Newsroom Blog

Transportasi Publik Bukan Pilihan

Pagi cerah selalu gerah bagi tubuh Dani, sekalipun ia sudah mandi. Sebagai pegawai perusahaan yang berkantor di Jakarta Pusat dan penghuni rumah kontrakan di Margonda Depok, ia pergi-pulang bekerja dengan kereta komuter jalur Jakarta-Bogor. Tak perlu diragukan lagi pada jam pergi-pulang kerja, padatnya dahsyat bukan main. Dani sudah terbiasa.
 
Namun, beberapa bulan belakangan, Dani mulai mengeluh. Selain karena harga tiket kereta yang naik Rp 2 ribu, ia harus menyisihkan pengeluaran tambahan karena sejak Lebaran, kereta komuter Jakarta-Bogor belum juga berhenti di Gambir. Entah kapan kembali normal.

Awalnya, manajemen kereta komuter mengatakan kereta tak berhenti di Gambir selama 14-23 Agustus 2012. Lalu diperpanjang sampai 31 Agustus 2012. Lalu diperpanjang lagi sampai akhir September 2012. Sekarang sudah November 2012, dan kereta masih belum berhenti di Gambir. Ia harus turun di Gondangdia, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek.

Dani pun berpikir untuk membeli sepeda motor. Dalam sehari, perjalanan dengan motor cukup mengonsumsi 2 liter bensin alias Rp9000. Dalam sebulan ia bisa menghemat Rp300.000, hitung-hitung meringankan cicilan.

Lain cerita Dani, lain pula Dian.

Dian menyetir mobil pribadi menuju kantornya di bilangan Grogol. Macet, sudah pasti. Namun, dia bukannya tidak mau naik transportasi publik. Dia pernah, lalu trauma.

Saat ia mencoba bertahan dari laju bus yang serabutan dan gencetan orang-orang di kanan-kiri-depan-belakang, dompet Dian dicopet, juga telepon seluler yang baru seminggu ia beli, dengan gaji pertamanya. Mulai saat itulah, kebutuhan akan rasa aman dan nyaman memaksanya untuk naik kendaraan pribadi, sekalipun dengan biaya lebih mahal.

Bukan salah Dani dan Dian ketika, pada akhirnya, mereka memilih menggunakan kendaraan pribadi. Juga bukan salah Dani-Dani dan Dian-Dian lainnya jika kemudian dari seluruh kendaraan yang ada di Jakarta, rasio kendaraan umum berbanding kendaraan pribadi adalah 1,4 persen berbanding 98,6 persen.

Sebanyak 1,4 persen kendaraan umum itu melayani 56 persen jumlah perjalanan di Jakarta, sementara 98,6 persen kendaraan pribadi melayani 44 persen sisanya.  

Di Jakarta, terdapat berjuta alasan untuk pindah ke kendaraan pribadi, dan hanya sedikit alasan pasti untuk pindah ke transportasi publik.

Transportasi umum lebih murah? Belum tentu. Lebih cepat? Tidak pasti. Lebih nyaman? Jelas tidak. Lebih aman? Apalagi itu, tidak perlu ditanya. Masih segar dalam ingatan bus Transjakarta yang terbakar di Semanggi.

Logika umum tentu sepakat bahwa pengembangan transportasi publik harus diutamakan, namun para pemangku kebijakan kota ini rupanya belum satu suara.

Di saat proyek monorel masih tak jelas nasibnya dan MRT masih dikaji kembali, Kementerian Pekerjaan Umum menampar pipi kiri pengguna transportasi publik dengan rencana pembangunan enam ruas tol sepanjang 69,77 kilometer, dengan nilai proyek Rp42 triliun — jumlah uang yang cukup untuk menggratiskan biaya operasional Transjakarta selama 20 tahun atau membangun BRT setara Bogota dengan kapasitas angkut 28.000 orang per jam. 

Di saat yang sama, Kementerian Perindustrian menampar pipi kanan pengguna transportasi publik sambil senyum-senyum berkata: “Ayo beli mobil murah!” Akhir tahun ini, mereka berencana menerbitkan Peraturan Pemerintah menyangkut pemberian insentif produksi mobil murah dan “ramah” lingkungan. 

Maka, kata-kata manis Enrique Peñalosa, mantan Walikota Bogota, yang marak menyebar di dunia maya, bisa juga diartikan sebagai sindiran bagi Jakarta.

“Negara maju bukanlah negara tempat orang miskin mengendarai mobil; ia adalah tempat orang kaya menggunakan transportasi publik,” katanya, barangkali sambil mengarahkan jari telunjuk ke kota Jakarta sebagai contoh negara yang belum ingin maju.

Bukan salah Dani dan Dian.

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.