Hidrokarbon, Pengganti Freon yang Ramah Lingkungan

RumahCom — Suhu Bumi yang semakin panas karena pemanasan membuat penggunaan penyejuk ruangan atau AC makin digemari. Ironisnya, banyak AC yang menggunakan pendingin berbahan HCFC dan CFC yang justru mempercepat proses penipisan ozon dan pemanasan global.
Penipisan ozon dan pemanasan global dapat mengganggu perubahan iklim, merusak mata, menyebabkan kanker kulit, menurunkan kekebalan tubuh, dan lain-lain.
Bahan-bahan pendingin buatan mengandung unsur H (hidrogen), C (klor), F (fluor) dan C (karbon). Di Indonesia, pendingin sintetis ini lebih dikenal dengan istilah freon.
Bahan pendingin yang mengandung freon antara lain:
• R-12 atau CFC (Chloro Fluoro Carbon) yang digunakan sebagai pendingin kulkas, dispenser air, dan AC mobil.
• R-22 atau HCFC (Hydro Chloro Fluoro Carbon) yang digunakan untuk penyejuk ruangan (AC)
• R-134a atau HFC (Hydro Fluoro Carbon) yang digunakan pada kulkas, dispenser air, AC mobil, dan AC ruangan.
Sejak 2007, pemerintah Indonesia secara tegas telah melarang penggunaan ketiga jenis pendingin ini. Melihat kondisi tersebut, para pecinta lingkungan hidup mulai menggalakkan penggunaan refrigerant hydrocarbon, sebagai pengganti freon.
Pada dasarnya pendingin berbasis hidrokarbon sama dengan gas LPG yang ada di rumah, hanya dalam bentuk yang masih murni dan tak berbau. Di Indonesia, bahan ini sudah diproduksi Pertamina dengan nama MUSIcool.
Pendingin berbahan hidrokarbon dinilai ramah lingkungan juga hemat listrik. Beberapa penelitian menunjukkan, hidrokarbon lebih hemat 50 persen dibanding freon. Hal ini membuat kinerja kompresor lebih ringan sehingga konsumsi listrik pun lebih hemat.
Di sisi lain, hidrokarbon punya sifat mudah terbakar, karena masuk dalam kelas A3 (flammable), dengan komposisi Propane, Normal Butane, dan Iso Butane. Untuk itu di beberapa negara dibuat standar keamanan, seperti British Standard BS 4434:1995 (Inggris), AS/NZS 1677.1/2:1998 (Australia dan Selandia Baru). dan SNI (Indonesia).

Anto Erawan
antoerawan@rumah.com