Siap-siap Bayar Utang Lebih Mahal

Newsroom Blog

Anda punya pinjaman bank? Bersiaplah merogoh kantong lebih dalam untuk melunasinya, sebagai dampak lanjutan melemahnya rupiah terhadap dolar AS yang belum juga mereda hingga saat ini.

Demi meredam jatuhnya rupiah lebih dalam, Bank Indonesia mengintervensi pasar valuta dengan cara melepas dolar yang mereka miliki (agar pasokan dolar makin banyak). Dari penjualan itu, rupiah pun masuk kantong bank sentral.
 
Intervensi pasar ini memang langkah yang biasa dilakukan BI dalam situasi kritis, ketika nilai rupiah begitu murah dibandingkan mata uang acuan (dolar AS). Selain melepas dolar, BI juga lazim melakukan intervensi dengan cara menaikkan suku bunga acuan. Suku bunga yang naik akan membuat tingkat permintaan kepada rupiah bakal bertambah, sehingga nilainya pun ikut terangkat.

Intervensi sudah dilakukan. Tinggal suku bunga yang belum dinaikkan.
 
Pada krisis keuangan 2008, kebijakan seperti ini juga dilakukan. Demi mengamankan nilai tukar rupiah, sekaligus menjaga inflasi atau laju kenaikan harga, BI menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) hingga di atas 9 persen.
 
Dengan suku bunga tinggi, maka uang yang beredar di masyarakat bakal masuk ke sistem perbankan. Selanjutnya masuk bank sentral lewat mekanisme simpanan wajib bank atau giro wajib minimum. Pasokan yang barkurang di pasar ini pula pada akhirnya menstabilkan kurs rupiah dan meredam inflasi.
 
Hingga kini, ketika suku bunga belum dinaikkan, sejumlah bank sudah mulai kesulitan likuiditas. Deputi Gubernur BI Hendar mengatakan, itu merupakan dampak dari intervensi BI ke pasar.
 
Akibat kesulitan likuiditas ini, sudah ada bank yang meminta fasilitas pinjaman ke bank sentral. Likuiditas dalam hal ini merupakan kemampuan bank untuk memenuhi seluruh kewajiban yang harus dilunasi segera. Likuiditas memadai, berarti mempunyai alat pembayaran berupa harta lancar yang cukup.
 
Tentu masalahnya tidak berhenti di sini. Sebab, akibat keterbatasan likuiditas, bank akan menaikkan suku bunga guna menarik dana dari masyarakat. Ini berarti biaya yang dikeluarkan perbankan untuk mendapatkan dana makin mahal.
 
Agar selisih antara bunga yang diterima oleh bank (kredit) dengan bunga yang harus dibayarkan oleh bank (simpanan) tidak makin tipis, selanjutnya adalah kenaikan suku bunga pinjaman. Pada bagian inilah masyarakat terkena dampaknya.
 
Orang-orang yang berutang ke bank dengan jangka pinjaman menengah dan panjang, biasanya menggunakan suku bunga mengambang (setelah suku bunga tetap selama 1-2 tahun pertama). Berarti di tengah jalan, tentu suku bunganya bisa naik. Untuk itu, jumlah uang yang dibayarkan nasabah ke bank, seperti untuk kredit rumah atau pinjaman lain, bakal bertambah.
 
Dalam situasi seperti sekarang, memang sulit menghindari kemungkinan itu. Negara butuh kebijakan yang mampu memberikan dampak atau tanpa jeda (lag). Karena itu, instrumen moneter dari Bank Indonesia jadi pilihan.
 
Karena itu pula, dampaknya ke masyarakat bakal cepat. Suku bunga bisa dengan segera dinaikkan oleh perbankan.
 
Pilihan paling bijak yang bisa dilakukan dalam menghadapi situasi seperti ini adalah dengan menahan hasrat konsumsi. Jangan tergiur dengan pernyataan Menteri Keuangan Chatib Basri beberapa waktu lalu: “Belanja pangkal kaya.”
 
Tentu yang dimaksudkan adalah mendorong konsumsi sebagai sumber pertumbuhan guna menyelamatkan ekonomi. Tapi ketika masyarakat pun ditekan dengan mahalnya biaya mendapatkan dana seperti tercermin lewat suku bunga pinjaman, rajin belanja justru bisa jadi bencana.
 
Herry Gunawan, Pendiri Plasadana.com