Newsroom Blog

Perjalanan Industri Gula di Indonesia: (Tidak) Selalu Terasa Manis

Oleh Sirajudin Hasbi

Sejarah panjang Indonesia, sejak zaman penjajahan hingga merdeka, tak bisa lepas dari industri gula. Betapa tidak, industri ini pernah terasa begitu manis dan pahit baik bagi penjajah, pendatang, maupun pribumi. Gula juga telah mengirim suatu suku mengarungi lautan dan menetap di sana.

Robert Cribb dan Audrey Kahin dalam kamus sejarah Indonesia menyebutkan, tebu (Saccharum officinarum) kemungkinan adalah tanaman asli Indonesia. Walau demikian, masyarakat zaman dulu lebih memilih menggunakan aren, madu atau lontar sebagai pemanis. Bukan tebu.

Pemakaian tebu sebagai bahan baku gula baru dimulai setelah VOC mendukung pemukim Cina di Jawa untuk menghasilkan tebu komersial pertama di pedesaan sekitar Batavia pada abad ke-17. Gula mulai menjadi komoditas perdagangan yang diekspor ke Eropa dan Jepang. Dari 150 penggilingan tebu yang ada di Jawa pada 1710, hanya empat yang bukan milik orang Cina.

Bagaimanapun, produksi gula tebu pernah meredup akibat pasar luar negeri yang lesu, pergolakan politik di Jawa, dan kekurangan bahan baku.

Industri gula kemudian bangkit lagi menjelang abad ke-19. Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) melakukan monopoli gula dan didukung oleh pemerintah kolonial untuk melakukan program tanam paksa sehingga bahan baku bisa diperoleh dengan mudah. Pada masa ini penggilingan tebu swasta kebanyakan dimiliki pengusaha asal Eropa (yang kemudian menjual hasil gulanya kepada NHM).

Walaupun harga ditetapkan oleh NHM, keuntungan tetap diperoleh oleh pengusaha. Pada awal abad ke-19, gula menjadi komoditas ekspor utama dari Jawa dan porsinya mencapai 77,4 persen dari nilai total ekspor pada 1840.

Seiring menggeliatnya industri gula di Jawa, mobilisasi tenaga kerja untuk industri gula tidak hanya dilakukan oleh Belanda di Jawa, tetapi juga Suriname. Beribu-ribu pekerja dari Afrika, Cina, India, serta Jawa didatangkan. Mungkin dari sinilah riwayat keturunan Jawa banyak kita temui di Suriname hingga hari ini.

Tahun 1883, perusahaan gula swasta berskala kecil mulai stop berusaha karena krisis dunia membuat ekspor menurun. Tapi ini justru berdampak baik bagi NHM karena waktu ini dimanfaatkan untuk investasi modal dalam jumlah besar. Tidak lama setelah krisis dunia, NHM mulai mendirikan dan memperbaiki pabrik gula di Jawa dengan teknologi baru. Pabrik gula mencapai kejayaannya setelah program ini karena menjadikan pabrik gula di Jawa yang paling efisien di dunia. Industri gula di Jawa juga tercatat sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia pada tahun 1931.

Memasuki masa pendudukan Jepang, produksi gula di Jawa mulai menurun. Jepang mengurangi produksi karena kebutuhan kekaisaran Jepang sudah tercukupi dari produksi Filipina dan Taiwan. Mulai dari sinilah industri gula di Jawa mengalami kesulitan untuk kembali meraih kejayaannya.

Pada masa revolusi, lahan produksi tebu berkurang karena tanah desa tidak lagi bisa dipaksakan menjadi lahan tebu (seperti sebelumnya). Tenaga kerja pun, yang tadinya tersedia, mulai tersendat. Kondisi politik saat itu banyak berubah, sehingga industri gula kesulitan beroperasi.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah lebih suka menerapkan kebijakan menstabilkan harga gula agar tetap rendah (agar gula tetap bisa didapatkan di pasar). Kondisi ekonomi masyarakat saat itu memang masih buruk sehingga perlu dilindungi. Namun di sisi lain, kebijakan ini berdampak pada kurangnya investasi bagi industri dan rendahnya hasil panen secara umum.

Kebijakan ini terus berjalan meski sudah ada perpindahan kekuasaan pemerintahan. Industri gula semakin terpuruk karena tidak ada peremajaan teknologi. Dibandingkan dengan industri gula negara lain seperti Belanda dan Brasil, pabrik gula di Indonesia ketinggalan zaman. Begitu pula dari sisi riset.

Tahun 1971 ketika masa Orde Baru, Badan Urusan Logistik Nasional (Bulog) mengambil alih distribusi dan penetapan harga. Setelah itu mulai ada program perbaikan industri gula di Indonesia. Pada 1972, pemerintah meluncurkan program intensifikasi pemilihan lahan tebu kecil, yang termasuk pengurangan pajak dan perbaikan sistem pemasaran.

Tiga tahun kemudian, ada rencana menghilangkan sistem penyewaan tanah kepada perkebunan tebu besar. Meski program tersebut bisa membawa kemajuan bagi industri gula, tetap tidak efisien. Industri gula mampu menyerap 20 persen total kredit pertanian tetapi produksinya hanya 3 persen dari nilai total hasil pertanian.

Lahan tebu sudah banyak berkurang karena berganti jadi perumahan dan budidaya padi demi memperbesar produksi beras. Hal ini memaksa pemerintah untuk mulai memindahkan sentra produksi tebu ke luar Jawa. Langkah yang cukup berani mengingat pada 1988, Jawa menghasilkan 83 persen gula Indonesia. Namun, tidak ada perubahan mendasar dalam kebijakan pemerintah walaupun terjadi sejumlah perluasan di luar Jawa, terutama Lampung.

Jumlah pabrik gula di Jawa pun menyusut dalam dua dekade terakhir. Pabrik gula yang berada di bawah PTP Nusantara IX (Persero) memang ada 13 pabrik, tetapi yang beroperasi tinggal delapan. Apa saja? Yakni PG Jatibarang di Brebes, PG Pangka di Slawi/Tegal, PG Sumberharjo di Pemalang, PG Sragi di Pekalongan, PG Rendeng di Kudus, PG Mojo di Sragen, PG Tasikmadu di Karanganyar/Solo, dan PG Gondang Baru di Klaten. Sementara lima PG non operasional adalah PG Banjaratma di Brebes, PG Kalibagor di Banyumas, PG Cepiring di Kendal, PG Colomadu di Karanganyar/Solo, dan PG Ceper Baru di Klaten.

Industri gula Indonesia yang dahulunya dikenal sebagai yang paling canggih dari sisi teknologi dan mampu menjadi pengekspor kedua terbesar dunia, kini terpuruk sebagai negara paling kuno dalam teknologi industri gula sekaligus sebagai pengimpor terbesar kedua di dunia. Suka atau tidak suka, memang inilah yang sedang terjadi pada industri gula nasional.

Ada banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah dan kita semua untuk kembali mengembalikan kejayaan gula nusantara. Jika, memang gula masih dipandang sebagai komoditas seksi yang bisa menyangga perekonomian nasional, maka sepantasnya perlu revitalisasi industri gula, mulai dari investasi modal, peremajaan teknologi, mengembangkan varietas tebu unggulan, serta memprioritaskan tebu untuk bahan baku industri.

Namun, jika industri gula hanya dipandang sebagai warisan masa lalu yang hanya pantas untuk dikenang, maka jangan harap industri gula bisa kembali jaya.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.