Newsroom Blog

RFID Bagai Salep untuk Penyakit Jantung

Beberapa hari belakangan, Pertamina dengan antusias memproklamasikan rencana pemanfaatan RFID (Radio Frequency Identification) untuk mengendalikan penyaluran bahan bakar minyak bersubsidi.

Teknologi ini digunakan sebagai langkah pengendalian, bukan sekadar mendata, penggunaan bahan bakar minyak bersubsidi.

Alat seperti kancing ini dipasang pada tanki pengisian bahan bakar kendaraan. Tujuannya, agar tidak ada konsumsi berlebihan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap BBM bersubsidi. Dengan begitu, kuotanya bisa terjaga alias dikendalikan.

Tapi soalnya, apakah memang diperlukan?

Apa yang dilakukan Pertamina — saat ini masih menunggu peraturan pemerintah yang mewajibkan penggunaan RFID — itu ibarat mengobati sakit jantung dengan salep kulit. Jelas tidak tepat sasaran.

Berulang kali, baik pemerintah, ekonom, serta pemangku kepentingan lain berteriak bahwa penyelewengan pemanfaatan BBM bersubsidi terjadi akibat adanya disparitas (kesenjangan) harga.

Bensin bersubsidi, yang harusnya jatah masyarakat umum, oleh segelintir pihak malah dijual ke industri. Dari selisih harga itulah mereka mendapat keuntungan.

Modus penyelewengannya banyak. Tapi yang paling populer adalah memindahkan bahan bakar minyak dari tanker Pertamina — baik di darat maupun di laut (istilahnya “kencing”). Bensin yang dicuri itu kemudian ditimbun, untuk selanjutnya disalurkan ke industri. Pola yang apik.

Satu kali “kencing” saja, nilai kerugian negara bisa miliaran rupiah. Bahkan BPH Migas, regulator di bidang distribusi minyak dan gas bumi, mensinyalir penyelewengan BBM bersubsidi itu juga banyak digunakan untuk tambang — yang jelas-jelas tidak berhak menikmati subsidi. Jumlahnya mencapai 10 persen dari total kuota BBM bersubsidi alias lebih dari 4 miliar liter.

Dari sini, rada sulit dipahami jika Pertamina justru memasang RFID untuk mencatat, memantau dan mencegah penyelewengan BBM bersubsidi di level pom bensin. Berapa lama harus “mencuri” dan memindahkan bahan bakar itu dengan mobil?

Terlebih lagi, BPH Migas menegaskan bahwa modus penyelewengan BBM bersubsidi lewat “kencing” di laut merupakan yang terbesar. Lebih mudah diterima akal sehat, jika hal ini yang jadi prioritas untuk dibenahi oleh pemerintah.

Bukan malah memasang alat mahal di pom bensin dan kendaraan.

Tapi entahlah kalau memang itu dianggap proyek. Sebab memang, nilainya sangat besar. Untuk satu pom bensin saja, pemasangan RFID membutuhkan biaya Rp200 juta. Itulah yang sempat dilansir oleh PT INTI, pemenang tender pengadaan alat tersebut.

Sementara target Pertamina untuk sepanjang Juli saja, ada sekitar 276 pom bensin di Jakarta yang bakal dipasang RFID. Berarti nilainya lebih dari Rp55 miliar.

Jumlah pom bensin di seluruh Indonesia lebih dari 5.000. Tinggal hitung saja berapa nilai proyeknya. Belum lagi biaya memasang alat tersebut ke 100 juta kendaraan.

Menurut hitungan Pertamina, nilai proyek RFID sekitar Rp800 miliar. Mungkin malah bisa lebih. Jelas sangat menggiurkan.

Sementara manfaatnya? Masih diragukan.

Sekali lagi, penyelewengan BBM bersubsidi terjadi kebanyakan di tengah laut — bukan di pom bensin. Karena itu, yang dilakukan oleh Pertamina itu seperti membeli salep untuk penyakit jantung.

Hal lain yang tak kalah menariknya dari proyek RFID ini, sementara peraturannya belum dikeluarkan, tapi pemenang tendernya sudah ketahuan. Bahkan tempat belanja barangnya pun sudah ada. Cina jadi pemasok utama, kemudian Korea Selatan. Produsen dalam negeri diperkirakan hanya memasok 20 persen.

Pertamina mengatakan, peraturan pemerintah (yang memaksa kendaraan dipasangi RFID) diperkirakan keluar Juni ini. Tapi kalaupun jadi, pertanyaannya adalah: apa yang mau dikendalikan?

Rasanya makin banyak yang janggal saja menjelang Pemilu 2014.

Herry Gunawan, Pendiri Plasadana.com



PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.