Newsroom Blog

Respon Pembaca: “Selamat Ulang Tahun, Jakarta.”

Ibukota rupanya belum sekejam ibu tiri. Di dalam segmen komentar artikel “Selamat Ulang Tahun, Jakarta”, masih banyak warga Jakarta yang menitipkan harapan dan mengungkapkan perasaan mereka—kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan—kepada Jakarta.  (id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/selamat-ulang-tahun--jakarta.html)

 “Walau masih banyak kekurangan di sana sini, aku tetap mencintaimu," tutur mesra salah seorang pembaca dengan nama Baracuda.

Ada juga yang memilih tidak tampil romantis dalam mengungkapkan keterikatannya dengan Jakarta. “Di mana pun saya berada, seberapa pun semrawutnya,” tutur Ratna, “Jakarta itu tetap rumah yang tidak bisa terganti. Semoga cepat berbenah, cepat menyusul negara tetangga yang sudah semakin maju, cepat menemukan 'orangtua'-nya. not just getting older, but getting better.”

Ucapan dengan tipe rentang suara mezzo-soprano—tidak merendahkan maupun mengharap banyak—diungkapkan Balapsepeda. Baginya, Jakarta—kota dengan kerlipan lampu-lampu indah di setiap sudutnya yang juga akan meredup di setiap lorong-lorong hampa—tetap menjadi pengharapan bagi setiap manusia yang memandangnya. Satu frekuensi dengannya, Nasrul berkata, “Jakarta merupakan kota yang abstrak ,di mana semua hal yang tidak mungkin malah terjadi di Jakarta. Semoga ke depannya tetap mempertahankan ciri khasnya.”

Beberapa pembaca memilih untuk menggantungkan harapan pada pintu perubahan terdekat: Pilkada DKI Jakarta 2012. Seseorang, yang bernama samaran “Kau Tahu Aku”, berdoa, “Semoga bulan depan dapet gubernur baru yang benar.” Ait, yang kebetulan berulang tahun di hari yang sama dengan Jakarta, berharap agar Jakarta mendapatkan pemimpin yang soleh, alim, cerdas, jujur, dan bijaksana di pemilihan gubernur yang sudah sangat dekat.

Tak ketinggalan juga harapan-harapan untuk lingkungan kota yang lebih baik. Ekha menyarankan agar pembangunan di daerah peserapan air di jakarta dihentikan untuk mengurangi banjir. Barokah, dengan singkat tapi lirih, menyerukan, “Semoga kota Jakarta menjadi kota yang nyaman untuk dipijak.” Ada juga Junia, yang berharap agar Jakarta mendapatkan pemimpin yang memperhatikan tata lingkungan demi Jakarta yang lebih nyaman dan asri.

Iwan Fals membuktikan dirinya masih jadi inspirasi warga ibukota. Seven mengutip bait dari lagu Iwan Fals yang berjudul Kota, “Di sini aku lahir; di sini aku besar; di sini aku merasa bodoh.” Sementara Januar menyusun kalimat dari dua lagu Iwan Fals: Kontrasmu Bisu dan Berkacalah Jakarta. “Jakarta, angkuhmu buahkan tanya bisu dalam kekontrasannya, berkacalah Jakarta dengan usia-mu yang ke-485.”

Meniru cara Januar, saya akan mengakhiri artikel ini dengan menyusun kalimat dari tiga komentar pembaca: Cherry, Arie, dan Ririn. “Semoga harapan itu tetap masih ada,” “Semoga tahun depan tidak lagi menuliskan harapan karena semua harapan sudah terkabul,” dan “Semoga Jakarta tetap menjadi rumah yang baik untuk kita semua.” Selamat ulang tahun, Jakarta, sekali lagi.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.