Feng Shui Hunian di Lahan Berbukit

tanah berkontur

Oleh: Mauro Rahardjo

RumahCom - Membangun hunian di atas tanah datar adalah hal biasa, tetapi membangun hunian di tanah berbukit dan berlembah tajam adalah hal yang luar biasa. Pasalnya, arsitek dan pakar feng shui dihadapkan pada tantangan yang serius untuk memecahkan problem desain ini.

Lantas, bagaimana feng shui membuat perencanaan dan penataan massa dan ruang pada suatu daerah yang memiliki topografi berkontur tajam?

Secara teoritis, dalam ilmu feng shui, tanah yang memiliki gunung dan bukit-bukit serta lembah dengan sungai dan danau merupakan hal yang paling menguntungkan. Keberadaan Tanah berkontur membuktikan energi Chi dari dalam tanah sangat kuat. Energi inilah yang membentuk permukaan tanah naik dan turun.

Feng shui klasik menggambarkan posisi kawasan yang baik dikelilingi oleh bukit: Bukit Kura-Kura yang menjadi sandaran di belakang site, Bukit Naga Hijau berada di sisi kiri, dan Bukit Macan Putih berda di sebelah kanan (lihat gambar di atas). Lokasi yang baik menurut feng shui adalah hal paling utama untuk hunian atau vila.

Jangan Lukai Nadi Naga
Kemudian, bagaimana meletakkan bangunan pada kawasan seperti ini? Prinsip yang pokok adalah bangunan mengikuti kontur alam—bukan merusaknya.  Beberapa ahli pertamanan (landscaper) ada yang cenderung membentuk kontur baru (buatan) dengan teknik 'cut and fill' yang bertujuan meratakan lahan agar mempermudah pembangunan. Cara ini kurang tepat, karena dengan banyak membuat galian dan meratakan tanah, maka yang terjadi developer akan 'melukai' bukit-bukit, sehingga 'nadi' naga ikut terluka. Ujung-ujungnya, menimbulkan kerusakan pada energi lingkungan (Chi).

Agar tidak banyak melakukan penggalian, massa bangunan dapat diletakkan di atas tiang-tiang penyangga yang kokoh, sehingga KDB (Koefisien Dasar Bangunan) dapat dipertahankan sekecil mungkin. Dari aspek feng shui, cara ini juga menguntungkan, karena tanah pada bukit-bukit ini tidak dibabat habis, sehingga lokasi tersebut dapat dipertahankan asri, menyerupai kondisi aslinya.

Konsep kedua yang perlu dipikirkan adalah bagaimana agar lingkungan rumah atau vila pada kawasan ini senantiasa hijau.  Konsep arsitektur hijau bukan merupakan hal yang baru. Feng shui akan diuntungkan apabila lingkungan tetap hijau. Untuk itu fungsi pertamanan bisa diterapkan agar mampu meningkatkan keasrian lingkungan. Selain membentuk vista indah, arsitektur hijau praktis dapat meningkatkan kebersihan udara lingkungan. (aer)

Foto Selengkapnya Bisa Dilihat Di Sini

Mauro Rahardjo adalah pakar Feng Shui yang juga pendiri Feng Shui School of Indonesia. Saat ini, Mauro Rahardjo dan istrinya, Lelyana, aktif menulis artikel feng shui untuk Rumah.com.