Newsroom Blog

“Selamat Ulang Tahun, Jakarta.”

Foto: Tempo

Saat ini, warga Jakarta mungkin sedang ingin mengucap sejuta sumpah serapah dengan seribu alasan. Entah Anda sedang terkurung berjam-jam dalam mobil yang melaju lambat nan tersendat; atau Anda baru saja tenggelam dalam lautan manusia di kereta komuter, dan ketika Anda — setelah bau keringat — tiba di tujuan, baru menyadari bahwa dompet dan telepon genggam sudah raib.

Namun, tahanlah keluhan itu untuk hari ini, hari ulang tahun Jakarta. Tidak ada salahnya kita meluangkan satu dari 365 hari dengan berpuasa memaki Jakarta dan memupuk harapan atasnya.

Anggaplah ini sebuah dinding Facebook milik akun seorang teman, yang ketika ia berulangtahun, kita tak pernah lupa meninggalkan harapan-harapan manis. Ucapan yang bisa sederhana atau malah sangat utopis, yang asal jujur dari hati tak pernah gagal membuat yang berulangtahun tersenyum.

Paragraf-paragraf selanjutnya merupakan kumpulan ucapan selamat ulang tahun yang saya kumpulkan dari orang-orang dengan profesi beragam. Dari yang polos hingga yang puitis. Dari yang pasrah dan memilih untuk memaknai apa yang ada, hingga yang optimis akan pintu perubahan.

Sebuah kado yang teramat kecil untuk kota yang terlalu besar. Selamat ulang tahun, Jakarta.



Harry Febrian, jurnalis
“Selamat ulang tahun, Jakarta! Kalau diibaratkan buku, kamu seperti karya klasik setebal 485 halaman yang sudah agak menguning. Ceritanya, barangkali, lebih banyak suram ketimbang bahagia. Tetapi heran, tetap memikat jutaan orang untuk membaca. Satu harapan di ulang tahunmu: boleh perbanyak tulisan soal kejujuran, pelayanan serta keberpihakan pada masyarakat ketimbang lembaran korupsi, macet, ataupun banjir?"

Avianti Armand, penulis
“Jakarta terlalu berharga untuk diserahkan ke tangan segelintir politikus korup. Ia rumah kita semua. Kita semua yang berhak dan bertangguna jawab untuk mengurusnya. Jakarta belum selesai. Semoga panjang umur.”

Edi, tukang ojek
“Selamat ultah Jakarta ke-485. Harapan saya ke depan Jakarta tetap macet. Biar langganan saya tidak bawa kendaraan sendiri. Kalau jalanan lancar bisa berkurang langganan saya. Sekali macet tetap macet. Hidup macet!”

Lalitia Apsari, deputi asisten staf khusus presiden
"Jakarta: too big to save atau too big to fail? Saya masih berpegang pada yang kedua. Karena bagi saya, kota yang kerap dibenci ini hanyalah seorang anak tersesat yang selalu jatuh dalam asuhan yang salah. Doa saya agar Jakarta lekas menemukan 'orangtua'-nya."

Feby Kaluara, mahasiswa
“Jakarta adalah kota dengan ribuan lembar kisah. Sebagian dari kota ini memberikan nuansa masa lalu. Sebagian lagi mencoba berlari ke masa depan dengan cepat. Harapan saya, Jakarta tak melupakan sejarah yang terukir di setiap perubahannya. Dengan melupakan kritik itu serta tidak belajar dari masa lalu, Jakarta hanya berlari tak tentu arah. Selamat ulang tahun Jakarta!”

Aditya Aziz, penyanyi
"Selamat ulang tahun, Jakarta! Terima kasih telah menjadi kota tempat tinggal yang baik selama lebih dari 20 tahun. Seberapapun seringnya saya mengeluh tentang Jakarta, saya tetap cinta dengan kota ini. Saya berharap Jakarta bisa lebih baik lagi: menjadi kota yang bersih, penduduk yang teratur dan disiplin, pembangunan lancar, sektor pendidikan, kesehatan dan sosial semakin baik dan kemacetan lalu lintas berkurang!"

G. V. Purba, polisi
“Harapan saya dua: semoga warga Jakarta jadi lebih taat peraturan dan mendapatkan pekerjaan yang lebih sejahtera. Kalau rakyat sejahtera, kriminalitas pasti akan berkurang. Selamat hari ulang tahun Jakarta.“

Tiphaine Vanlemmens, mahasiswa asing
“Saya sudah beberapa kali ke Jakarta, ibukota Indonesia yang bereputasi jelek. Namun, saya menemukan satu tempat dengan banyak wajah, satu kota berlawanan azas, antara kemewahan dan kemiskinan, pengamen dan pebisnis, dan lain-lain. Saya berharap Jakarta bisa terus bermacam-macam, dan semoga tidak semakin materialistis dan lebih mengembangkan kesenian.”

Elisa Sutanudjaja, urbanis
“Selamat Ulang Tahun, Jakarta. 485 tahun waktu yang lama untuk belajar. Tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi dewasa.”

Joko Adianto, dosen
“Jakarta adalah kota dua muka. Muka satu dicinta karena sejuta gula dan lainnya dihina karena penuh derita. Hebatnya, kita mampu tertawa saat menikmati deritanya serta mencerca kala tersengat gula-gulanya. Oleh karenanya, walau lebih kejam dari ibu tiri, kedua muka tersebut kaya cerita yang menyadarkan kita akan makna  'manusia'. Selamat ulang tahun, ibukota.”

Marisa Liska, pegawai kantor
“Jakarta, dengan segala tetek bengeknya bertambah tua setiap tahun. Semoga harapan-harapan kecil tidak mati seperti pohon-pohon, tetapi bertumbuh seperti gedung-gedung di tengah kota. Lagi, lagi, dan lagi... Selamat hari jadi, Jakarta.”

Danny Wicaksono, arsitek
“Hari ini saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Jakarta, dengan harapan semoga tidak putus-putus harap kita atasnya.”

Nah, apa harapan Anda untuk Jakarta?

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.