BMKG: Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Sultra hingga 21 Februari

Lis Yuliawati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berpotensi terjadi cuaca ekstrem hingga 21 Februari 2021 mendatang.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kendari Rudin di Kendari, Rabu, 17 Februari 2021, mengatakan berdasarkan prakiraan cuaca di wilayah Sulawesi Tenggara berpotensi terjadi hujan ringan, sedang, dan hujan sedang hingga lebat.

"Peringatan dini berpotensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai guntur dan angin kencang pada siang hari di wilayah Kendari, Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Buton Utara, Muna dan Muna Barat serta pada malam hari di wilayah Kolaka," kata Rudin.

Sementara potensi hujan sedang dapat terjadi di wilayah Kendari, Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Buton Utara, Muna dan Muna Barat. Hujan ringan berpotensi di wilayah Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka Timur, Konawe Kepulauan dan Bombana.

Forecaster on Duty BMKG UPT Stasiun Klimatologi Konawe Selatan Ekawati Natalia Mulyadi di Kendari, mengatakan pada pertengahan Februari 2021, sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara diprakirakan berpeluang tinggi mengalami curah hujan kategori menengah (51-150 mm/dasarian).

"Beberapa wilayah mengalami curah hujan kategori menengah (51-150 mm/dasarian) yaitu sebagian wilayah Konawe, Konawe Utara, Kolaka, Konawe Selatan, Buton Utara, Buton, Baubau, Buton Selatan dan Konawe Kepulauan.

Ia menyampaikan, secara umum wilayah Sulawesi Tenggara pada pertengahan Februari 2021 hingga pertengahan Maret 2021 sebagian besar diprakirakan akan mengalami curah hujan kategori menengah (51-150 mm/dasarian).

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar wilayah Indonesia (96 persen dari 342 zona nusim) saat ini telah memasuki musim hujan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan dari analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

"Hal ini disebabkan oleh monsun Asia yang masih mendominasi wilayah Indonesia dan diperkuat oleh aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin di sebagian wilayah Indonesia," kata Guswanto melalui rilis BMKG.

Selain itu, lanjut dia, adanya pusat tekanan rendah di wilayah utara Indonesia dan di Australia bagian utara dapat mempengaruhi pola arah dan kecepatan angin sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam sepekan (15-21 Februari) ke depan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Sulawesi Tenggara dan beberapa wilayah lainnya seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kemudian, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Untuk itu, masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan oleh kondisi cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin. (Ant)