Newsroom Blog

Slogan Kampanye Cagub DKI Jakarta Favorit Anda

Enam calon gubernur. Foto: Antara


Melalui mulut mereka, pesan sepahit apapun bisa jadi semanis permen.

Politisi memang piawai memainkan kata-kata, sementara kejernihan makna belum tentu jadi prioritas mereka. George Orwell, penulis buku “1984”, pernah menggambarkannya dengan gerah: “Bahasa politik dirancang membuat kebohongan terdengar benar, pembunuhan menjadi terhormat, dan tiupan angin lembut menjadi kokoh.”

Namun, tantangan besar muncul ketika para politisi perlu membuat slogan untuk kampanye politik. Dengan sesingkat mungkin, slogan harus bisa meresap ke dalam pikiran pendengarnya.

Tentu saja membuat dua-tiga kata untuk menyampaikan sesuatu tidak lebih mudah dibandingkan menjelaskan dengan sebuah paragraf. Hanya dengan pemilihan kata-kata yang tepat dan mengena, barulah slogan bisa menjadi alat kampanye yang sangat efektif.

Sebutlah misalnya “Yes we can” dan “Change we can believe in” milik Barack Obama. Kedua kalimat tersebut konsisten dengan tema perubahan yang ia gagas pada kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008, dan berhasil menggugah masyarakat.

Contoh lain, slogan SBY di pemilu presiden tahun 2009, “Lanjutkan!”. Satu kata itu fokus membangun persepsi bahwa selama masa pemerintahannya Indonesia telah berhasil dan perlu diteruskan lagi. Sementara itu, slogan Jusuf Kalla di panggung yang sama berbunyi “Lebih cepat lebih baik”, cergas menyindir presiden yang cenderung lamban.

Menjelang pemilihan gubernur Jakarta 2012, inilah slogan-slogan para calon gubernur:

1. Maju Terus Jakarta

Belum lama ini Obama mencetuskan slogannya untuk kampanye presiden Amerika Serikat 2013 yaitu “Forward”, mirip dengan slogan pasangan Foke-Nara ini.

Pesan dari slogan “Maju Terus Jakarta” ini jelas, bahwa Jakarta sudah maju semenjak diserahkan pada “ahlinya” ini, dan yang perlu dilakukan hanyalah melanjutkannya. Slogan sang gubernur yang sedang menjabat ini menunjukkan, ia percaya diri dengan prestasinya.

Namun, Foke jelas perlu waspada. Slogan ini bisa jadi pisau bermata dua apabila persepsi masyarakat justru menganggap Jakarta selama ini tidak mengalami kemajuan berarti.

2. Jakarta Hebat: Humanis, Egaliter, Berani, Amanat, Tanggap

Slogan dengan teknik menyingkat jargon-jargon positif belum ketinggalan zaman. Buktinya, pasangan Hendardji-Riza masih berani memakainya. Jakarta Hebat — singkatan dari humanis, egaliter, berani, amanat, tanggap.

Praktis, slogan ini menjadi yang terpanjang. Tapi tanpa eksekusi yang tepat, teknik seperti ini bisa saja terdengar garing.

Perlu dicermati kata “amanat” dalam slogan ini. Kata “humanis”, “egaliter”, “berani”, dan “tanggap” adalah kata sifat yang bisa digunakan untuk menjelaskan kata benda, dalam hal ini “Jakarta”. Tetapi kata “amanat” adalah kata benda yang tentu tidak tepat disandingkan dengan kata benda lainnya. Apa maksud Jakarta amanat?

3. Jakarta Baru

Soal adu pendek, slogan ini jawaranya. “Jakarta Baru” terdengar efektif dan segar. Hanya dengan dua kata, pasangan Jokowi-Basuki cukup mampu membangun persepsi bahwa Jakarta butuh sesuatu yang berbeda dari yang sekarang.

Menariknya, slogan mereka memiliki inisial JB, yang juga sama dengan inisial kandidat.
Kebetulan belaka? Entahlah. Mungkin para penggemar Justin Bieber tertarik meneliti lebih lanjut.

4. Ayo ‘Beresin’ Jakarta!

Pasangan Hidayat-Didik memilih nada persuasif sebagai slogannya. Mereka mengajak warga Jakarta untuk bersama-sama membereskan Jakarta. Baiknya slogan ini adalah efeknya yang secara langsung berusaha menghadirkan keterlibatan masyarakat.

Tetapi terus terang, slogan ini justru rentan jadi bumerang. Di lingkungan tempat tinggal saya, poster-poster kandidat ini sudah bertebaran, padahal masa kampanye belum dimulai. Seakan hanya ada beda tipis antara “Ayo ‘beresin’ Jakarta!” dan “Ayo ‘berantakin’ Jakarta!”.

5. Berdaya Bareng-bareng

“Berdaya Bareng-bareng” bisa dibilang cukup mudah melekat di kepala karena inisialnya yang menggunakan huruf yang sama. Tetapi, ini bukanlah senjata utamanya. Kekuatan slogan ini justru ada pada penggunaan kata “bareng-bareng”, yang memposisikan Faisal-Biem sejajar dengan masyarakat. Pesannya cukup jelas, yaitu melakukan pendekatan dari bawah ke atas ketimbang dari atas ke bawah yang umum dilakukan pemerintah.

6. Tiga Tahun Bisa!

Di antara yang lain, ini adalah yang paling berani dan paling konkret secara waktu.
Alex-Nono tampak sangat yakin bisa menyulap segala kesemrawutan Jakarta dalam tiga tahun saja. Apakah Anda percaya mereka mampu? Terserah Anda.

Paparan di atas tentu subjektif berdasarkan pengamatan saya. Terlepas dari calon yang saya dukung, saya menyenangi slogan Faisal-Biem dan Jokowi-Ahok. Bagaimana pendapat Anda? Slogan manakah yang Anda sukai? Ayo ceritakan di kolom komentar!

Robin Hartanto adalah warga Jakarta yang menghabiskan separuh hidupnya di jalan. Separuhnya lagi dia habiskan untuk bekerja sebagai arsitek junior di Avianti Armand Studio.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.