Newsroom Blog

Trans Jakarta: Dicintai Setengah Hati

Permasalahan angkutan umum Jakarta selalu jadi polemik seru di kalangan komuter. Dari mulai biaya, kenyamanan, keamanan, hingga kepastian. Sangat disayangkan, memang, di kota yang konon megapolitan ini, masih belum ada transportasi umum yang bisa diandalkan. Akibatnya, penduduk Jakarta banyak yang lebih memilih membeli kendaraan sendiri - yang akhirnya menambah kepadatan lalu lintas dan memperburuk kemacetan.

Namun hal ini bukan berarti tidak ada orang yang masih menggunakan angkutan umum dalam bepergian sehari-hari. Salah satunya, saya sendiri. Tiap harinya saya menggunakan angkutan umum menuju kantor.

Sebagai orang yang tinggal di luar Kota Jakarta, maka Kereta Api Listrik adalah pilihan utama saya. Kenapa? Cepat, nyaman, dan harganya yang tidak terlalu mahal, adalah beberapa alasan mengapa akhirnya saya memilih untuk memarkir motor saya di stasiun terdekat.

Bagaimana dengan penduduk Jakarta lainnya? Beberapa saat yang lalu, saya sempat bertanya kepada pembaca Yahoo! melalui Facebook fan page Yahoo! Indonesia tentang angkutan umum di Jakarta yang menjadi favorit mereka. Kira-kira apa ya jawaban mereka?

Jawabannya adalah TransJakarta (325 dari 925 pemilih). Satu-satunya bus yang memiliki jalur khusus di Jakarta ini nampaknya masih jadi pilihan komuter ibukota.

Seiring dengan bertambahnya koridor, bus TransJakarta memang memiliki area pelayanan yang semakin luas. Tak heran jika mulai banyak komuter yang tinggal di luar kota Jakarta, seperti Bekasi (Pinang Ranti) dan Depok (Ragunan) mulai memanfaatkan angkutan umum ini.

Harga yang relatif (sangat) murah juga salah satu alasan kuat kenapa TransJakarta dicintai penggunanya. Hanya dengan membayar Rp 3.500,- satu kali, kamu sudah bisa bepergian keliling Jakarta. Selama kamu tidak keluar dari koridor/halte TransJakarta, kamu tidak perlu membayar lagi. Bandingkan dengan Kopaja/bus kota lainnya, di mana kamu harus membayar Rp 2000,- untuk satu tujuan saja. Plus, TransJakarta menggunakan Air Conditioner sebagai pendingin bus.

Tapi TransJakarta juga bukan berarti tanpa cela. Hasil bincang-bincang saya dengan beberapa teman yang rutin menggunakan angkutan umum ini, berujung pada beberapa keluhan.

Salah satunya, sedikitnya armada bus yang tidak sebanding dengan konsumen - apalagi di waktu-waktu sibuk. Hal ini membuat sering terjadi penumpukan penumpang di halte TransJakarta. Teman saya bisa mengantri hingga 45 menit hingga akhirnya mendapatkan bus. Sudah antrian panjang, bus yang tersedia pun interval waktunya kadang bisa mencapai 10-15 menit sendiri.

Idealnya (bagi saya), interval antar bus Trans Jakarta di waktu sibuk tidak sampai 1 menit. Jika begini tentu tidak adalagi penumpukan penumpang di halte-halte.

Fasilitas TransJakarta juga banyak yang mulai mengalami kerusakan. Halte yang kotor, dinding jembatan yang dicoret-coret, hingga terkadang besi halte yang dicuri. Tidak mengherankan memang hal ini bisa terjadi, toh orang Indonesia dikenal tidak pandai merawat fasilitas umum yang disediakan pemerintah. Pertanyaannya, mau sampai kapan?

Nah sekarang saatnya pemerintah, dan masyarakat bekerja sama. Pemerintah memperbanyak trayek (koridor) Trans Jakarta, menambah armada bus, dan masyarakat merawat apa yang sudah disediakan pemerintah. Mampukah kita?

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.