BMKG Juanda: Waspada Hujan pada Sore Hari di Surabaya

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG) Juanda menyebutkan kota Surabaya pada siang hari ini terpantau cerah berawan, Kamis (13/2/2020).

Prakirawan BMKG Juanda, Huda mengatakan, pada sore hari Surabaya diprediksi turun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Hujan yang diprediksi turun tersebut juga disertai dengan petir.

"Suhu udara berkisar antara 25 – 32 derajat celsius,” kata Huda kepada Liputan6.com Kamis, 13 Februari 2020.

Huda juga mengatakan, angin datang dari arah barat dengan kecepatan 5 – 30 Km/jam. Kelembaban udara di Surabaya, Jawa Timur mencapai 65 – 95 persen.

BMKG Juanda mengimbau untuk masyarakat untuk terus waspada dan berhati-hati saat musim hujan. Ini karena hujan yang diprediksi intensitas ringan hingga sedang disertai petir.

"Waspada, potensi hujan masih tinggi di Surabaya. Terus berhati-hati dan mengikuti info cuaca," kata dia.

Melansir dari laman resmi BMKG Juanda, hampir semua kecamatan di Surabaya berpotensi hujan dengan petir, tapi untuk kecamatan Pakal hanya hujan lokal.

Selain Surabaya, beberapa daerah di Jawa Timur pun sudah turun hujan seperti Banyuwangi, Batu, Bondowoso, Jember, Kabupaten Blitar, Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kota Blitar, Kota Malang, Kota Probolinggo, Lamongan, Pacitan, Ponorogo, Sidoarjo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.

 

(Shafa Tasha Fadilla-Mahasiswa PNJ)

BMKG: Puncak Musim Hujan hingga Maret

ilustrasi percikan hujan. (Pixabay)

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan cuaca ekstrem di Indonesia akan berlangsung hingga Maret 2020.

"Kalau menurut prediksi BMKG untuk wilayah Indonesia terjadinya cuaca ekstrem tidak serempak, silih berganti. Rata-rata puncak musim hujan Februari-Maret, khusus DIY dan Jateng berlangsung pada Januari-Februari," kata Kepala BMKG Dwikora Karnawati di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa 11 Februari 2020.

Selanjutnya, ujar dia, di kisaran April-Mei sudah memasuki musim kemarau, transisinya adalah pancaroba.

"Untuk ancaman bencananya beda lagi, bukan longsor atau banjir tetapi angin puting beliung. Imbauan kami agar ini bisa diwaspadai oleh seluruh pihak," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang Tuban Wiyoso mengatakan lebih awalnya cuaca ekstrem yang menjangkau Jawa Tengah dibandingkan wilayah lain karena cuaca di Jawa lebih didominasi oleh pengaruh angin monsun.

"Ini terjadi pada kurun waktu Desember-Februari, puncaknya Januari-Februari. Angin monsun sendiri merupakan angin yang bertiup dari Asia ke wilayah Indonesia. Seperti angin darat, yaitu angin laut tetapi skala musiman, ini dipengaruhi oleh posisi matahari," katanya seperti dikutip dari Antara.

 

 

Potensi Bencana hingga Merata

ilustrasi genangan hujan. (source: wrightouttanowhere.files.wordpress.com)

Sementara itu, terkait dengan potensi bencana pada musim pancaroba, dikatakannya selain angin puting beliung, ada bencana lain yang wajib diwaspadai yaitu angin kencang, petir, dan hujan lebat yang datang tiba-tiba.

Mengenai daerah yang berpotensi terkena bencana tersebut, dikatakannya, cenderung merata.

"Kalau Jawa Tengah itu angin kencang merata, tidak milih wilayah. Kemarin juga sudah dimulai angin puting beliung karena sempat ada jeda hujan sebentar, itu masa transisi," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini