Newsroom Blog

Seluas Hutan, Sesepi Kuburan: Taman Hutan Kota Penjaringan

Di kota-kota besar seperti Jakarta, pohon adalah perangkat dandan. Pohon-pohon ditanam di pinggir jalan untuk mempercantik kota — setidaknya untuk mengurangi wajah kumal jalan yang kerap kali dipenuhi asap kendaraan. Sekalipun berada di taman, pohon-pohon kerap kali dipaksa untuk tampil cantik, misalnya pada renovasi Taman Kodok, Menteng, yang menyulap pepohonan rindang menjadi pohon-pohon palem yang langsing.

Maka, ruang kota Jakarta yang memberikan izin bagi pepohonan untuk tumbuh bebas, tanpa banyak diusik oleh kebutuhan manusia, sangatlah langka. Taman Hutan Kota Penjaringan, yang terletak di sisi jalan tol menuju bandara Soekarno-Hatta, adalah satu dari yang sedikit itu.

Jika ditarik garis tegak lurus, taman ini memiliki garis terpanjang mencapai dari 1,8 kilometer dan garis terlebar sekitar 150 meter. Luasnya mencakup 13,6 hektare; hampir empat kali lipat dari Taman Menteng, delapan kali lipat Taman Suropati, atau delapan belas kali lipat Taman Ayodya.

Walaupun cukup luas, jalan masuk menuju taman ini sungguh tak terduga. Saya, yang tinggal di sekitar lokasi taman, tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa keberadaan taman ini hanya lima menit bersepeda dari rumah.

Akses menuju ke taman ini melewati Jalan Terusan Bandengan Utara, menuju ke arah Teluk Gong. Di kolong jembatan tol dalam kota, ada jalan menuju Apartemen Teluk Intan. Jalan masuknya terdapat di jalan kecil tepat di seberang jalan menuju apartemen, terpisahkan oleh kanal; segaris dengan Jalan Kepanduan 2.

Tadinya, taman ini adalah Kampung Kebon Pisang, yang lahannya dimiliki oleh empat pihak: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (4,4 hektar), PT Jakara Propertindo (9.578 meter persegi), PT Jawa Barat Indah (4,2 hektar), dan lahan pribadi warga (1,1 hektar). 67.828 meter persegi lahan dibebaskan terlebih dahulu di tahun 2009 dan 2011, sebelum kemudian dibebaskan seluruhnya menjadi 13,6 hektar.

Yang membuat Taman Hutan Kota Penjaringan unik adalah konsep “taman hutan” yang sedari awal sudah disematkan pada namanya. Ia bukan seperti Taman Menteng yang lebih tertata untuk aktivitas manusia. Tetapi, ia juga bukan seperti Hutan Kota Srengseng yang lebih mengutamakan kebebasan alam. Taman ini berada di tengah-tengah.

Saat ini, pepohonan di Taman Hutan Kota Penjaringan baru berumur satu sampai tiga tahun, belum rimbun. Tinggi pepohonannya rata-rata berkisar antara tiga sampai enam meter. Namun, jumlahnya sangat banyak, dan dalam beberapa tahun lagi taman ini akan jauh lebih teduh.

Sebagian kecil kawasan ini berbentuk rawa. Terdapat kolam pemancingan yang dapat digunakan publik. Selain itu, ada juga fasilitas-fasilitas yang umum berada di taman, seperti toilet, pergola, dan menara pengawas.

Sementara banyak dari warga yang mengeluh akan sedikitnya taman di Jakarta (kalau ada pun penuh sesak), taman ini justru sepi pengunjung. Ketika saya berkunjung ke lokasi di sore hari, hanya sekitar tiga puluh orang yang sedang menikmati taman ini. Dan sekawanan kambing.

Taman ini memang masih jauh dari sempurna. Banyak hal yang perlu diperbaiki dan dikembangkan. Kualitas perawatan taman belum terlalu baik, kebersihan belum terjaga, pengawasan pengunjung juga masih sangat longgar.

Beberapa sepeda motor tampak bebas berkeliaran di taman. Namun, usaha pemerintah untuk membebaskan lahan yang dimiliki berbagai pihak, untuk kemudian dijadikan taman publik, patut diacungkan jempol.

Selanjutnya adalah peran kita juga untuk turut menjaga keberlangsungan taman ini. Jane Jacobs, aktivis lingkungan dan penulis buku “The Death and Life of Great American Cities”, pernah mengungkapkan kesamaan antara taman dan pusat perbelanjaan. Keduanya akan mati, jika tidak ada pengunjung. Tugas kita sangat sederhana: mengunjungi taman ini.

Lihat gambar taman ini selengkapnya di sini.


Robin Hartanto adalah warga Jakarta yang, sama seperti warga biasa lainnya, menghabiskan separuh hidupnya di jalan sambil berkicau di Twitter. Baginya, hidup adalah seri kejadian yang, tanpa diduga, saling bertautan. Berkat cita-citanya sebagai arsitek, ia sekarang bekerja sebagai penulis serabutan. Berkat kegemarannya berjalan-jalan, ia rajin menabung. Berkat kesenangannya membaca, ia pun senang minum kopi.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.