BMKG imbau petani sesuaikan pola tanam dampak "la nina"

Budi Suyanto
·Bacaan 2 menit

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengimbau petani menyesuaikan pola tanam dengan curah hujan tinggi akibat dampak la nina.

"Petani harus bisa menyesuaikan tanaman apa yang sesuai agar tidak gagal panen, karena kebanyakan air hujan sekitar 60 mm per bulan, maka perlu disusun strategi dan rencana dalam pola tanam," katanya di Temanggung, Kamis.

Ia menyampaikan hal tersebut usai panen cabai bersama dan penutupan Sekolah Lapang Iklim Operasional di Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung.

Baca juga: BMKG sebut potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia

Dwikorita menyampaikan saat ini di Indonesia sedang menghadapi la nina, yaitu aliran massa udara basah akibat suhu muka air laut di Samudera Pasifik yang lebih dingin dan di Indonesia lebih hangat sehingga terjadi aliran massa udara basah dari Pasifik ke Indonesia.

Menurut dia dampaknya di Indonesia bervariasi dari segi tempat dan waktu, untuk bulan November 2020 hampir seluruh wilayah Indonesia terkena dampak berupa peningkatan curah hujan dalam satu bulan, khususnya di Jawa.

Kemudian bulan Desember 2020 sampai Februari 2021 akan berdampak di wilayah Indonesia bagian tengah, utara, dan bagian timur.

Baca juga: SLI berdampak peningkatan produktivitas petani

Ia menuturkan aliran massa udara basah ke arah Indonesia yang mengakibatkan peningkatan akumulasi curah hujan bulanan dan musiman, bervariasi antara 20 sampai 40 persen tergantung waktu dan arealnya.

Menyinggung hasil SLI di Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran Dwikorita menyampaikan hasil panen cabai secara umum mengalami peningkatan baik dari segi produksi maupun dari segi harga.

Ia menyampaikan waktu tanam di bulan Juli 2020 termasuk berani menghadapi risiko, karena tanam di musim kemarau.

"Namun keberanian petani menanam saat kemarau itu bukan karena nekad, tetapi berdasarkan data informasi dari BMKB musim kemarau kemarain adalah kemarau basah sehingga petani berani menghadapi risiko. Istilahnya petani melawan arus sehingga meskipun kemarau hasilnya melimpah," katanya.

Bahkan, saat panen cabai ini harga melambung mencapai Rp27.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp9.000-10.000 per kilogram.