BMKG: Atmosfer Tak Stabil Tingkatkan Hujan di Indonesia Tengah-Timur

·Bacaan 2 menit

VIVA – Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di wilayah bagian tengah dan timur.

"BMKG mengimbau masyarakat agar waspada terhadap potensi cuaca ekstrem untuk sepekan ke depan, yakni hujan secara sporadis, lebat dan durasi singkat, disertai petir dan angin kencang, bahkan hujan es, yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung, terutama untuk warga yang tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi," kata Deputi Bidang Meteorologi Guswanto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 16 Juli 2021.

Kondisi itu diperkuat oleh aktifnya fenomena 'Madden Julian Oscillation' (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin di wilayah Indonesia.

Guswanto mengatakan terbentuknya belokan maupun pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) dapat mengakibatkan meningkatnya potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

"Berdasarkan analisis terhadap perkembangan dinamika atmosfer tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan potensi cuaca ekstrem dan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang," katanya.

Kondisi itu diprakirakan pada 16-18 Juli 2021 di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Pada 19-21 Juli 2021 diprakirakan di Bengkulu, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Pada tanggal 22-23 Juli 2021 diprakirakan terjadi di Maluku, Papua Barat, dan Papua. "Fenomena tersebut memicu gelombang tinggi di perairan Indonesia," ujarnya.

Area perairan dengan gelombang tinggi sekitar 2,5-4 meter diprakirakan di Selat Malaka bagian utara, Perairan utara Sabang, Perairan barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai, Perairan Plau Enggano-Bengkulu, Perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Sumatra, serta Selat Sunda bagian barat dan selatan.

Selain itu, juga terjadi di Perairan selatan Jawa hingga Pulau Sumba, Selat Bali-Lombok-Alas-Sape bagian selatan, Selat Sumba bagian barat, Selat Sape bagian selatan, Laut Sawu, Perairan selatan Pulau Sawu-Pulau Rotte-Kupang, Samudra Hindia selatan Jawa Barat hingga NTT, dan Laut Sulawesi.

Selanjutnya, di Perairan utara dan selatan Sulawesi Utara, Perairan Kepulauan Sitaro, Perairan Bitung-Likupang, Perairan Keplauan Sangihe-Kepulauan Talaud, Laut Maluku, Perairan utara Halmahera, Perairan Sorong, Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua, Laut Banda, Perairan selatan Kepulauan Babar-Kepulauan Tanimbar, Perairan selatan Kepulauan Kai-Kepulauan.Aru, dan Laut Arafuru.

Area perairan dengan gelombang sangat tinggi 4-6 meter diprakirakan di Samudera Hindia barat selatan Banten.

"Potensi pertumbuhan awan cumulonimbus di wilayah udara Indonesia dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75 persen (OCNL/'Occasional') selama tujuh hari ke depan terjadi di beberapa wilayah," katanya.

Di antaranya, diprediksi terjadi di sebagian Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan sebagian Maluku, Papua Barat, Papua, Selat Sunda, Laut Banda, Laut Seram, Laut Halmahera, Samudera Pasifik Utara Papua Barat dan Papua, serta sebagian Laut Arafuru. (ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel