mencegah segala bahaya yang mengintai.

Saya semakin tercengang ketika suatu hari membaca berita di surat kabar, bahwa rumah-rumah sekarang semakin banyak yang dilengkapi CCTV.

Untuk mengurung diri kita dengan sukarela di rumah, fasilitas-fasilitas yang tadinya hanya bisa kita nikmati di ruang publik kemudian perlahan-lahan dimasukkan ke dalam rumah. Di dalam rumah, ada taman luas, lapangan basket, kolam renang, home theater, gym, galeri, bar, meja biliar, dan lain-lain.

Di dalam rumah, terdapat delapan unit kamar tidur dan garasi untuk lima mobil. Di dalam rumah, sesekali kita bisa mengadakan pesta yang menjamu ratusan tamu.

Lantas, apakah rumah dengan sistem keamanan berlapis tersebut kemudian aman? Belum tentu.

Kita tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya. Maling bisa saja dengan leluasa bergerak di dalam rumah tersebut ketika malam hari atau saat tidak ada yang menjaga, karena tidak ada pengawasan dari warga sekitar. Belum lagi apabila terjadi bencana, sebutlah misalnya kebakaran, batas tegas tersebut tentu menghalangi warga untuk bertindak cepat.

Padahal, ada harga yang harus dibayar demi “rasa aman” itu. Interaksi dengan tetangga kemudian bukan lagi hal yang bisa terjadi ketika Anda sedang duduk santai di teras rumah atau menyiram tanaman kesayangan. Jangankan untuk melihat batang hidung tetangga, batang pohonnya saja tak tampak.

Sebuah survei yang dipublikasikan di harian Kompas, 21 Mei 2012, sangat menggelitik pikiran. Survei ini menunjukkan bahwa 76,8 persen warga Jakarta merasa aman dengan lingkungan tempat tinggalnya dan di saat yang sama 70,9 persen merasa bahwa kota Jakarta tidak aman.

Tentu sah-sah saja untuk mempertegas batas antara rumah kita dan lingkungan kota dengan harapan memberikan “rasa aman” bagi kita. Namun, survei tersebut memperlihatkan sisi lain rumah yang sudah sedemikian berjarak dengan lingkungan kota.

Sungguhkah kita aman dengan tembok tinggi, teralis, atau elemen-elemen “rasa aman” lainnya? Dan apakah kita sudah begitu putus asanya dengan kota kita, sehingga menjaga jarak adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal?

Saatnya kita memikirkan kembali arti rumah untuk kita dan kota.

Robin Hartanto adalah warga Jakarta yang menghabiskan separuh hidupnya di jalan. Separuhnya lagi dia habiskan untuk bekerja sebagai arsitek junior di Avianti Armand Studio.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.