Newsroom Blog

Taman Lingkungan Biarlah Tetap "Tersembunyi"

Taman di dalam sebuah kota seyogyanya bermacam-macam tingkatannya. 

Dan kenyataannya memang demikian. Di Jakarta, misalnya, ada Lapangan Monumen Nasional yang bersifat publik. Taman ini terbuka bagi siapa saja yang datang dari mana saja. Tidak ada yang akan terganggu kalau ia hiruk-pikuk, kecuali barangkali Presiden dan keluarga kalau mereka sedang menginap di Istana. Tapi selain mereka, tidak ada "penghuni" di sekitar Lapangan Monas.

Lalu ada taman yang untuk bagian kota yang terbatas, misalnya Taman Menteng.  Letak taman ini menunjukkan hierarki tersebut. Taman diapit oleh dua jalan besar tapi lokal, dan di belakangnya ada sedikit hunian.

Namun selain itu ada yang sangat penting juga, ialah taman-taman yang dimaksudkan hanya bagi para penghuni di sekitar mereka. Di Menteng dan Kebayoran Baru, taman-taman lingkungan hunian ini banyak tersembunyi, tidak mudah diketahui oleh orang luar. Jalan masuk ke taman-taman di Menteng, misalnya, ada yang dibuat serong terhadap jalan utama, sehingga tidak serta-merta terlihat atau disadari oleh orang yang lalu-lalang di jalan besar itu.

Ada juga taman yang benar-benar di dalam, dikelilingi sepenuhnya oleh rumah-rumah. Tujuannya memang lokal: tempat orang istirahat secara tenang dengan sejumlah tertentu tetangga saja, tidak terganggu oleh orang luar atau asing.

Jadi, ketersembunyian taman-taman itu ada maksudnya. Dan sebaiknya dibiarkan demikian. Sebuah taman lingkungan tidak perlu dikunjungi oleh orang sekota secara rutin. Hal terakhir ini bahkan dapat menimbulkan masalah kebisingan, kebersihan, pemeliharaan umum, dan konflik kepentingan dan fungsional.

Memang ada gejala membusuknya beberapa taman atau ruang terbuka. Ini juga gejala di banyak kota dan negara, termasuk di Eropa.  Dan, ada berbagai upaya menghidupkannya kembali.

Salah satu cara paling jitu menghidupkan kembali ruang terbuka, menurut hemat saya, adalah apa yang dilakukan oleh seniman bersama komunitas setempat. Menghidupkan ruang terbuka pada dasarnya berarti menghidupkannya secara aktif dengan empati tinggi. Ini hanya mungkin dilakukan oleh komunitas sekitar yang benar-benar sehari-hari bersentuhan dengan ruang-ruang demikian. Hubungan yang "intim" antara penghuni setempat dan ruang terbuka dapat terjadi dan membuatnya menjadi lestari (sustainable).

Mengundang pengunjung dari luar dari mana-mana saja bukan berarti terlarang, tetapi tidak dapat diharapkan menghidupi dan menghidupkan taman-taman secara lestari. Bahkan harus diwaspadai (semoga tidak senantiasa terjadi) munculnya gaya hidup konsumtif baru dengan mobilitas tambahan dan masalah bawaannya seperti sampah, kehirukpikukan, dan konsumsi energi malam hari.

Contoh taman "tersembunyi" yang menjadi makin rusuh karena dikunjungi banyak orang luar adalah Taman Situ Lembang di Menteng.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.