Newsroom Blog

Tiga Catatan Tentang Aglomerasi Perkotaan

Aglomerasi perkotaan adalah beberapa kota yang menyatu menjadi kesatuan fisik dan ekonomi, serta mungkin juga sosial dan budaya. Contohnya Tokyo, Seoul, Jabodetabek, Mumbai, Hyderabad, dsb.

Pada umumnya, aglomerasi perkotaan menyumbang pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) suatu negara dengan persentase lebih besar daripada persentase penduduknya. Itulah sebabnya aglomerasi perkotaan disebut-sebut sebagai mesin pertumbuhan.

Tetapi karena itu pulalah, berkembang tekanan untuk mengelola aglomerasi perkotaan secara lebih efisien. Dalam perspektif kelestarian sekarang, kini sedang berkembang pula keinginan dan cara untuk mengukur efisiensi aliran material dan energi yang melalui aglomerasi. Tidak cukup mereka hanya produktif, tetapi juga harus sekecil mungkin tapak ekologisnya.

Pada sebuah konferensi perkotaan di Mumbai, India, awal Februari silam, saya memberikan tiga pokok gagasan mengenai aglomerasi perkotaan, yang diambil berdasarkan pengalaman Indonesia.

Pertama, pengenalan istilah “multipolis”, “multipolitan”, dan “multipolitanisme” untuk menggantikan megacity atau megapolis — yang pernah menimbulkan salah persepsi karena dominasi Jakarta. Kenyataannya, di dalam kawasan ini memang banyak kota (multipolis) yang otonom secara politik dan budaya.

Di masa depan mungkin sekali kota-kota Depok, Bekasi, Tangerang akan menjadi makin penting, sebagaimana sudah kelihatan pada gejala pertumbuhan penduduknya, yang jauh lebih besar daripada di Jakarta. Mungkin sekali konsep pengelolaan kawasan ini harus lebih didasarkan pada kenyataan banyak-pusat ini. Sebab itu, multipolitanisme mungkin lebih tepat.

Kedua, ekologi perlu ditegakkan sebagai salah satu dasar utama untuk menetapkan batas-batas pemerintahan/administratif kawasan multipolitan. Pada kasus Jabodetabek, hal ini sangat nyata dan mendesak.

Banyak persoalan di Jabodetabek terkait masalah pengelolaan lingkungan hidup. Kawasan ini harus dilihat sebagai, antara lain, kesatuan kawasan daerah tangkapan air (watershed area), yang berada di Jawa Barat-Banten. Masalah banjir Jakarta hanya dapat diselesaikan secara lestari dengan pendekatan konservasi atas seluruh satuan ekologis tersebut. Kita tidak ingin kawasan multipolitan sekadar tumbuh, tapi juga tumbuh yang bermutu, lestari, yang berdasarkan pada kenyataan dan tujuan ekologis.

Ketiga, masyarakat perlu dianggap tidak hanya sebagai konsumen ekonomi, tetapi juga pihak yang mampu memberi tekanan politik. Mereka perlu turut memahami multipolitanisme sebagai dasar bagi partisipasi mereka dalam proses pemerintahan yang baik.

Konsep aglomerasi multipolitan secara komprehensif tidaklah mudah dipahami masyarakat, meski mereka sebenarnya sudah mengalami kesaling-terkaitan dan kesaling-tergantungan di dalam dan di antara seluruh kawasan ini.

Soal angkutan mungkin salah satu yang paling nyata. Juga soal air. Pengalaman sehari-hari ini modal awal untuk memahami dan kemudian terlibat aktif dalam pemerintahan multipolitan secara aktif. Modal ini perlu menjadi demand yang efektif.

Saya menduga, inilah salah satu sebab BKSP Jabodetabek tidak efektif karena memang tidak punya wewenang atau sumber daya tersendiri. Terlebih, ia tidak memiliki masyarakat sipil yang terorganisasi pada tingkat multipolitan, yang dapat berperan sebagai demand efektif. Masyarakat multipolitan perlu menuntut secara nyata pelayanan-pelayanan lebih baik pada skala multipolitan, dan pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin kelestarian kehidupan jangka panjang di dalam wilayah yang sangat produktif, tetapi belum tentu berkualitas, ini.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.