BMKG Beberkan Penyebab Gempa Blitar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Gempa di tenggara Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pada Jumat malam pukul 19.09 WIB terjadi akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia, menurut pejabat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam Lempeng Eurasia," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, 21 Mei 2021.

BMKG semula menyatakan gempa yang pusatnya berada di laut sekitar 57 kilometer arah tenggara Kabupaten Blitar pada kedalaman 110 kilometer itu magnitudonya 6,2, namun kemudian memutakhirkannya menjadi 5,9, dilansir dari Antara.

Gempa bumi yang menurut hasil analisis BMKG memiliki mekanisme sesar naik kombinasi geser itu getarannya dirasakan di Blitar dengan intensitas V MMI, dirasakan oleh hampir semua penduduk, membuat banyak orang terbangun, menyebabkan gerabah pecah dan barang-barang terpelanting, serta membuat tiang-tiang dan barang besar bergoyang.

Dampak gempa juga dirasakan di Karangkates, Sawahan, Ngajuk, Lumajang, Tulungagung, dan Malang dengan intensitas IV MMI, dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan beberapa orang di luar rumah serta menyebabkan gerabah pecah dan pintu berderik,.

Daerah Terdampak Gempa Blitar

Polisi dan personel militer memeriksa kerusakan akibat gempa di rumah sakit Ngudi Waluyo, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (10/4/2021). Gempa bermagnitudo 6,0 melanda lepas pantai pulau Jawa Indonesia pada Sabtu 10 April 2021. (Photo by M. ULIN NUHA / AFP)
Polisi dan personel militer memeriksa kerusakan akibat gempa di rumah sakit Ngudi Waluyo, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (10/4/2021). Gempa bermagnitudo 6,0 melanda lepas pantai pulau Jawa Indonesia pada Sabtu 10 April 2021. (Photo by M. ULIN NUHA / AFP)

Di Madiun, Banyuwangi, Pasuruan, Ponorogo, Mataram, Trenggalek, Pacitan, Bantul, Sleman, Kulonprogo, Pacitan, Kuta, Denpasar, Gianyar, Lombok Barat, Ngawi, Tabanan, dan Jembrana getaran akibat gempa itu dirasakan pada skala III MMI, dirasakan nyata di dalam rumah, terasa seakan ada truk berlalu.

Selain itu, getaran gempa dirasakan di Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo, Kediri, Magelang, Cilacap, Pasuruan, Wonogiri, Klaten, Lombok Tengah, Purworejo, dan Karangasem dengan intensitas II MMI, dirasakan oleh beberapa orang dan menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Bambang mengatakan, menurut hasil monitoring BMKG hingga pukul 20.00 WIB terjadi dua kali gempa bumi susulan dengan magnitudo 3,1 dan 2,9 setelah gempa dengan magnitudo 5,9 di Blitar.

Berdasarkan data yang sudah masuk ke BMKG, gempa yang menurut hasil pemodelan tidak berpotensi menimbulkan tsunami itu menyebabkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan fasilitas umum dan rumah warga.

Bambang mengimbau warga tetap tenang, menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, serta memeriksa dan memastikan bangunan tempat tinggal tahan gempa dan tidak mengalami kerusakan yang dapat membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini