BMKG: Badai Tropis NTT Bisa Jadi Efek Pemanasan Global

Syahrul Ansyari, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA - Personel dari tujuh stasiun milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di berbagai wilayah datang ke lokasi banjir bandang di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Mereka datang dan menyebar ke lokasi pengungsian untuk memantau langsung kondisi lapangan dan memberikan informasi riil kepada masyarakat, termasuk pemerintah daerah.

"Saat ini sedang kami terjunkan pula untuk ke tempat-tempat pengungsi guna menyampaikan apa yang terjadi untuk menenangkan warga dan juga untuk membuat WA grup pengungsi. Agar perkembangan cuaca dan peringatan dini dapat segera tersebar melalui WA grup pengungsi," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati usai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi, Selasa, 6 April 2021.

Dwikorita memaparkan bahwa siklon tropis seroja yang terjadi di NTT sebetulnya sudah terdeteksi sejak 2 April lalu. Informasi itu kemudian disebarkan ke berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

Baca juga: Dwikorita: 'Sejora' Badai Paling Kuat yang Mirip Tsunami

Sejak 2008, ini tercatat siklon ke-10, dan di NTT saat ini terbilang cukup dahsyat. Karena baru pertama kali gelombang air masuk ke daratan.

"Yang tampaknya merupakan yang paling kuat dibandingkan siklon-siklon sebelumnya. Dan ini sebagai salah satu dampak dari naiknya suhu muka air laut," kata Dwikorita yang pernah menjabat Rektor Universitas Gadjah Mada tersebut.

Menurut Dwikorita, siklon tropis seroja berbeda pada siklon dengan penamaan cempaka, yang terjadi sebelumnya. Pada siklon cempaka atau badai yang terakhir di tahun 2017, hanya berkutat di lautan. Yang masuk hanya ke daratan, hanya sebagian kecil atau ekor pusaran angin.

Yang menjadi tak lazim juga, kata dia, setelah tahun 2017, siklon tropis terjadi satu tahun sekali dari siklus sebelumnya hanya 3-4 tahun sekali.

"Tetapi yang saat ini mulai berkembang saja sudah kena pulau. Dan itulah yang membuat lebih dahsyat. Bayangkan kecepatannya saat terbentuk bisa sampai pusarannya 85 km per jam," ujarnya.

"Barangkali kita perlu mengevaluasi karena penyebabnya adalah semakin panasnya suhu muka air laut yang tentunya laut itu tempat mengabsorbsi CO2 dan itu adalah dampak dari gas rumah kaca, bisa dirunut ke sana. Ini baru hipotesis ya. Tapi ada korelasi dengan peningkatan suhu muka air laut yang dipengaruhi juga oleh global warming," sambungnya.