3 Ciri Datangnya Bubble Properti

RumahCom - Tingginya pertumbuhan sektor properti Tanah Air memunculkan kekhawatiran dari sebagian pihak akan datangnya kondisi bubble properti. Pengamat merangkumkan ciri-ciri datangnya kondisi tersebut, dan menurutnya pasar properti tanah air masih jauh dari kondisi bubble.

Hasan Pamudji, Associate Director Consultancy & Research Knight Frank Indonesia mengatakan, pihaknya memang tidak bisa memperkirakan berapa lama lagi pasar properti tanah air akan menghadapi kondisi bubble. Tetapi, dia bisa memastikan jika tiga hal ini terjadi, maka tak lama lagi pasar properti akan mengalami kondisi bubble.

"Sekarang pasar properti Indonesia sedang menjadi sorotan dunia. Itu bukan pertanda kalau sebentar lagi akan terjadi bubble," kata Hasan dalam paparan The Wealth Report 2013 di Jakarta, Rabu (13/3).

Ciri pertama, rasio kredit macet (non performing loan/NPL) perbankan tinggi. Saat ini, menurut data Bank Indonesia yang dikutip Hasan, NPL masih di bawah 5%, atau berada di level 2% . Ciri kedua, rasio kredit properti terhadap total kredit perbankan yang tinggi.

"Masih dari data BI, rasio KPR/KPA terhadap total kredit perbankan masih rendah, sekitar 8%. Sedangkan kredit properti terhadap total kredit perbankan masih 14%," urai Hasan.

Ciri ketiga atau terakhir adalah tingkat suku bunga KPR/KPA yang terlampau rendah. Saat ini tingkat suku bunga masih berada di kisaran 8% sampai 12%. Hasan membandingkan dengan Singapura yang memberlakukan kebijakan cooling measure menyusul pertanda bubble yang ditunjukkan pasar propertinya.

"Kisaran suku bunga KPR/KPA disana 1,2% sampai 1,5%," imbuh dia. (*)

Im Suryani
imsuryani@rumah.com