Newsroom Blog

Tips Absurd Jakarta: Aman dan Nyaman Naik KRL Jabodetabek

Tips Absurd Jakarta adalah seri tulisan yang berisikan tips-tips umum dalam berkeseharian di kota, yang rupanya tidak benar-benar berlaku di Jakarta—kota merangkap rimba. Tidak ada yang salah dengan anjuran-anjuran berikut, hanya saja... Jakarta keras, bung!

Bersiasat dalam menghadapi situasi yang kompleks bukanlah perkara mudah, dibutuhkan kepekaan untuk melihat yang teratur di tengah kekacauan. Berkereta menggunakan KRL Jabodetabek adalah salah satu contohnya.

Penumpang yang acak, dari Dahlan Iskan sampai penjaja koran; perilaku penumpang yang entah konyol atau kreatif, dari yang membawa tempat duduk sendiri hingga yang duduk di atas kereta; jadwal kereta yang tak bisa ditebak, umumnya telat dengan alasan berjuta alasan; informasi perjalanan yang seadanya, dengan mengandalkan pengeras suara berbunyi cempreng; dan masih banyak lagi kompleksitas yang akan Anda hadapi ketika melakukan perjalanan menggunakan KRL Jabodetabek.

Tak heran, banyak tips yang beredar untuk dapat berkereta dengan aman dan nyaman, walau tak sedikit pula yang absurd. Berikut adalah beberapa tips—baik yang disarankan oleh situs resmi KRL http://www.krl.co.id/tips-perjalanan.html dan yang saya kumpulkan dari berbagai sumber—yang sebenarnya tidak salah, namun juga tidak akan benar-benar berhasil diterapkan.

1. Rencanakan dengan tepat, waktu dan tujuan perjalanan yang hendak dicapai.

Seandainya kalimat di atas tidak diakhiri oleh tanda titik, boleh kita menambahkan: “...tetapi jangan harap rencana anda berjalan lancar.”

Sudah jadi rahasia umum bahwa KRL Jabodetabek sering tidak tepat waktu. Alasannya beragam: rel patah, pantograf rusak, mesin KRL bermasalah, atau jaringan listrik padam. Oleh karena itu, merencanakan dengan tepat waktu dan tujuan perjalanan anda bisa jadi sia-sia belaka.

Namun begitu, ada satu hal yang bisa Anda amini, bahwa kereta tidak pernah berangkat lebih awal.  Maka, tips yang lebih berguna adalah: selalu sediakan hiburan untuk menunggu.

2. Hindari jam padat.
Pengguna rutin KRL Jabodetabek tahu persis bahwa yang dimaksud dengan jam padat adalah arus ke arah Jakarta di pagi hari (jam berangkat kerja) dan arus dari arah Jakarta di sore hari (jam pulang kerja). Tujuan untuk menghindari jam padat adalah agar anda tidak perlu bersesakan dengan rombongan kereta.

Jam padat ini sebenarnya juga berlaku pada pengguna kendaraan pribadi atau bus umum. Malah, dengan menggunakan transportasi darat berbasis jalan raya, besar kemungkinan penumpang perlu mengorbankan waktu yang lebih lama untuk sampai tujuan. Sehingga bisa dikatakan bahwa tidak ada alternatif yang cukup nyaman untuk melakukan perjalanan di jam padat.

Bagi para pekerja yang harus datang tepat waktu ke kantor atau ingin menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah sepulang kerja, menghindari naik KRL di jam padat adalah tips yang absurd. Yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dan berusaha menikmati kesesakan, asal jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan.

3. Dahulukan penumpang yang keluar.
Ini adalah prinsip moral dalam menggunakan transportasi umum di tempat beradab mana pun: dahulukan penumpang yang keluar. Sayangnya, itu tidak berlaku di kereta komuter. Prinsip “moral” bagi pengguna KRL Jabodetabek adalah: dahulukan penumpang yang masuk.

Demi tempat duduk yang empuk, para pengguna kereta komuter siap menunjukkan jati diri mereka sesungguhnya. Sekilas pintu terbuka, sekilat mereka menyergap dengan kecepatan dahsyat—bak Usain Bolt—sembari selirik dua lirik mencari kursi lowong.

Jika anda tidak ingin tersambar, berikanlah jalan bagi mereka. Jangan coba-coba.

4. Kereta yang kosong atau sesak sama bahayanya, dua kondisi itu ideal bagi pencopet.
Bahwa ini dikatakan sendiri oleh situs resmi KRL Jabodetabek membuat saya jadi bingung. Saya harus naik kereta dalam kondisi seperti apa?

Sepak terjang pencopet di KRL memang sudah melegenda. Saya sendiri sudah pernah melihat dua kejadian langsung penjambretan di kereta dan sudah tak terhitung kali mendengar kisah serupa dari teman-teman.

Tetapi, pernyataan ini menjadi absurd karena ini bukan tips, melainkan realita. Tampaknya, saking pasrahnya dengan kondisi keamanan di kereta, penyelenggara KRL Jabodetabek memilih untuk menyampaikan realitanya sebelum anda turut terkena musibah.

5. Hindari berdiri di dekat pintu kereta.
Berdiri di dekat pintu kereta bukan saja mengganggu sirkulasi keluar masuk pengguna kereta, tetapi juga dapat membahayakan diri sendiri.

Tetapi, berdiri di dekat pintu justru menjadi kebiasaan yang sering dilakukan pengguna kereta komuter di jam padat; setidaknya ada dua alasan. Pertama, berdiri di tengah gerbong di jam padat akan menyulitkan Anda keluar dari gerbong, saking sesaknya. Kedua, jika Anda menaiki kereta dari pertengahan rute di jam padat, anda memang tidak akan bisa masuk ke tengah kereta, juga saking sesaknya.

6. Kalau sudah dekat dengan tempat tujuan (lokasi turun) segera merapat ke pintu.

Walaupun benar adanya (mengingat apa yang sudah dijelaskan di tips sebelumnya), tips yang satu ini membutuhkan pengetahuan dan kemampuan khusus. Kemampuan yang hanya bisa diperoleh dengan jam terbang yang tinggi.

Jika belum berpengalaman, Anda akan kesulitan tahu di mana anda berada, mengingat informasi posisi kereta sangatlah minim.  Kemudian, jika tidak pandai-pandai menyelinap di dalam kesesakan, salah-salah Anda tidak bisa turun—terjebak dalam kerumunan.

7. Untuk KRL Ekonomi, hindari duduk di ujung (dekat pintu).
Tujuan dari tips ini adalah untuk mencegah penjambretan. Seringkali ketika anda tidak waspada atau duduk di dekat pintu, para penjambret menggunakan kesempatan. Tepat ketika kereta hendak melanjutkan perjalanan; mereka dengan cekatan mengambil barang berharga, dan Anda tidak dapat berbuat apa-apa karena kereta sudah jalan.

Masalahnya, posisi duduk di kereta ekonomi bukanlah pilihan, melainkan anugerah. Dapat duduk di kereta ekonomi saja sudah bersyukur sekali. Jika mau pilih-pilih tempat duduk, ibaratnya diberikan hati meminta jantung.

8. Jangan duduk di atap kereta.

Sebenarnya ini bukan tips, melainkan larangan yang dikeluarkan oleh pembuat kebijakan KRL Jabodetabek. Duduk di atap kereta adalah hal yang sangat membahayakan, dan kerap kali terjadi kecelakaan yang menewaskan “atapers”—istilah yang sering dipakai untuk para pengguna jasa KRL yang duduk di atap kereta.

Sayangnya, berbagai usaha untuk mencegah mereka selalu kandas. Hingga saat ini, para “atapers” tetap menguasai atap kereta di jam-jam sibuk dengan alasan yang sederhana: kapasitas gerbong yang tidak memadai. Para “atapers” mustahil ditampung di dalam kereta yang sudah teramat penuh.

Di satu sisi tindakan duduk di atap kereta memang melanggar peraturan, di sisi lain tindakan tersebut adalah kritik keras terhadap penyelenggara KRL Jabodetabek.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.