Newsroom Blog

Tips Absurd Jakarta: Membelah Lautan Kendaraan

Tips Absurd Jakarta adalah seri tulisan yang berisikan tips-tips umum sehari-hari di sebuah kota, yang rupanya tidak benar-benar berlaku di Jakarta. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan anjuran-anjuran berikut, hanya saja... Jakarta keras, bung!



Sebagai pejalan kaki, saya ingin sekali memiliki kemampuan Musa membelah laut. Sehingga ketika hendak menyeberang jalan, saya tinggal mengangkat tangan dan seketika kendaraan-kendaraan bermotor terhenti di kedua sisi. Saya pun bisa dengan santai melangkahkan kaki, tanpa perlu bersusah payah mengemis jalan ke para pengemudi kendaraan.

Bukan tanpa alasan jika saya ingin punya kemampuan membelah jalan. Menyeberang jalan, apalagi di kota seperti Jakarta, barangkali hal tersulit yang perlu dihadapi pejalan kaki. Mereka harus berhadapan langsung dengan para pengemudi kendaraan dalam pertarungan yang berat sebelah — baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Bila pengemudi kendaraan aman dalam lindungan selubung besi, pejalan kaki hanya bermodalkan topi untuk berlindung dari terik. Bila kendaraan bermotor berkecepatan 50 kilometer per jam, sepasang kaki manusia beralaskan sandal jepit melaju tak sampai sepersepuluhnya.

Bila bunyi cempreng klakson kendaraan begitu membahana, teriakan nyaring pejalan kaki nyaris tak terdengar.

Menyeberang jalan di Jakarta pasti berada di level puncak — singgasana musuh terakhir dengan tingkat kesulitan paling ekstrem. Tak heran, tips-tips yang sahih untuk menyeberang jalan, seperti tips-tips berikut, menjadi absurd di Jakarta.

1. Menyeberanglah di jembatan penyeberangan.
Carilah dahulu jembatan penyeberangan di sekitar Anda, maka raga yang ngos-ngosan akan ditambahkan padamu. Walaupun pembangunannya tidak memakan biaya yang terlalu besar, jembatan penyeberangan di Jakarta relatif sedikit. Hanya ada 258, (sementara jumlah pusat perbelanjaan di Jakarta yang mencapai angka 170).

Kecuali di daerah segitiga emas, rasio jumlah jembatan penyeberangan berbanding panjang jalan di Jakarta bisa dibilang tak layak. Di Koridor VI busway misalkan, di tempat kejadian tabrakan yang menewaskan seorang bocah berumur 10 tahun yang sedang menyeberang, jarak antar jembatan mencapai 500 meter. Begitu juga di jalan-jalan besar lainnya, banyak yang berkisar antara 400-500 meter, padahal jarak idealnya sekitar 200 meter.

Belum lagi, banyak jembatan yang kondisinya mencemaskan. Laporan dari wartakotalive.com, di Jakarta Barat banyak JPO yang sudah rusak, salah satunya memiliki lubang yang cukup besar untuk menjerumuskan Anda ke dasar jalan.

Sementara berita dari Tribun Jakarta menyebutkan , banyak jembatan yang berfungsi ganda, baik itu untuk penyeberangan motor maupun untuk mencari nafkah.

2. Tunggulah jalan sampai kosong melompong.
Konon katanya, orang tua yang umumnya sudah tak gesit lagi sering memakai teknik ini — menunggu jalan lengang lalu menyeberang perlahan, sehingga tidak perlu memperkirakan kecepatan berjalan kaki melawan laju kendaraan.

Namun, dengan jumlah kendaraan yang sudah menyaingi jumlah penduduknya, menunggu jalan kosong di Jakarta bisa cukup lama, apalagi di jam-jam sibuk. Bisa jadi, yang muda keburu tua.

Anda juga perlu waspada. Jalan yang kosong memungkinkan bagi kendaraan untuk mengebut kencang, sehingga bisa lebih membahayakan keselamatan penyeberang ketimbang menyeberang di jalan yang padat merayap.

3. Menyeberanglah di zebra cross.
Zebra cross di Jakarta adalah spesies langka. Selain karena jumlahnya yang tak banyak, zebra cross di Jakarta punya keunikan yang tidak banyak dimiliki zebra cross di negara lain: warnanya banyak yang pudar.

Namun, sekalipun masih dapat ditemukan, zebra cross tidak akan benar-benar membantu menyeberang jalanan Jakarta. Pengemudi kendaraan tidak benar-benar peduli Anda berada di atas zebra cross atau tidak.

Yang mereka pikirkan seketika melihat orang yang hendak menyeberang adalah: apakah mereka bisa tetap melaju dengan lurus atau perlu berbelok sedikit sembari tetap melaju, untuk dapat menghindar dari penyeberang.

Pada akhirnya, zebra cross di Jakarta hanyalah sekadar perlindungan hukum, yang menyatakan bahwa Anda tidak menyeberang sembarangan. Selebihnya, Anda tetap perlu berjuang keras.

4. Menyeberanglah di area lampu lalu lintas.
Bisa dikatakan bahwa ini adalah salah satu trik yang sering digunakan dan cukup efektif. Ketika warna lampu lalu lintas berganti jadi warna merah dan kendaraan-kendaraan kemudian berhenti, Anda dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk menyeberang.

Tetapi, bukan jaminan Anda dapat menyeberang dengan aman dan nyaman. Tetaplah berhati-hati, karena banyak pengemudi yang senang melanggar lampu lalu lintas. Mereka siap marah-marah sendiri apabila Anda menyeberang “sembarangan” dan hampir mencelakakan mereka.

5. Lihat kanan-kiri sebelum menyeberang.
Tips ini patut dilakukan untuk berjaga-jaga, selain untuk melihat kendaraan yang datang dari arus normal jalan, juga untuk melihat kendaraan yang datang dari arus tidak normal yang melanggar kaidah-kaidah mengemudi yang benar.

Tidak ada yang salah dengan tips ini, hanya saja perlu ditambahkan satu arah lagi, yaitu lihat kanan-kiri-bawah. Banyak jalanan Jakarta yang berlubang. Salah-salah, Anda dapat tersandung dan jatuh. Tentu saja itu berbahaya, bukan hanya bagi jiwa, melainkan juga bagi muka— mau ditaruh ke mana.

6. Menyeberanglah dengan perlahan, jangan terburu-buru.
Panik dalam menyeberang dapat menyebabkan kebingungan baik bagi diri sendiri maupun orang banyak. Maka dari itu, banyak tips yang menyarankan Anda untuk tidak terburu-buru dalam menyeberang.

Walaupun begitu, menyeberang perlahan akan membuat Anda kehilangan banyak kesempatan untuk menyeberang — mengingat Anda sedang beradu dengan kendaraan bermotor yang kecepatannya sepuluh kali lipat. Maka dari itu, pandai-pandailah mencuri kesempatan dalam kesempitan, dan bergegaslah mengambil setiap kesempatan yang ada.

7. Lambaikan tangan untuk meminta kendaraan berhenti.
Dalam uji nyali di salah satu serial televisi, lambaian tangan adalah tanda menyerah — bahwa Anda sudah tidak sanggup melanjutkan tantangan. Dalam hal menyeberang, lambaian tangan juga berarti mirip, tanda bahwa Anda sedang mengemis (bahasa halusnya: memohon) jalan ke para pengemudi jalan.

Sayangnya, di Jakarta, lambaian tangan sudah kedaluwarsa dan sering tidak lagi digubris. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pengemudi kendaraan hanya akan berkelit untuk menghindarkan diri dari tabrakan. Prinsip mereka hanya satu: dilarang berhenti, kecuali terpaksa.

Jika Anda masih tetap ingin menggunakan lambaian tangan, ada beberapa tips yang mungkin berguna. Pertama, sediakanlah tongkat berlampu pengatur lalu lintas yang biasa dibawa oleh Pak Polisi atau Pak Ogah.

Kedua, lambaikan tangan ketika kendaraan yang sedang melaju adalah angkutan umum; sang sopir akan memberhentikan kendaraannya karena mengira Anda ingin naik.

(Dalam tulisan ini, saya banyak melakukan generalisasi terhadap pengemudi kendaraan bermotor. Tentu, masih ada sebagian kecil pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta yang sangat menghargai para pejalan kaki. Semoga itu adalah Anda.)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.